Selasa, 28 Juni 2016

Puasa dan Perilaku Berduri

Puasa dan Perilaku Berduri

Ahmad Baedowi ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                              MEDIA INDONESIA, 20 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

HIKMAH puasa tak pernah bisa dihitung siapa pun, bahkan oleh banyaknya jumlah makhluk hidup yang ada di muka bumi. Karena itu, ketika orang menulis soal manfaat, hikmah, dan juga keutamaan ibadah puasa, banyak seperti terasa mengulang-ulang. Yang diperbincangkan biasanya berhubungan dengan aspek kesehatan, besarnya pahala, serta momentum untuk memperbaiki perilaku diri. Pendek kata, ibadah puasa terasa seperti makhluk asing yang datang setahun sekali selama sebulan penuh karena kehadirannya lebih banyak ditanggapi dengan pemaknaan yang formal.

Ibadah puasa adalah ibadah yang tidak mementingkan aspek ritual formal. Laku puasa tak ada yang bisa mendeteksi kecuali kita dan Tuhan saja yang tahu apakah hari itu kita berpuasa atau tidak. Bahkan lebih jauh dari itu, jika dibaca lebih dalam tentang syarat-syarat ibadah puasa secara fiqiyah, didapati begitu banyak perangkap yang dapat menjadikan seseorang itu batal puasanya. Misalnya, tak bisa menahan pikiran untuk selalu negative thinking ke orang lain, tak mampu menahan mata untuk melihat hal-hal yang dilarang, serta tetap berbohong kepada orang lain dan diri sendiri. Kita tahu pada hari itu ada aturan yang kita langgar, tetapi kita tetap saja berpuasa seolah-oleh Tuhan tidak tahu.

Salah arah antena puasa

Kesalahan fundamental umat Islam dalam menjalankan puasa saat ini ialah tak tepatnya antena tujuan berpuasa diarahkan. Antena hati dan pikiran lebih banyak ke arah konsumtif dan duniawi, seperti mengingat saat berbuka dan sahur, yang dibesarkan ialah jenis makanannya. Persiapan mudik Lebaran, seoalah-olah itu ialah persyaratan berpuasa yang tak boleh ditinggalkan. Semua orang berbondong-bondong menuju mal dan pusat-pusat perbelanjaan hanya demi membela keinginan ragawi untuk dirinya, anak-anaknya, serta orangtua dan kerabatnya. Antena tujuan berpuasa yang sudah salah arah sejak awal ini menjadi semakin akut dari hari ke hari hingga tahun ke tahun.

Posisi antena berpuasa kita setiap tahun tak pernah berubah karena antena diikat kesemuan duniawi yang lama-lama menjadi karat dan susah untuk digerakkan kembali agar arahnya berubah. Jika kesenangan duniawi bisa diinflitrasi pengetahuan dan juga keterampilan yang seolah-olah telah menuntun kita ke arah yang benar, kita lupa bahwa dalam setiap perilaku ternyata bukan hanya dipengaruhi pengetahuan dan keterampilan yang kita butuhkan, melainkan juga niat yang laksana antena, tak pernah diubah sama sekali arahnya. Padahal, niat ialah pangkal perilaku yang sebenarnya, yang seharusnya bisa diubah setiap saat melalui kesadaran diri.

Jika perilaku sudah berduri, niat pun akan ditumbuhi duri yang sama.
Begitulah kira-kira jika puasa kita hanya tertuju dan berpangkal pada pikiran semata. Perihal perilaku berduri, ada metafor yang sangat baik dari Jalaluddin Rumi dalam salah satu puisinya di Matsnawi (1240-1246).

'Ingatlah rumpun berduri itu setiap kebiasaan burukmu

Berulang kali tusukannya menyobekkan kakimu

Berulangkali kamu terluka oleh akhlakmu yang keji

Kamu tak punya perasaan, bebal dan keras hati

Jika terhadap luka yang kamu torehkan pada orang

Yang semua dari watakmu yang garang

Kamu tak peduli, paling tidak pedulikan lukamu sendiri

Kamu menjadi bencana bagi semua orang dan diri sendiri

Ambillah kapak dan tebas layaknya lelaki

Runtuhkan benteng Khaibar, laksana Ali'


Puisi Jalaludin Rumi di atas sesungguhnya berkisah tentang seorang penduduk Konya yang punya kebiasaan aneh. Ia suka menanam duri di pinggir jalan. Setiap hari kerjanya menanam duri. Lama kelamaan, pohon duri yang ia tanam menjadi besar. Awalnya orang-orang yang lewat jalan itu tidak merasa terganggu oleh duri-duri. Mereka baru mulai protes setelah duri itu mulai bercabang dan mempersempit jalan yang dilalui mereka. Hampir setiap orang pernah tertusuk duri itu. Yang menarik lagi, bukan orang lain saja yang terkena tusukan duri. Si penanamnya pun berulang kali tertusuk duri tanaman yang ia pelihara.

Petugas kota Konya lalu datang menegur orang itu dan memintanya agar menyingkirkan tanaman berduri dari jalan. Si penanam enggan untuk menebang tanamannya. Namun, setelah banyak orang yang protes, akhirnya ia berjanji menebang tanaman itu keesokan harinya. Namun, ternyata pada hari berikutnya, ia menunda pekerjaannya. Demikian pula hari berikutnya. Hal itu berlangsung terus-menerus hingga akhirnya orang itu sudah menjadi sangat tua dan tanaman berduri itu sudah menjadi pohon yang sangat kukuh. Orang tua itu sudah tak sanggup lagi untuk mencabut pohon berduri yang ia tanam.

Dalam bahasa sederhana, Jalaludin Rumi sesungguhnya sedang menasihati kita, "Kalian, wahai orang-orang yang malang, adalah penanam duri. Tanaman berduri itu adalah kebiasaan dan sifat buruk kalian, perilaku tercela yang selalu kalian pelihara dan sirami. Karena perilaku buruk itu, banyak sudah yang menjadi korban dan korban yang paling menderita adalah kalian sendiri. Karena itu, jangan menunda menebang duri itu. Ambillah kapak dan tebang duri-duri itu sekarang agar orang bisa melanjutkan perjalanan tanpa terganggu olehmu."

Marilah kita arahkan sekarang juga antena berpuasa kita untuk menebang tanaman berduri di dalam diri kita untuk meminimalkan nafsu jahat kita, perilaku binatang kita, dan perbuatan-perbuatan kotor lainnya, tanpa sedikit pun melihat unsur keduniawian dalam berpuasa. Puasa benar-benar bertujuan mengarahkan kembali harkat kemanusiaan kita yang sesungguhnya mudah untuk terintimidasi oleh kesenangan duniawi.

Mencabut akar berduri dalam diri hanya bisa dilakukan laku puasa yang benar, yang tak berharap pada banyaknya pahala, tetapi berniat untuk mengubah orientasi kehidupan ini menjadi lebih berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Seperti kata Allah, "Puasa itu untuk-Ku, dan hanya Aku yang paling tahu apakah seseorang itu berpuasa karena Aku atau bukan."
Wallahualambissawab.