Senin, 27 Juni 2016

Arti Penting Al Baghdadi bagi Survival ISIS

Arti Penting Al Baghdadi bagi Survival ISIS

Ibnu Burdah ;   Pemerhati Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga
                                                       JAWA POS, 20 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SEJUMLAH media mengabarkan tewasnya Khalifah ISIS Abu Bakar Al Baghdadi dalam serangan udara sekutu terhadap kelompok itu di Kota Raqqa, Syria. Itu terjadi tak lama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengancam ISIS setelah tragedi penembakan klub gay di Orlando yang membuat harga diri Negeri Paman Sam tercoreng.
Namun, hingga artikel ini ditulis pada Minggu (19/6), belum ada sumber meyakinkan yang menyatakan kebenaran dugaan tersebut. Beberapa kantor berita Timur Tengah yang biasanya terdepan dalam pemberitaan tentang ISIS juga belum mengonfirmasi.
Tapi, jika berita tersebut benar, itu adalah pukulan telak terhadap upaya keras kelompok teroris tersebut untuk mempertahankan diri di tengah-tengah serangan gencar kekuatan nasional Iraq, kawasan, dan internasional. Apalagi, dikabarkan sejumlah petinggi kelompok tersebut juga telah tewas. Seperti Abu Muslim Al-Turkmani (wakil khalifah), John Jihadi, dan sejumlah "menteri".
Sang Khalifah
Bagi ISIS, Al Baghdadi adalah tokoh yang memiliki peran begitu sentral. Dia adalah pusat kekuasaan. Pusat otoritas. Bukan hanya masalah "duniawi", tapi juga keagamaan. Dia adalah simbol "kejayaan" dan harapan kelompok brutal itu. Dia adalah "khalifah" sekaligus panglima perang tertinggi. Dia adalah "ideolog" sekaligus ahli strategi.
Karena itu, pengaruh kematian tokoh tersebut, andaikata berita itu benar, akanlah sangat besar terhadap keberlangsungan kelompok tersebut. Pengaruh kematian Baghdadi bagi ISIS melampaui kematian Osama bin Laden di tangan tentara AS beberapa tahun lalu bagi Tanzim Al Qaeda. Karisma dan kepemimpinan Baghdadi jauh lebih kuat daripada kepemimpinan Osama di Al Qaeda.
Pasca kematian Bin Laden, Al Qaeda segera memperoleh pemimpin baru yang relatif sepadan, yakni Ayman Al Zawahiri. Bahkan, dari sisi wibawa dan kemampuan keagamaan, Zawahiri jauh lebih kuat ketimbang Osama yang berlatar belakang "hanya" seorang tajir. Osama semasa hidupnya memang memegang komando kepemimpinan. Namun, dia tak berada di medan tempur.
Baghdadi sama sekali berbeda. Dia dikenal sebagai ahli strategi yang aktif di tengah-tengah medan perang bersama anak buahnya. Dia juga seseorang yang alim di bidang ilmu agama Islam sekaligus dai dan khatib yang begitu meyakinkan.
Menyaksikan tayangan video khotbah pertamanya, saya sebagai guru bahasa Arab bisa mengerti kekuatan "hipnotis" kata-kata Baghdadi. Dalam khotbah itu, dia berbicara kepada umat sedunia tak ubahnya Abu Bakar As Siddiq atau Umar bin Khattab yang dikenal sebagai penerus Rasul yang mendapat petunjuk (al-khulafa' al-Rasyidun) dan memperoleh amanah begitu besar dari umat.
Secara psikologis, kematian Baghdadi, sekali lagi jika itu benar, akan menjadi guncangan hebat bagi kelompok yang mengandalkan militansi buta para pengikutnya tersebut. Apalagi, saat ini kelompok itu sedang menghadapi tekanan luar biasa besar. Baik di Iraq maupun Syria. Mereka sedang menjalani pertempuran yang menentukan bagi survival mereka di banyak titik pertempuran. Termasuk di Fallujah, Mosul, dan Raqqa.
Nasib negara (khilafah) yang sedang dibangun kelompok itu bersama sang pemimpin besarnya sudah menjelang runtuh. Padahal, negara tersebut baru dua tahun diproklamasikan. Apalagi jika serangan-serangan udara sekutu sekarang sudah menyasar berbagai tempat paling strategis di Mosul dan Raqqa.
Sangat mungkin kelompok itu akan menggunakan penduduk Kota Mosul dan Raqqa yang padat sebagai perisai hidup. Mereka dipastikan sudah tak bisa "memerintah" daerah-daerah di luar konsentrasi kekuatan mereka di Mosul dan Raqqa.
Tidak Mati
Namun, kalaupun ISIS runtuh, pikiran dan ajaran Al Baghdadi dipastikan tak segera mati. Keberanian dan kenekatan tokoh tersebut dan kelompoknya telah menjadi inspirasi orang-orang yang memiliki pikiran radikal di dunia. Sebagaimana Al Qaeda, kelompok itu dipastikan memiliki pengikut setia di banyak negara di dunia Islam, bahkan di negara-negara Barat.
Orang-orang yang terus loyal terhadap pusat komando kelompok tersebut diyakini masih sangat besar. Mereka adalah kelompok-kelompok di "provinsi" ISIS yang menguasai sebagian teritori di berbagai negara di luar Iraq dan Syria. Misalnya Libya, Yaman, Sinai (Mesir), Afghanistan, dan seterusnya.
Ada kemungkinan wilayah-wilayah itu akan menjadi ibu kota baru bagi ISIS jika ibu kota Mosul dan Raqqa tumbang. Mereka juga masih memiliki sel-sel yang tersebar di hampir semua negara di dunia.
Keterdesakan mereka di Iraq dan Syria serta kematian Baghdadi mungkin akan melecutkan semangat sel-sel ini untuk melakukan aksi teror di berbagai negara. Aksi teror itu setidaknya dimaksudkan untuk mengirim pesan bahwa mereka masih ada.
Ada kemungkinan pula kelompok tersebut tak lagi melakukan aktivitas secara terkonsentrasi di wilayah tertentu sebagaimana selama dua tahun ini. Mereka berpeluang kembali mengikuti perjalanan sejarah organisasi induknya menjadi jaringan teroris internasional yang beroperasi di banyak negara. Dengan agenda utama anti-Barat dan anti-Syiah, tanpa penguasaan teritorial tertentu. Wallahu a'lam.