Rabu, 29 Juni 2016

Bonus Demografi dan Masyarakat Kelas Menengah Indonesia

Bonus Demografi dan

Masyarakat Kelas Menengah Indonesia

Arissetyanto Nugroho ;   Rektor Universitas Mercu Buana Jakarta
                                              MEDIA INDONESIA, 29 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

TAHUN 2010, 2020, sampai 2030-an, Indonesia mengalami masa transisi ketika penduduk produktif semakin banyak jumlahnya jika dibandingkan dengan penduduk yang tidak produktif. Fenomena ini dikenal sebagai bonus demografi. Struktur penduduk seperti ini menguntungkan pemerintah karena penduduk usia produktif yang dapat berperan serta di dalam pembangunan jumlahnya semakin banyak jiak dibandingkan dengan yang tidak produktif. Sesuai dengan rasio ketergantungan pada 2010, rasio Indonesia ialah 51,3%, artinya 100 orang usia produktif menanggung 51 orang usia tidak produktif. Struktur penduduk yang menguntungkan ini terjadi karena periode 1970, 1980, dan sampai akhir 1990-an, pemerintah telah berhasil menurunkan tingkat kelahiran penduduk (fertilitas), meningkatkan kualitas pendidikan, serta kesehatan penduduk Indonesia.

Penduduk yang lahir pada 1970, 1980, sampai akhir 1990-an pada saat ini merupakan penduduk dengan usia produktif dengan umur 50-40-30-20 tahun yang mayoritas berpendidikan serta memiliki kesehatan yang bagus. Penduduk ini jumlahnya semakin banyak dan dikenal dengan masyarakat kelas menengah. Terminologi masyarakat kelas menengah digunakan seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita Indonesia yang sudah melampaui $3.000 per tahun sejak 2010.

Prediksi bahwa Indonesia akan masuk ke masyarakat kelas menengah sudah disampaikan oleh majalah Economist, majalah ekonomi internasional terbitan London yang dibaca oleh berbagai latar belakang penduduk dunia. Economist (1993) menyampaikan prediksi bahwa pada 2000, "Indonesia, once a pauper among nations, should have joined the emergent middle class." Pauper merupakan sinonim untuk bankrupt, poor, dan indigent, yang artinya bangkrut dan miskin. Pernyataan Economist ini dapat dimaknai bahwa Indonesia yang sebelumnya miskin dan bangkrut berhasil menjadi negara kelas menengah pada 2000.

Economist menyampaikan bahwa prediksi Indonesia masuk menjadi kelompok kelas menengah terjadi karena pencapaian pembangunan yang luar biasa (remarkable) karena sejak 1967, pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 7%, pada 1960 ada sekitar 70% penduduk Indonesia masuk ke kelompok masyarakat miskin dan persentase ini menurun dengan cepat sampai pada 1990 yang mencapai hanya 15%.

Pencapaian ini diperoleh dengan kerja keras, khususnya di dalam membangun desa dan sektor pertanian yang menopang perekonomian Indonesia seiring dengan besarnya persentase penduduk Indonesia yang berada di desa dan bekerja sebagai petani di periode awal 1970, 1980. Seiring dengan kerja keras, segenap pihak dalam memberantas kemiskinan, prestasi dalam mengentaskan kemiskinan ini memperoleh penghargaan dari UNDP pada 1997 yang diberikan pertama kalinya kepada presiden atau tokoh dunia.

Selain pertanian, program pendidikan sejak 1970 dimulai seiring dengan pencanangan program Wajib Belajar 6 tahun serta pembangunan sarana dan prasarana SD, didukung dengan perbaikan kualitas guru dan kurikulum yang telah berhasil memberantas buta huruf, dan meningkatkan pendidikan masyarakat miskin di Indonesia. Bahkan pada 1993, sudah 90% penduduk Indonesia yang memiliki pendidikan minimal SD. Atas prestasi ini, Presiden Soeharto diberikan penghargaan The Avicenna Award dari UNESCO dalam Pembangunan Bidang Pendidikan untuk Rakyat. UNESCO juga menjadikan Indonesia sebagai studi kasus untuk dicontoh dalam pembangunan pendidikan di negara-negara berkembang.

Program kesehatan yang dilaksanakan periode 1970, 1980, sampai 1990-an juga telah berhasil meningkatkan kualitas kesehatan penduduk Indonesia. Angka Harapan Hidup penduduk Indonesia meningkat dari 47 tahun (1966) menjadi 67 tahun (1997). Program imunisasi untuk mencegah kematian bayi juga telah mengurangi angka kematian bayi dari 1971, yaitu 142 bayi per 1000 bayi, berkurang pada 1980 menjadi 112 bayi per 1000 bayi, dan berkurang lagi pada 1985 menjadi 75 per 1000 bayi.

Secara total, angka kematian bayi periode 1971 sampai 1985 telah berkurang setengahnya, Selain itu, ada gerakan ASI, gerakan Sadar Gizi untuk masyarakat di desa-desa miskin Indonesia, serta pembangunan Puskesmas dan Posyandu yang berhasil meningkatkan kesehatan seluruh penduduk Indonesia. Atas kinerja pencapaian dalam meningkatkan kesehatan seluruh masyarakat Indonesia, WHO memberikan penghargaan Health for All Golden Medal Award pada 1991.

Bonus demografi yang kita nikmati saat ini juga tidak lepas dari program Keluarga Berencana yang dimulai pada periode 1970, 1980. Program ini berhasil menekan angka kelahiran dan prestasi dalam menekan angka kelahiran penduduk, juga memperoleh penghargaan dari UN dengan penghargaan yang diberikan pada 1989, yaitu United Nations Population Award serta penghargaan Global Statesman in Population Award yang diberikan organisasi internasional The Population Institute.

Saat ini kita merasakan bahwa proses yang dilakukan 20-30-40 tahun yang lalu telah terbukti mengembangkan kesejahteraan Indonesia, mengangkat harkat dan martabat Indonesia dari negara miskin dan bangkrut menjadi negara kelas menengah. Selain itu, sejarah juga mencatat organisasi-organisasi internasional telah memberikan penghargaan di dalam periode 1980 akhir dan 1990-an untuk pencapaian Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soeharto dalam upaya meningkatkan pendidikan, meningkatkan kesehatan, serta mengurangi penduduk yang miskin. Penghargaan dari organisasi internasional ini ialah apresiasi masyarakat internasional untuk Indonesia dan Presiden Soeharto yang memimpin Indonesia di dalam periode pembangunan.

Saat ini, seiring dengan berkembangnya masyarakat kelas menengah serta bonus demografi yang kita peroleh, sudah saatnya kita sebagai bangsa memberikan penghargaan atas kinerja dan hasil pembangunan yang dilakukan 20-30-40 tahun lalu dengan menghargai jasa-jasa para pemimpin kita, khususnya Presiden Soeharto. Presiden Soeharto tentunya tidak mengharapkan penghargaan dari organisasi internasional ketika memulai program-program prorakyat yang dilakukan mulai 1970-80-90an, tetapi sebagai seorang pemimpin Indonesia yang berkarya untuk Indonesia, penghargaan yang bernilai ialah penghargaan dari masyarakat internasional serta penghargaan dari rakyat Indonesia atas kinerja dan prestasi dalam meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia.