Kamis, 30 Juni 2016

Tiga Macam Ceramah Agama

Tiga Macam Ceramah Agama

Komaruddin Hidayat ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                   KORAN SINDO, 24 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dari sisi materi dan gaya penyampaian, saya amati terdapat tiga macam ceramah agama. Satu, ada ceramah yang memilih ayat Alquran maupun hadis yang nada dan kesannya menakut-nakuti.

Penuh dengan ancaman dan kemarahan Tuhan karena manusia tidak menaati ajaran Allah dan Rasul- Nya. Biasanya mereka akan mengutip sabda Nabi, ini semua merupakan fenomena zaman akhir yang sudah diprediksi Rasulullah.

Dalam hal ibadah pun umat beragama telah melakukan bid’ah. Menjalankan praktik ibadah yang tidak dicontohkan Rasulullah. Itu termasuk bid’ah dan semua bid’ah membawa pelakunya ke neraka. Dalam hal ibadah mesti persis mengikuti contoh Rasul.

Beberapa ustaz bahkan memasukkan tahlilan dan yasinan bagi keluarga yang ditinggal mati juga bid’ah. Itu sesat karena Nabi tidak melakukannya. Termasuk juga salawatan ramai-ramai dengan dilagukan juga bid’ah karena Nabi tidak mencontohkan.

Jika dibuka memang banyak hadis yang mengesankan bahwa melaksanakan ajaran agama itu berat. Surga itu sangat sulit untuk diraih. Jika melanggar larangan-Nya akan hapus semua ibadahnya.

Belum lagi ancaman siksa kubur akibat perbuatan yang tampaknya sepele ketika dilakukan di dunia, tetapi berakibat fatal di akhirat kelak. Misalnya memotong dahan pohon tetangga.

Atau kencing di sembarang tempat. Atau utang yang belum dibayar, sekecil apa pun utangnya. Semuanya akan mendatangkan siksa kubur. Dalam Alquran memang banyak ayat yang bernada ancaman, mewakili sifat Allah yang maha perkasa dan menghukum.

Di sisi lain, ada ceramah keagamaan yang memberikan kabar gembira. Surga itu tidak terlalu sulit diraih. Lalu dikemukakan beragam formula dan hadis. Misalnya siapa yang sudah bersyahadat dan hatinya tetap beriman kepada Allah, maka dijamin masuk surga.

Siapa yang selalu membiasakan zikir dan bersalawat di pagi dan petang hari akan dijauhkan dari neraka. Cerita yang populer adalah seorang pelacur yang masuk surga gara-gara berbagi air minum dengan anjing yang mau mati karena kehausan.

Lalu siapa yang melakukan puasa dengan penuh iman, bersihlah seluruh dosanya. Bagaikan anak kecil yang baru terlahir. Siapa yang berhaji dan berumrah karena Allah, pintu surga sudah terbuka baginya.

Demikianlah seterusnya sehingga masyarakat seakan disuguhi pilihan, mau mendengarkan ceramah agama yang penuh kabar gembira dengan menghadirkan wajah Allah yang maha pemurah dan pengampun ataukah wajah Allah yang kejam (muntaqim) dengan siksa-Nya yang pedih.

Saya juga mengamati ceramah dan doa dilingkungan masjid dan di lingkungan pejabat tinggi atau keluarga gedongan. Di masjid sering kali khatib seakan memarahi jamaah.

Bahasanya lantang, keras, dan mengkritik mengapa umat Islam ketinggalan dari umat dan bangsa lain. Karena bodoh, malas, beragama hanya main-main, beragama hanya keturunan. Agama untuk modal mengejar jabatan politik. Itu semua merupakan tindakan memperolok-olok agama. Dan tempatnya di neraka.

Namun sering kali saya mengamati ceramah di hadapan pejabat tinggi, bahasanya sopan, tertata baik, dan dalil-dalil yang dikemukakan serbamenggembirakan pendengarnya. Misalnya sabda Rasulullah yang memuji umat yang hidup setelah zaman beliau.

“Mereka tidak kenal aku, tetapi mengikuti ajaranku. Maka pahala keberagamaan mereka jauh lebih tinggi daripada mereka yang mengenal langsung denganku.”

Hadis ini berbeda kesannya dengan prediksi bahwa zaman akhir itu dunia semakin rusak. Umat Rasulullah akan terbagi menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang masuk surga. Makanya penduduk surga itu nantinya lebih sedikit daripada penghuni neraka.

Namun ada pula penceramah yang lebih menekankan sifat kuasa dan kasih Allah. Dengan mengutip ayat Alquran dan hadis Nabi, kasih sayang Allah itu mengatasi kemarahan-Nya.

Jadi setiap orang bisa optimistis masuk surga semuanya mengingat luas surga itu melebihi luas langit dan bumi sehingga mampu menampung seluruh penduduk bumi.