Minggu, 26 Juni 2016

BRIsat: Era Baru Teknologi Komunikasi Bank

BRIsat: Era Baru Teknologi Komunikasi Bank

Sunarsip ;   Pengamat Perbankan
                                                   KORAN SINDO, 15 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Jumat, 17 Juni 2016, akan menjadi hari bersejarah bagi industri perbankan nasional. Saya katakan demikian karena salah satu pemain penting di industri perbankan, yaitu Bank BRI, hari itu meluncurkan BRIsat atau Satelit BRI.

Bagi saya, peluncuran BRIsat tidak sekadar terobosan BRI untuk meningkatkan efisiensi biaya teknologi informasi perseroan, melainkan juga terobosan besar bagi industri perbankan di Indonesia maupun dunia. BRI menjadi satu-satunya bank di dunia yang memiliki satelit sendiri. Era digital saat ini, masyarakat perbankan tentu akan semakin sadar, teknologi dan ekspektasi terhadap kemudahan, kecepatan, dan keamanan transaksi meningkat.

Perkembangan teknologi informasi yang cepat, mau tidak mau, turut memengaruhi perubahan proses bisnis perbankan. Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi internet dan smartphone turut memengaruhi kebutuhan metode transaksi perbankan dari konvensional menuju penggunaan echannel dan internet banking. Untuk mendukung fenomena ini, sarana jaringan komunikasi yang kuat dan andal mutlak diperlukan.

Saat ini kebutuhan jaringan komunikasi perbankan nasional pada umumnya dipenuhi melalui jasa provider seperti dengan sewa jaringan terestrial multiprotocol label switching (MPLS) dan sewa jasa satelit (very small aperture terminal/VSAT). Pemenuhan tersebut walaupun dengan service level yang memuaskan, juga memiliki keterbatasan kapasitas sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pengembangan bisnis, produk, dan jaringan perbankan.

Terlebih bagi bank sekelas BRI yang memiliki jaringan begitu luas sampai ke wilayah pelosok dan pulau terpencil. Sehingga, bila mengandalkan infrastruktur komunikasi yang ”konvensional”, akan membatasi ruang bagi BRI untuk pengembangan bisnis. Keterbatasan ketersediaan kapasitas ini disebutkan dalam kajian PT Telkom Indonesia.

Berdasarkan kajian Euroconsult dan Litbang PT Telkom pada APSAT 2013, seperti dikutip dari Annual Report 2015 Bank BRI, pada 2016 proyeksi kebutuhan total transponder Ku-band dan C-band adalah 420 transponder. Sementara itu, ketersediaan jumlah transponder pada 2016 hanya 253 transponder sehingga Indonesia masih kekurangan 167 transponder. Shortage transponder nasional ini akan terus meningkat karena secara proyeksi demand akan terus mengalami peningkatan.

Kapasitas penyelenggara satelit domestik Indonesia memang telah defisit sejak 10 tahun lalu, dan terus akan defisit dalam 7-9 tahun mendatang. Dengan jumlah pasokan nasional terbatas, ketergantungan perusahaan nasional terhadap jaringan komunikasi milik provider asing akan semakin tinggi.

Melihat perkembangan kebutuhan jaringan komunikasi dan semakin tingginya biaya sewa yang harus dikeluarkan, bagi BRI pembelian satelit memang bisa menjadi solusi bagi pemenuhan kebutuhan jaringan komunikasi mereka. Selain meningkatkan kecepatan operasional dan kemudahan akses layanan perbankan, pembelian satelit diharapkan mampu mendukung program-program pemerintah, khususnya dalam peningkatan inklusi keuangan (financial inclusion) masyarakat. Bagi BRI dan masyarakat perbankan secara luas, keberadaan BRIsat ini akan memberikan sejumlah manfaat.

Pertama, keberadaan BRIsat dapat memperbesar kapasitas jaringan komunikasi dengan area layanan yang luas. Berdasarkan Annual Report 2015 Bank BRI, BRIsat tidak hanya menyasar wilayah Indonesia, melainkan juga sampai ke Asia. Dapat diprediksi, BRI melalui BRIsat-nya ingin menyasar konsumen di luar negeri, khususnya Asia. Langkah ini kemungkinan diarahkan untuk meningkatkan layanan perbankan bagi masyarakat kita di luar negeri (TKI, mitra bisnis di Asia, dan lain-lain), sekaligus menjadi pintu masuk bagi BRI untuk memperluas jaringannya di Asia (sebagai bank internasional).

Kedua, mendorong peningkatan realisasi layanan perbankan berbasis teknologi untuk daerah terpencil yang lebih ekonomis. Keuntungan tentu akan didapat BRI. Secara nasional, keberadaan BRIsat ini akan mempercepat keinginan pemerintah dan otoritas perbankan untuk meningkatkan inklusi keuangan, khususnya di daerah-daerah terpencil yang selama ini akses mereka terhadap perbankan masih sangat rendah.

Ketiga, bagi BRI, selain meningkatkan efisiensi dalam penyediaan layanan perbankan elektronik, dapat dipastikan keberadaan satelit BRIsat akan menunjang kinerja operasional di seluruh jaringan BRI serta jaringan elektronik BRI. Keberadaan BRIsat yang peluncurannya telah dirintis sejak 2014 ini dapat meningkatkan efisiensi dan mendukung jaringan pelayanan berbasis e-channel. Keberadaan BRIsat ini juga akan dapat mendorong peningkatan layanan BRI kepada lebih dari 50 juta nasabahnya.

Teknologi Komunikasi vs Penetrasi Perbankan

Dukungan infrastruktur teknologi komunikasi memiliki arti sangat strategis bagi pengembangan bisnis perbankan. Harus diakui, terbatasnya kapasitas infrastruktur teknologi komunikasi yang kita miliki juga turut menjadi salah satu penyebab terbatasnya penetrasi perbankan kita, baik dari sisi pengembangan produk, jaringan, maupun layanan.

Berdasarkan survei McKinsey pada 2014, Indonesia merupakan negara di ASEAN-6 (Singapura, Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam) yang penetrasi perbankannya paling rendah. Ratarata konsumen bank di ASEAN-6 hanya memegang kurang dari tiga produk perbankan. Indonesia posisinya paling rendah dalam penetrasi produk perbankan, sedangkan Singapura paling tinggi.

Mayoritas konsumen bank di Singapura rata-rata memegang 5,72 produk bank. Sedangkan mayoritas konsumen bank di Indonesia memegang 2,16 produk bank. Dari rata-rata tersebut, sebanyak 71,4% konsumen bank di Indonesia memegang hanya 1-2 produk bank, sebanyak 22,5% konsumen bank memegang 3-4 produk bank.

Dengan kata lain, hanya 6,1% konsumen bank yang memegang lebih dari lima produk bank, tertinggal bila dibandingkan dengan Singapura (53,2%), Malaysia (20,5%), Thailand (13,6%), Filipina (8,8%), dan Vietnam (6,8%). Secara nasional, keberadaan BRIsat berpotensi mendorong peningkatan penetrasi perbankan nasional.

Kendati demikian, harus dipahami bahwa keberadaan BRIsat tidak sertamerta akan mendorong lompatan secara signifikan pengembangan bisnis perbankan nasional di kancah internasional, khususnya Asia. Ini mengingat, negara lain seperti Singapura perkembangan infrastruktur komunikasinya sebenarnya masih lebih maju. Setidaknya, keberadaan BRIsat ini memperpendek gap kekurangan infrastruktur teknologi komunikasi dengan bank-bank di negara lain.

Satu hal yang juga patut dicatat, pascapeluncuran BRIsat juga memunculkan tantangan baru bagi BRI. Dengan mulai beroperasinya satelit yang dioperasikan sendiri, BRI harus dapat menjawab harapan untuk mengoptimalkan keberadaan BRIsat guna peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan nasabah.

Namun, saya percaya, BRI akan mampu menjawab harapan tersebut. Jadi, selamat beroperasi BRIsat. Selamat datang juga era baru infrastruktur teknologi komunikasi perbankan nasional!