Selasa, 28 Juni 2016

Muhammadiyah, Harmonisasi Pikir dan Zikir

Muhammadiyah, Harmonisasi Pikir dan Zikir

Saifullah Yusuf ;   Wakil Gubernur Jawa Timur dan Ketua PB NU
                                                       JAWA POS, 27 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

HAMPIR setiap tahun saya mendapat kesempatan bertemu dengan para pengurus Muhammadiyah. Setiap bulan puasa, para pimpinan persyarikatan se-Jawa Timur itu berkumpul di Universitas Muhammadiyah Malang dalam sebuah forum kajian. Kajian itu selalu dihadiri para tokoh dari pimpinan pusat.

Kehadiran saya setiap tahun sejak tujuh tahun itu melengkapi pergaulan saya dengan sejumlah tokoh ormas Islam yang didirikan KH Ahmad Dahlan tersebut. Lantas, apa kesimpulan dari hasil pergaulan panjang dengan organisasi yang berdiri jauh hari sebelum kemerdekaan RI itu?

Sulit membayangkan Indonesia tanpa Persyarikatan Muhammadiyah. Persyarikatan itu ikut menyemaikan bibit pergerakan nasional yang kemudian melahirkan kemerdekaan.

Tak hanya sampai di situ. Sebagai persyarikatan modern, Muhammadiyah berada di garis depan dan berada di tengah pusat pusaran pembangunan Indonesia merdeka sebagai bangsa yang modern, beradab, dan bermartabat.

Hingga kini Muhammadiyah melanjutkan peran yang luar biasa dalam ikut membentuk Indonesia yang kita cita-citakan dan Jawa Timur yang kita dambakan. Jika kita rumuskan secara sederhana, kontribusi terpokok Muhammadiyah bagi Indonesia dan Jawa Timur adalah menyiapkan generasi yang diistilahkan dalam Alquran sebagai ulil albab, yakni orang-orang yang tercerahkan.

Secara sederhana, Alquran mendefinisikan ulil albab sebagai mereka yang bisa menjumpai dan belajar dari ayat-ayat Allah. Bukan hanya yang tersurat atau tekstual. Tetapi, juga yang tersurat melalui fenomena penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam (QS Ali Imran (3):190).

Lebih lanjut, Alquran memerinci ciri-cirinya sebagai berikut: "Yaitu, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi..." (QS Ali Imran (3):191).

Sejak awal berdiri Persyarikatan Muhammadiyah bukanlah sekadar "organisasi" (organization), melainkan sebuah "gerakan" (movement). Kesimpulan tersebut bahkan diperkuat melalui hasil riset salah seorang peletak dasar ilmu politik di Indonesia, yakni alm Dr Alfian, melalui disertasinya.

Muhammadiyah melakukannya lewat aktivitas pendidikan dan pengajaran, pelayanan kesehatan, pemberdayaan perempuan, penyejahteraan ibu dan anak, serta pembinaan generasi muda. Untuk melakukan itu, Muhammadiyah memiliki berbagai institusi atau lembaga pendukung yang luar biasa dilihat dari jumlah, sebarannya di Indonesia, serta cakupan masyarakat yang terlayani. Kita mengenalnya secara singkat sebagai "amal-amal Muhammadiyah".

Salah satu tujuan yang senantiasa terpelihara di balik penyelenggaraan berbagai amal persyarikatan itu adalah terbangunnya harmoni di antara pikir dan zikir. Juga, menyatunya identitas kesalihan ritual dengan sosial, terbangunnya kecerdasan intelektual, sosial dan emosional dengan kecerdasan spiritual.

Jika kita gambarkan melalui khazanah Alquran (QS An Nahl (16):11-15), harmonisasi pikir dan zikir yang senantiasa diikhtiarkan Muhammadiyah itu dapat digambarkan sebagai terbentuknya sejumlah kualitas berikut: Kemampuan memikirkan (tafakkarun); Kemampuan memahami (takqilun); Kemampuan mengambil pelajaran (tadzakkarun); Kemampuan bersyukur (tasykurun); dan Kemampuan untuk mencari dan mendapatkan petunjuk (tahfadun). ?Indonesia dan Jawa Timur membutuhkan orang-orang yang tercerahkan yang memiliki kualitas-kualitas tersebut di atas. Sejarawan besar dari Inggris, Arnold Toynbee, dalam salah satu teorinya menyatakan, orang seperti itu sebagai "minoritas kreatif".

Orang-orang yang tercerahkan atau minoritas kreatif itu adalah orang-orang yang menempatkan dirinya sebagai pelaku ketika orang-orang di sekeliling mereka secara keliru memosisikan diri sebagai penonton. Mereka tetap bisa memelihara optimisme dan harapan mereka di tengah orang-orang yang salah kaprah dengan berlomba-lomba pesimistis dan cepat berputus asa.

Orang-orang yang tercerahkan dan pemilik kualitas minoritas kreatif adalah mereka yang berhasil mengharmonisasi pikir dan zikir mereka. Orang-orang seperti itulah yang akan membuat Indonesia berjaya menjemput masa depannya yang gemilang.

Indonesia harus berterima kasih kepada Muhammadiyah karena tanpa lelah sejak zaman sebelum kemerdekaan terus mengontribusikan persyarikatannya untuk membentuk kualitas manusia Indonesia yang tercerahkan atau ulil albab itu.

Saya sendiri saat ini sedang menggalang sebuah gerakan bernama Gerakan Peduli Tetangga. Saya ingin kita sama-sama bergerak di level yang terbawah, dalam komunitas paling kecil dan bertumpukan orang per orang yang tidak bergantung pada orang lain dan menunggu peran orang lain. Saya ingin mengajak masyarakat Jawa Timur untuk aktif menjadi pencari jalan keluar dari masalah-masalah kecil dan sederhana dalam lingkungan terdekat dan terkecil mereka.

Gerakan Peduli Tetangga itu jelas membutuhkan minoritas kreatif, ulil albab atau orang-orang yang tercerahkan yang, antara lain, terus diupayakan pembentukannya oleh Muhammadiyah. Karena itu, bagi saya dan Muhammadiyah, sinergi bukan hanya kebutuhan tetapi kenisacayaan. Kerja sama di antara kami bukan cuma sebuah "kemungkinan yang terbuka", tetapi "keharusan dan amanat zaman yang harus kita ikhtiarkan".