Selasa, 28 Juni 2016

Borges dan Cerita yang Meragukan

Borges dan Cerita yang Meragukan

AS Laksana ;   Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                       JAWA POS, 27 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

ADA banyak penulis bagus di muka bumi, tapi bagi saya Jorge Luis Borges (1899–1986), penulis Argentina, adalah yang paling menjengkelkan.

Kita sudah sering mendengar atau membaca tuturan orang mengenai fiksi dan realitas. ”Masalah mendasar pada fiksi adalah ia harus bisa dipercaya. Realitas boleh saja tidak masuk akal,” kata Tom Wolfe, penulis dan wartawan sekaligus salah seorang pelopor New Journalism. Satu Tom lagi, yakni Tom Clancy, menyatakan hal yang kurang lebih sama.

Banyak contoh yang bisa kita sebutkan tentang hal itu. Misalnya, di dalam realitas seseorang bisa mendapatkan keberuntungan yang tidak diduga-duga. Dia bertemu teman lama yang memberinya pekerjaan seperti yang diinginkannya tepat saat dirinya membutuhkan pekerjaan itu.

Di dalam fiksi, jika Anda menceritakan orang yang terlunta-lunta mencari pekerjaan, kemudian mendapatkan begitu saja pekerjaan itu karena pemberian teman lama, fiksi Anda akan dianggap tidak masuk akal dan itu berarti fiksi yang buruk. Para pembaca tidak memercayai cerita yang tidak masuk akal dan mereka akan menganggap Anda penulis yang kurang sanggup menggunakan nalar.

Di dalam realitas, seseorang yang melakukan pembunuhan dan divonis penjara 24 tahun karena kejahatan yang dilakukannya bisa lancar-lancar saja mencalonkan diri menjadi ketua partai politik setelah menjalani masa hukuman hanya empat setengah tahun.

Kemudian, dia dipuja-puja oleh para penjilatnya dan orang-orang itu mendukungnya maju dalam pemilihan presiden. Dan dia betul-betul terpilih menjadi presiden. Seandainya hal itu terjadi di dalam fiksi, pembaca tidak akan percaya bahwa ada masyarakat sedungu itu, memilih seorang pelaku kejahatan menjadi presiden.

Realitas juga memberi kita fakta bahwa seseorang yang sedang dikurung di dalam sel penjara bisa terus menjadi ketua umum PSSI dan merasa tidak perlu mundur karena malu atau tertekan. Mungkin dia merasa tidak bersalah.

Tentu tidak selamanya hal-hal yang tidak masuk akal itu buruk. Ada juga hal baik yang tidak masuk akal di dalam realitas. Ketika saya menonton Unforgiven, garapan Clint Eastwood, saya tidak percaya bahwa itu betul-betul garapan dia.

Clint seumur hidup hanya bermain film tembak-tembakan dengan akting yang begitu-begitu saja, tidak banyak bicara dan lebih banyak menembak. Ketika dia menggarap film sendiri, menyutradarai dirinya sendiri sebagai pemain utama, ternyata filmnya bagus. Sulit dipercaya bahwa aktor yang sepanjang karirnya di dunia film hanya menembak ke sana kemari itu bisa membuat film bagus.

Film tersebut beredar pada 1992 dan saya menyangka itu film pertama Clint Eastwood. Rupanya, itu film ke-16 dia. Jadi, sambil menembak ke sana-kemari, Clint Eastwood sudah menyutradarai 15 film –tidak satu pun saya kenal– sebelum melahirkan Unforgiven yang memberinya dua piala Oscar untuk film terbaik dan sutradara terbaik. Itu sebuah capaian yang tidak terduga. Skenario film tersebut selesai ditulis pada 1976 dan ditolak oleh siapa pun karena dianggap terlalu remeh serta kacangan.

Dari sebuah website, saya mendapatkan informasi bahwa Sonia Chernus, kolega Clint Eastwood dan seorang penulis skenario, menulis memo kepada Clint setelah membaca skenario Unforgiven. ”Sebaiknya kita buang saja barang sampah ini... Saya tidak menemukan secuil pun hal bagus di dalamnya. Jadi, saya kira lebih baik kita lupakan saja,” tulisnya.

Clint menyepakati saran tersebut dan tidak pernah membaca skenario itu. Kemudian, saat mencari cerita untuk film baru yang akan dikerjakan, dia membaca The Cut-Whore Killings –judul awal Unforgiven– dan tertarik untuk memfilmkannya. Dia tidak menyadari bahwa skenario itulah yang dimaksud oleh Sonia Chernus.

Pada 2003 dia melahirkan satu lagi hal yang tidak masuk akal. Dia menyutradarai Mystic River, dan bagus lagi. Film itu meraih dua piala Oscar, satu untuk Sean Penn (aktor utama) dan satu lagi untuk Tim Robbins (aktor pembantu). Saya sudah percaya bahwa Clint Eastwood bisa membuat film bagus. Yang tidak masuk akal sekarang ini adalah Sean Penn.

Dia aktor kelas kambing dan mendapatkan perhatian dari media hanya karena suatu saat pernah menjadi suami penyanyi Madonna. Kualitas terbaik yang dia miliki di masa mudanya adalah mabuk-mabukan dan menghajar orang. Dalam Mystic River dia bermain sangat bagus. Saya bahkan tidak pernah berpikir bahwa dia bisa berakting.

Kadang saya merindukan realitas tidak masuk akal seperti itu. Saya pikir akan sangat menyenangkan ketika pada suatu hari, yang mungkin tidak akan pernah terjadi, mendadak ada kabar bahwa Eva Arnaz atau Mandra membuat film, dan film mereka bagus sekali.

Tetapi, kita jauh lebih sering mendapati hal-hal tidak masuk akal yang buruk. Mungkin itu konsekuensi wajar saja dari kondisi kita. Semakin awut-awutan sebuah masyarakat, ia akan melahirkan semakin banyak hal yang tidak masuk akal. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa terhadap realitas. Sebab, kehidupan dan realitas di dalamnya adalah ciptaan Tuhan. Setidaknya itulah yang diyakini mayoritas penduduk bumi.

Jadi, realitas boleh tidak masuk akal dan kita tidak bisa memprotesnya karena ia ciptaan Tuhan. Fiksi harus masuk akal karena ia ciptaan nalar manusia.

Realitas di dalam fiksi harus benar-benar dijaga sebab-akibat dan nalarnya serta struktur penceritaannya oleh si penulis. Rangkaian kejadian demi kejadian di dalamnya, seabsurd apa pun, harus bisa dipertanggungjawabkan dan masuk akal dalam logika fiksi itu.

Bahkan, dalam fiksi yang bukan realis pun, setiap penulis harus meyakinkan para pembacanya bahwa apa yang dia tulis itu benar-benar mirip ”kisah nyata”. Semua tokohnya bernyawa, berdarah, berdaging, dan memiliki kehendak masing-masing.

Di sinilah Borges berbeda dari kebanyakan penulis. Dia justru menulis cerita untuk membuat kita ragu apakah semua itu sungguh-sungguh terjadi atau tidak. Dia menuturkan setiap ceritanya dengan ketenangan dan wibawa orang yang memiliki banyak pengetahuan. Beberapa ceritanya menggunakan ayat Alquran sebagai kutipan pembuka. Sebuah cara menakjubkan untuk membuat kita percaya. Tetapi, kita tidak tahu apakah dia sedang berbohong atau menceritakan hal yang sungguh-sungguh terjadi.

 Saya jengkel sekali setiap selesai membaca cerita-ceritanya.