Minggu, 26 Juni 2016

Mitos Ketergantungan

Mitos Ketergantungan

Sawitri Supardi Sadarjoen ;   Penulis Kolom PSIKOLOGI Kompas Sabtu
                                                         KOMPAS, 25 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ketergantungan merupakan kata yang mengandung makna negatif. Kadang kita ungkap dengan istilah lain, seperti ”saling tergantung satu sama lain”. Seorang teman saya berpendapat, ”Secara faktual kita semua sebenarnya bergantung pada orang lain.”

Sebetulnya, masalah ketergantungan merupakan bagian dari kondisi manusiawi. Memang kita seolah berpura-pura untuk bersikap mandiri saat kita masih muda, sehat, kuat, dan kondisi pekerjaan kita baik. Namun, walaupun kehidupan kita berjalan mulus, kita semua bersandar pada berbagai pelayanan ganda, baik dalam hal sistem maupun berbagai struktur demi keberhasilan melalui keseharian dengan hasil optimal.

Kita tidak memperhatikan fakta tersebut pada saat kita berada dalam kondisi baik, seperti halnya para anggota sosial menengah ke atas. Namun, katakanlah jika komputer yang kita gunakan rusak, asuransi kesehatan kita mengalami penundaan, teman dekat kita pindah kota, mobil kita dicuri orang, dan kita tidak menemukan seorang dokter gigi pun saat tiba-tiba kita mengalami gangguan fungsi gigi. Dari kondisi tersebut kita justru menemukan kenyataan bahwa sebenarnya betapa kita sangat bergantung pada orang lain.

Budaya kita menekankan betapa kuatnya makna ketidaktergantungan yang akhirnya justru membuat diri kita malu, jika kita masih memiliki ketergantungan pada lingkungan di mana kita berada. Kita akan merasa malu, bahkan dipermalukan lingkungan, jika kebutuhan fisik dan emosi yang bersifat khusus kita penuhi melalui ketergantungan kita pada orang lain.

Untuk itu, Anne Finger mengungkap sebagai berikut: ”Kami memang membutuhkan tingkat kebergantungan tertentu, dan bukan ketergantungan untuk hal-hal lainnya”, misalnya, apabila kita membutuhkan mobil, tentu saja kita tidak akan membutuhkan kursi roda. Jika kita membutuhkan rambut tertata rapi, tentu saja kita juga butuh penata rambut, walaupun untuk mencuci tangan kita tidak membutuhkan perawat.

Sebagian orang merasa malu kalau harus menyatakan bahwa dirinya menderita suatu penyakit, atau mereka bahkan akan malu mengekspresikan keluhannya secara terbuka karena tuntutan lingkungan untuk bisa mengelola kesulitan demi tumbuh-kembang kepribadian kita seoptimal mungkin pada masa mendatang.

Memang benar bahwa pada dasarnya kebergantungan dan penderitaan merupakan komponen penting dalam kondisi kemanusiaan. Namun, aspek lain dari hal yang memalukan dari kondisi itu adalah kecenderungan kita memantapkan keyakinan lingkungan yang palsu, yang mengungkapkan bahwa manusia akan menjadi manusia tangguh, yang pasti mendapatkan jalannya sendiri untuk memperoleh kesehatan, kekayaan, dan kebahagiaan bagi dirinya tanpa harus melalui ketergantungan pada orang lain.

Padahal, pengalaman seseorang untuk berkesempatan mengungkapkan kelemahan dan kekurangannya menjadi faktor penting sebelum lingkungan memberikan pelajaran tentang betapa pentingnya kebutuhan kita akan pertolongan lingkungan demi tumbuh kembang kepribadian kita di kemudian hari. Betapa ”kebergantungan” di satu sisi sangat penting perannya.

Lelaki dan perempuan

Memang, tuntutan lingkungan budaya pada khususnya, pada lelaki, bahwa seyogianya lelaki tidak terlalu cepat memutuskan meminta arahan dan nasihat lingkungan jika mengalami masalah terkait dengan labilitas emosinya saat tertentu. Lelaki dituntut lebih mandiri dan tangguh dalam proses perkembangan kepribadiannya, tanpa banyak pengarahan dari lingkungannya.

Untuk itulah, pada masa lalu sedikit sekali lelaki datang untuk meminta bantuan psikoterapis, kecuali kalau didorong oleh istrinya. Namun, saat ini keadaan sudah jauh berbeda, banyak lelaki datang berkonsultasi terkait dengan, misalnya, relasinya dengan istrinya atau relasinya dengan atasannya.

Begitu pula halnya pada anak perempuan pertama dalam satu keluarga. Biasanya karena dituntut keluarga untuk menjadi orang kuat dan pelindung adik-adiknya, anak perempuan pertama merasa diri kurang tangguh apabila mengungkap kelemahannya kepada orang lain.
Padahal, setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Jadi, jika kita sedang berada dalam situasi labil, sebenarnya tidaklah tepat jika kita terpaku menjadi diri sendiri tanpa mengungkap perasaan kita, bahkan tanpa bergerak. Namun, sebagai suatu alternatif lain untuk mengatasi kondisi labilitas emosi kita tersebut, kita butuh bergerak dan berubah dalam sikap terhadap pemahaman kebergantungan saat ini, karena ternyata kita dapat memperluas perspektif lain saat kita mampu berbagi kesulitan tertentu dalam lingkungan pergaulan di mana kita berada.

Kita membutuhkan jalan untuk mengingatkan diri kita, sampai akhirnya kita mendapat insight baru yang merupakan kenyataan bahwa kita sebenarnya memiliki kemampuan yang selama ini terpendam untuk mengatasi labilitas emosi kita tersebut, yang baru akan terungkap saat kita mampu berbagi dengan lingkungan terbatas yang sejalan dengan nurani kita.

Hal lain yang perlu kita pertimbangkan, pada umumnya orang mengalami kesukaran untuk secara otomatis beralih dari kebiasaan yang tidak produktif, yang bisa disebabkan karena apabila kita merasa diri kita paling ”hebat”, sehingga kita berpikir bahwa tidak ada orang lain yang lebih mampu dari diri kita dalam mencari jalan keluar dari kesulitan yang kita hadapi. Dalam situasi seperti ini, kita seyogianya berlatih untuk berbagi dan mendiskusikan kelemahan-kelemahan kita seraya berhenti sejenak menjadi penasihat utama bagi orang lain.

Orang-orang yang cenderung merasa selalu berada di bawah kemampuan orang lain seyogianya mulai melakukan aktivitas yang mengandung arti sebaliknya, yaitu tidak mengungkap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan, tetapi mulailah menggali energi psikis dan kompetensi yang sebenarnya dimiliki, walaupun sebenarnya pada dasarnya pada saat itu kita tidak merasa cukup tangguh dalam mengatasi persoalan yang kita hadapi tersebut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebergantungan terhadap lingkungan pada batas tertentu memang sangat dibutuhkan.

Jadi, seyogianya mitos ketergantungan terhadap lingkungan dapat kita geser demi upaya memahami pola perilaku yang memungkinkan kita untuk menyempatkan diri menggali suara nurani yang lebih otentik, tentu saja kalau kita memiliki kemauan keras mempraktikkan hal-hal dan kemampuan-kemampuan yang pada dasarnya tidak datang secara alami, demi peningkatan kualitas hidup kita kelak di kemudian hari. Bravo!