Rabu, 29 Juni 2016

Puasa dan Jalan Sufi

Puasa dan Jalan Sufi

Ahmad Baedowi ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                              MEDIA INDONESIA, 27 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SUFI ialah orang yang mengerjakan sesuatu sebagaimana orang lain mengerjakannya--jika diperlukan. Ia juga orang yang mengerjakan sesuatu yang tidak dapat dilakukan orang lain-jika diminta. (Nuri Mojudi)

Puasa ialah kewajiban mahaberat bagi setiap individu karena sifat ibadah ini sangatlah individual. Jika salat, zakat, haji, dan ritual ibadah lain dapat dilihat secara kasatmata karena bentuk fisik dari ibadah tersebut bisa terlihat, tidak demikian dengan puasa. Puasa sungguh unik karena dalam berpuasa seharian penuh seseorang dapat saja mengaku berpuasa, padahal, misalnya, hari itu dia tidak berpuasa dan orang lain tidak tahu sama sekali soal kebenaran berpuasanya itu. Dalam praktik berpuasa, kejujuran diri seseorang benar-benar diuji karena hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu apakah hari itu dia berpuasa atau tidak.

Karena sifatnya yang sangat individual, ibadah puasa lebih tepat dikatakan sebagai cara Tuhan mengembalikan kesadaran manusia bahwa pangkal dan pokok setiap amal dan usaha kita ialah keikhlasan dan kejujuran diri. Aspek kesadaran intuitif dan afeksi dalam ibadah puasa sangat tinggi karena perilaku ini sesungguhnya gambaran moral setiap orang tentang hidup dan kehidupannya. Sama persis dengan tujuan pendidikan, hakikinya setiap guru selalu memegang kesadaran intuitif siswa sebagai target utama proses belajar-mengajar agar anak-anak memiliki karakter jujur sebagai fondasi perilaku mereka ketika berinteraksi dengan manusia dan lingkungannya.

Esoteris dan eksoteris

Dalam studi agama, istilah esoteris dan eksoteris selalu digunakan untuk menganalisis persamaan dan perbedaan antaragama. Frithjof Schuon (1987) ialah salah satu penggagas tentang relasi antaragama dengan menggunakan pendekatan ini.

Menurut Schuon, hidup ini mengandung tingkatan-tingkatan. Dari segi metafisik, hanya pada Tuhanlah tingkat tertinggi (adikodrati) dan terdapat titik temu berbagai agama, sedangkan di tingkat bawahnya, agama-agama tadi saling berbeda. Inilah yang memungkinkan kita memahami versi Schuon tentang perbedaan hakikat dan perwujudan agama yang sangat penting artinya, menurut pandangannya.

Dalam konteks puasa, tujuan seseorang berpuasa sebenarnya merupakan aspek esoteric, yaitu kenyataan terdalam dalam ibadah ini sepenuhnya merupakan kesadaran dan tanggung jawab setiap orang. Pada level yang sama, aspek esoteris ini juga harus menumbuhkan kesadaran moralitas tingkat tinggi bahwa kejujuran, akhlak yang baik, serta terbuka dan toleran merupakan aspekaspek instingtif dari setiap orang yang harus selalu digali melalui sebuah proses belajar. Sebagaimana halnya berpuasa, belajar juga sesungguhnya harus disadari sebagai proses penanaman moralitas di atas secara terus-menerus. Komunitas sekolah harus memiliki kesadaran esoteris dalam menjalankan proses belajar-mengajar.

Kenyataan yang kita hadapi saat ini justru sebaliknya, sekolah terlalu pekat dan tertuju pada aspek eksoteris tujuan pembelajaran, yaitu orientasi pada nilai dan hasil lebih mengemuka. Sekolah hanya dipandang sebagai kebutuhan duniawi tanpa ada rekayasa psikologis yang dapat menunjukkan hidup ada ujungnya, dan ujung dari kehidupan ialah kebaikan pada sesama manusia. Padahal, melalui berpuasa, seharusnya setiap guru, orangtua, dan siswa dewasa diajak untuk kembali kepada moralitas esoteris, moralitas yang menyebarkan benih-benih kejujuran sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad, nabi semesta alam. 

Nabi Muhammad ialah penganut jalan Sufi yang benar. Di saat dia kebingungan melihat kehidupan serbahedonis kaum pagan Arab, Nabi berkontemplasi ke gua Hira untuk menenangkan diri, mengasah batinnya.
Hingga akhirnya beliau menerima wahyu pertama dan mengalami kenikmatan tersendiri dalam berhubungan langsung dengan Tuhan melalui kontemplasi. Namun, setelah itu, beliau kembali lagi ke masyarakatnya dengan membawa pesan-pesan tentang kebaikan dan keburukan berdasarkan moralitas yang jujur.

Berjalan seimbang

Kesadaran sufistis Nabi inilah yang seharusnya disadari semua yang melakukan ibadah puasa, yaitu puasa berfungsi sebagai trigger kesadaran instingtif manusia untuk mengingat Tuhan secara mendalam setiap saat, dalam beragam jenis kehidupan.Bukan hanya menyendiri, melainkan juga menyadari tanggung jawab sosial setiap orang. Para guru (para bijak), sekolah-sekolah, para penulis, ajaran-ajaran, humorhumor, sejumlah mistisisme dan rumusan-rumusan Sufi, semuanya berkaitan dengan relevansi sosial dan psikologi pemikiran manusia. Artinya proses pendidikan di sekolah seharusnya memiliki pola pikir yang sama, yaitu jalan Sufi bukan hanya pro pada aspek esoterik, melainkan juga pada aspek eksetorisnya.Keduanya harus berjalan seimbang.

Karena tidak dibatasi waktu dan tempat, perilaku esoteris sufi seharusnya dapat membawa pengalamannya ke dalam kultur, negara, dan iklim di mana ia tinggal. Kajian tentang kegiatan Sufi dengan kultur yang terpisah hanya bernilai bagi mereka yang bekerja pada bidang keilmuan sempit. Menganggap kegiatan Sufi bersifat keagamaan semata, literatur, atau fenomena filosofis akan menghasilkan penerjemahan terbalik tentang jalan Sufi. Begitu juga mencoba mengintisarikan teori atau sistem serta berusaha mengkajinya secara terpisah hanya merupakan kesia-siaan komparatif.

Pendek kata, jalan Sufi dan puasa ialah sebuah milestones yang seharusnya disadari para guru, kepala sekolah, orangtua, dan siswa dewasa agar proses kontemplatif selama puasa memiliki energi yang kuat untuk melahirkan kesadaran kemanusiaan yang lebih besar dalam belajar. Belajar dengan tanggung jawab ala Sufi dapat membawa kita pada kenyataan bahwa hidup ialah salah satu tanda kesempurnaan Tuhan dalam wujud yang nyata. Belajar dengan membawa semangat puasa dapat membawa seseorang pada kesadaran untuk selalu ingat tanggung jawab kemanusiaan yang diterapkan Muhammad, rasul semesta alam.