Minggu, 26 Juni 2016

"Beriman" pada Hiburan

"Beriman" pada Hiburan

Indra Tranggono ;   Pemerhati Kebudayaan;  Sastrawan
                                                         KOMPAS, 25 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Galibnya, beriman itu hanya kepada Tuhan, dzat mutlak yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Namun, ada kecenderungan lain pada orang-orang modern: beriman pada yang selain Tuhan, baik yang bersifat bendawi (tangible) maupun tak bendawi (intangible).

"Beriman" kepada benda, misalnya menyembah konsumerisme. Adapun beriman pada tak benda, salah satunya adalah mengabdi pada hiburan demi keuntungan. Lihatlah tayangan di televisi swasta selama bulan Ramadhan. Hampir 90 persen didominasi hiburan, baik lawak, sinetron, variety show, kuis, maupun musik yang digeber dari magrib hingga sahur (subuh). Sisanya berupa pengajian, dakwah, dan features bernuansa agama.

Mereka yang punya sikap kritis pasti lelah dan bosan pada tayangan hiburan itu, yang intinya cuma guyon atau mengeksploitasi  kedangkalan. Jika ada yang berbeda dari guyonan sebelum Ramadhan, hanyalah pada kostum yang digunakan para artis yang kini lebih brukut (rapat, tertutup dengan aksesori formal-agamis). Padahal, sebelum Ramadhan, dandanan dan gaya berkostum mereka cenderung tak seronok, mengumbar sensualitas.

Industri hiburan harus luwes, fleksibel, dan kompromis pada tuntutan pasar. Maka, para penghibur pun wajib meniru sifat bunglon, mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Ketika pasar menghendaki berbagai citraan bernuansa "religius", industri hiburan pun harus "religius" meskipun semua itu tak ada hubungannya dengan religiositas dalam makna yang sesungguhnya. Mereka sekadar patuh memenuhi selera pasar demi meraup keuntungan. Bagi para saudagar, apa pun harus bisa dijual.

Tentu saja euforia hiburan di televisi swasta yang memanfaatkan Ramadhan itu menjadi ironi yang menyedihkan ketika hal itu dikaitkan dengan spirit puasa Ramadhan yang menekankan asketisme, pengendalian diri, refleksi, evaluasi spiritual, dan mesu budi (penajaman akal budi dan batin). Industri hiburan di televisi swasta justru mereproduksi berbagai sajian yang berlawanan dengan spirit puasa Ramadhan. Ibaratnya, di tengah orang-orang yang sedang "bertapa" dan bertafakur, mereka justru menghadirkan teater kebodohan atas nama kepentingan kuasa modal dan keuntungan.

Kenapa dunia hiburan di televisi swasta tidak memberi ruang pada produser dan desainer program yang cerdas, visioner, serta mau sedikit kerja keras untuk membuat paket acara yang lebih bermutu? Ukuran acara bermutu tentu saja berbasis pada etika, estetika, dan logika.

Pertanyaan yang serupa juga berlaku pada produsen, para pemasang iklan. Apakah dari mereka tidak ada yang punya pandangan ideal tentang publik? Bahwa, publik itu layak diberi asupan gizi intelektual, emosional, dan spiritual melalui berbagai sajian yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan keadaban.

Tidak tunggal

Sejak era analog hingga digital, problem dunia hiburan di negeri ini masih klasik. Yakni, pandangan tunggal dari pemilik modal dan kreator yang menganggap publik selalu berselera dan punya cita rasa rendah. Implikasi pandangan ini adalah: (1) ketakutan memproduksi karya bermutu karena khawatir tidak laku; dan (2) menyerah pada selera massa dengan memproduksi karya-karya kurang bermutu.

Yang perlu diyakini adalah publik penonton televisi tidak tunggal, karena itu selera dan cita rasa mereka juga beragam. Karya bermutu pun selalu mendapat ruang dan apresiasi publik. Ada banyak contoh acara televisi yang bermutu sekaligus laku, sebut saja misalnya Si Doel Anak Sekolahan (karya sutradara Rano Karno dengan skenario Harry Tjahyono), Bajai Bajuri,  lawak Srimulat, film televisi Anak Seribu Pulau (Garin Nugroho, dkk) serta sinetron religius  Para Pencari Tuhan (Deddy Mizwar, dkk).

Setiap kreator selalu dituntut untuk menjawab tantangan kreatif karena mereka adalah anak zaman. Di negeri ini selalu lahir para kreator baru, muda, dan segar serta memiliki cara pandang yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Pertanyaannya, apakah mereka mendapatkan ruang ekspresi atau tidak?

Media televisi memiliki posisi dan makna strategis di dalam memperkuat civil society. Media ini hadir setiap detik di ranah publik, bukan sekadar jadi wahana penyampai pesan, melainkan sudah menjadi pesan itu sendiri.

Posisi televisi kini sudah menjadi mentor, guru masyarakat. Kita tidak bisa membayangkan mutu produk didikannya jika sang mentor hanya mengeksploitasi kedangkalan alias selera rendah. Mestinya, media televisi menjadi bagian penting untuk dimasukkan di dalam RUU Kebudayaan sehingga ada regulasi baginya. Mutu peradaban bangsa kita, salah satunya, ditentukan oleh televisi.