Rabu, 08 Juni 2016

Mewaspadai Musuh (Ideologis) Pancasila

Mewaspadai Musuh (Ideologis) Pancasila

Listiyono Santoso  ;   Staf Pengajar Ilmu Filsafat dan Etika
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya
                                                       JAWA POS, 01 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PANCASILA telah disepakati founding fathers sebagai dasar negara. Karena itu, wajar jika setiap rezim -mulai Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi- selalu berusaha menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Dalam praktiknya, setiap rezim belum mampu mempraksiskan Pancasila menjadi kenyataan hidup sehari-hari. Banyak praktik berbangsa dan bernegara kita yang kontraproduktif dengan Pancasila. Menguatnya intoleransi sosial, ketidaksantunan berpolitik, kekerasan, praktik peradilan yang tidak adil, dan sebagainya.

Gerakan reformasi hanya menjadi involusi dalam praktik berbangsa kita. Gerakan yang tidak mengubah apa pun, kecuali hiruk pikuk perebutan kekuasaan. Ia tidak memberikan arah bagi praktik berkehidupan kebangsaan, tetapi melahirkan kelas-kelas elite yang memiliki modal untuk menjadi penguasa politik dan ekonomi. Kekuatan pemilik modal tercipta untuk menyandera demokrasi permusyawaratan kita. Tidak heran, jika dalam setiap pemilihan umum, hanya orang-orang yang memiliki modal yang selalu memenangkan kontestasi politik.

Musuh Ideologis Pancasila

Keinginan untuk mengembalikan Pancasila sebagai jiwa bangsa kembali bergelora belakangan ini. Kesadaran tersebut muncul di mana-mana. Mulai kalangan legislatif hingga masyarakat pada umumnya. Keinginan mulia ini patut diapresiasi karena berkeinginan mengembalikan perjalanan bangsa ke jalan yang benar. Meski demikian, keinginan mulia ini akan menemui tantangan besar justru melalui pengabaian bangsa ini terhadap pelembagaan nilai-nilai Pancasila. Persis saat kita abai dalam waktu yang lama, masuklah nilai-nilai baru yang justru memberikan warna dominan dalam pembentukan ideologi setiap generasi. Yakni, liberalisme dan sektarianisme.

Diskursus ideologi kita saat ini sesungguhnya bermuara dalam dua ideologi ini. Yang satu berwajah humanisme liberal dengan praktik ekonomi kapitalis, gaya hidup bebas, dan konsumtif. Yang satunya berwajah ''agamis'' dengan praktik fundamentalisme agama. Formalitas agama menjadi bagian dari gaya hidupnya.

Musuh ideologi bangsa ini bukan lagi komunisme, karena ideologi tersebut sudah selesai. Setiap ideologi yang kontraproduktif dengan nilai kemanusiaan pasti akan mati dengan sendirinya. Hanya, karena komunisme pernah memberikan luka sejarah, setiap warga bangsa seolah menjadikan komunisme sebagai musuh bersama tiada akhir. Pada saat yang sama, musuh ideologis Pancasila lainnya, yaitu liberal-kapitalisme dan fundamentalisme sektarian, mampu memikat setiap generasi menjadi pengikutnya.

Dua ideologi ini berpotensi mencerabut warga bangsa dari kepribadian Pancasila. Karena tidak vis a vis dengan Pancasila, warga bangsa tidak pernah menjadikannya musuh. Sebaliknya, mereka justru mengakrabi dan mempraktikkannya. Tidak heran jika dua ideologi ini begitu leluasa memberikan pengaruh pada setiap generasi. Ia begitu mudah ditemukan dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan, bahkan pendidikan formal kita.

Tidak salah Dennys Lombard pernah mengatakan bahwa salah satu proses pembaratan banyak terjadi di lembaga pendidikan. Sekolah-sekolah kita adalah sekolah-sekolah yang mencerabut warga bangsa dari logika keindonesiaan. Sekolah kita tidak mengajarkan keindonesiaan, melainkan berguru kepada ''Barat''. Cara berpikir, gaya hidup, serta pandangan hidupnya khas dominan ''Barat''.

Di sisi lain, muncul pula sekolah-sekolah berbasis agama yang bersifat segregatif. Memisahkan diri dari kelompok lainnya. Model pengajarannya pun jauh dari cerminan nilai luhur budaya Indonesia. Wajah keindonesiaan menjadi tidak muncul dalam lembaga pendidikan seperti ini. Meletakkan dasar keagamaan bagi setiap generasi adalah hal penting, tapi memberikan visi kebangsaan kepada setiap generasi juga merupakan keharusan. Bagaimana meletakkan visi keagamaan dan visi kebangsaan menjadi satu kesatuan merupakan keharusan yang tidak boleh terabaikan.

Generasi liberal dan sektarian saat ini sudah terlahir. Ia bermukim dalam lembaga-lembaga pemerintahan, di partai-partai politik, dan di kampus-kampus. Mereka yang telah mengubah watak ekonomi kerakyatan menjadi ekonomi kapitalistis. Mengubah demokrasi permusyawaratan menjadi demokrasi liberal. Tidak heran jika ada kepala daerah yang memberikan ruang bagi ritel-ritel modern dan membiarkan usaha kecil lambat laun mati. 

Ada pula yang sibuk memberi izin eksploitasi sumber daya alam, tanpa memperhatikan ekologi sosial. Kampung-kampung di tengah kota digusur demi mal-mal dan apartemen-apartemen. Generasi ini tidak memusuhi Pancasila, tapi mempraktikkan liberalisasi dan sektarianisme dalam berbangsa.

Dunia kampus pun demikian. Disesaki nalar liberal di satu sisi dan nalar sektarian di sisi lainnya. Jangan-jangan teori-teori ilmiah yang dikembangkan dalam dunia akademik kita adalah teori-teori yang kontraproduktif dengan nilai-nilai Pancasila. Alih-alih memberikan kontribusi bagi penguatan kebangsaan, yang terjadi justru memperlemah nalar kebangsaan generasi muda untuk kian antipati terhadap Pancasila.
Inilah tantangan berat dalam mempraksiskan nilai-nilai Pancasila. Ketika nilai-nilai Pancasila belum tertanam secara kukuh, setiap generasi didoktrinasi oleh nilai liberal dan sektarian. ●