Selasa, 07 Juni 2016

Menguak Mitos Segitiga Masalembo dalam Perspektif Oseanografi

Menguak Mitos Segitiga Masalembo

dalam Perspektif Oseanografi

Adi Purwandana ;   Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI;  Mahasiswa Doktoral di Sorbonne Universite Pierre et Marie Curie (UPMC), Paris, Prancis
                                              MEDIA INDONESIA, 03 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

JIKA dunia mengenal Segitiga Bermuda di perairan Atlantik sebelah timur Benua Amerika dan Segitiga Formosa di kawasan Asia Tenggara, di dalam perairan Indonesia, kita mengenal kawasan perairan Segitiga Masalembo yang berkembang mitos sebagai kawasan perairan yang rawan bagi perjalanan laut dan udara.

Fenomena buruk di atmosfer

Perairan laut dangkal dan perairan laut dalam memberikan respons yang berbeda terhadap penyinaran sinar matahari. Laut Jawa, yakni perairan di sebelah barat Kepulauan Masalembo, merupakan perairan dangkal dengan kedalaman rata-rata kurang dari 50 meter. Sementara itu, perairan di sebelah timurnya merupakan perairan laut dalam dengan kedalaman lebih dari 500 meter, yakni Laut Flores.

Di perairan laut dangkal, intensitas penyinaran matahari akan memungkinkan pemanasan kolom air yang lebih cepat jika dibandingkan dengan perairan laut dalam akibat intensitas matahari yang mencapai dasar perairan sehingga suhu perairan akan relatif lebih hangat. Dampak lebih lanjut ialah laju penguapan dan potensi terbentuknya awan di perairan laut dangkal akan lebih intensif jika dibandingkan dengan di perairan laut dalam.

Menghangatnya perairan yang diikuti dengan menghangatnya lapisan atmosfer di atasnya dan diikuti meningkatnya tutupan awan sebagai dampak penguapan pada akhirnya akan menghasilkan tekanan udara yang lebih rendah jika dibandingkan dengan di atas perairan laut dalam yang lebih tinggi. Perbedaan tekanan udara yang secara tiba-tiba itulah yang menghasilkan fenomena turbulensi ketika pesawat udara melintasinya.

Batas pertemuan keduanya di wilayah Indonesia ialah di perairan Masalembo. Tingkat kefatalannya, yakni seberapa besar turbulensi yang bisa terbentuk, sangat ditentukan dengan pola pembentukan awan di wilayah ini. Pada musim barat, yakni pada Desember, Januari, Februari, Maret, yang dikenal sebagai musim hujan, pembentukan awan hujan akan lebih intensif di wilayah Indonesia bagian barat.

Selain turbulensi akibat perbedaan tekanan udara karena tutupan awan, potensi turbulensi juga dapat terjadi akibat perubahan besar dan arah kecepatan angin yang jamak terjadi saat memasuki musim peralihan, baik dari musim barat ke musim timur (April-Mei) maupun dari musim timur ke musim barat (Oktober-November). Perpaduan antara kedua fenomena yang dipicu pengaruh angin musim inilah yang menjadikan perairan Masalembo unik dan berpotensi mengurangi kenyamanan penerbangan.

Fenomena buruk bawah air

Perairan Indonesia merupakan penghubung Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia, yang mengalirkan massa air dari Pasifik menuju Hindia (Arus lintas Indonesia, Arlindo), akibat lebih tingginya muka laut Samudra Pasifik jika dibandingkan dengan ketinggian muka laut Samudra Hindia. Di samping melalui Selat Makassar, Arlindo juga mengalir melalui perairan laut dangkal, Laut Jawa, yang dibawa dari Laut China Selatan.

Kedua arus ini selanjutnya bertemu di wilayah Segitiga Masalembo sehingga menimbulkan pengacakan arus dan turbulensi yang diduga tidak hanya menghasilkan pusaran/eddy secara horizontal, tapi juga secara vertikal. Dampaknya, hal itu akan mengurangi kenyamanan moda transportasi laut, terutama untuk kapal-kapal bertonase kecil. Pada musim barat, arus dari Laut Jawa akan menguat sehingga diperkirakan intensitas turbulensi di wilayah itu juga akan lebih intensif. Gambar: Pengukuran arus laut oleh Kapal Riset Baruna Jaya VIII Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI pada 2014 berhasil membuktikan perubahan arah/pengacakan pola arus lapisan atas saat memasuki perairan Masalembo.

Surga di Perairan Masalembo

Di balik ‘garangnya’ wilayah perairan Masalembo, sejatinya perairan itu menyimpan potensi kekayaan laut yang luar biasa sebagai perairan tersubur di Indonesia, yaitu kaya akan perikanan tangkap. Dua fenomena oseanografi fisika yang terjadi di perairan Masalembo yang mendukung hal itu adalah upwelling dan turbulensi (pergolakan) vertikal-horizontal.

Upwelling adalah proses penaikan massa air dari lapisan bawah menuju lapisan atas, yaitu tempat ikan-ikan pelagis berada. Proses itu terjadi akibat embusan angin musim timur yang memasuki puncaknya pada Juni, Juli, dan Agustus.

Di dekat pesisir Pantai Makassar, embusan angin itu akan mengakibatkan perpindahan massa air lapisan atas di dekat pesisir Makassar untuk bergerak menuju laut lepas, yang diikuti dengan naiknya lapisan air lapisan bawah yang menggantikannya. Sifat massa air lapisan bawah yang naik ke permukaan ini lebih dingin dan memiliki kandungan nutrien yang tinggi.

Dampaknya, lapisan air bagian atas akan menjadi subur karena pasokan nutrien itu. Nutrien sangat penting bagi pertumbuhan fitoplankton (tumbuhan renik laut). Melimpahnya fitoplankton akan diikuti dengan melimpahnya zooplankton (hewan renik seperti larva udang) yang memangsanya. Zooplankton inilah yang selanjutnya dimangsa ikan-ikan bernilai ekonomis. Arus Laut Jawa dan Arlindo selanjutnya menjadikan proses upwelling yang pada awalnya hanya di selatan Makassar meluas hingga mendekati Pulau Flores.

Fenomena kedua yang menunjang suburnya perairan Masalembo ialah fenomena turbulensi vertikal. Fenomena ini berpotensi terjadi di dua titik di Segitiga Masalembo, yakni di sebelah utara Pulau Kangean dan di sebelah barat Ujungpandang (Ambang Dewakang). Di sebelah utara Pulau Kangean, perubahan kedalaman laut yang drastis berakibat pada bervariasinya struktur vertikal arus laut.

Dampaknya, terbentuklah turbulensi vertikal yang selanjutnya terjadi pengadukan dan pengangkatan lapisan dekat dasar perairan yang kaya akan nutrien, yang berpotensi meningkatkan produksi perikanan tangkap. Di ambang Dewakang, tersandungnya Arlindo oleh ambang (tonjolan bukit bawah laut) juga menghasilkan turbulensi vertikal yang berdampak pada penyuburan massa air lapisan atas. ●