Selasa, 07 Juni 2016

2.400 Tahun Aristoteles

2.400 Tahun Aristoteles (Persembahan 80 Tahun Profesor Franz Magnis Suseno, SJ)

Max Regus ;   PhD Candidate di School of Humanities,
University of Tilburg, the Netherlands
                                              MEDIA INDONESIA, 03 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

UNESCO, pada sesi ke-38 dari Konferensi Umum 2015 menetapkan 2016 sebagai perayaan ‘2.400 tahun Aristoteles’. Ini menandai kelahiran salah satu dari ‘trio’ filsuf terkemuka Yunani bersama Socrates dan Plato. Disepakati, The Interdisciplinary Center for Aristotle Studies di The Aristotle University, Yunani, menyelenggarakan konferensi internasional pada Mei. Para filsuf serta pengajar filsafat dari seluruh penjuru dunia akan diundang untuk menghadiri konferensi ini. Sejumlah kampus terkemuka bahkan secara khusus menyelenggarakan serial seminar dan diskusi yang didedikasikan secara khusus untuk momentum ini.

Penopang sejarah

Aristoteles lahir di Stagira, Yunani Utara, pada 384 SM. Nicomachus, ayahnya, ialah seorang dokter pribadi keluarga Raja Philip, ayah Alexander Agung, di Masedonia. Pada 367 SM, Aristoteles pindah ke Athena sebagai pusat intelektual dan kebudayaan Yunani masa itu. Untuk beberapa tahun, dia belajar di Akademi Plato (427–347 SM). Di sana, dia dikelilingi banyak filsuf, ilmuwan, dan ahli matematika.

Aristoteles meninggalkan Akademi Plato pada 347 SM ketika Plato meninggal dunia. Ada spekulasi bahwa ia meninggalkan akademi karena Plato tidak memilih dia sebagai penggantinya. Namun, rumor lain berhubungan dengan sentimen ‘anti-Masedonia’ di Athena saat itu. Aristoteles meninggalkan Athena karena kedekatan keluarganya dengan Kerajaan Masedonia. Pada 343 SM, ia dipanggil untuk menjadi guru pribadi Alexander Muda (Agung) di Masedonia. Hubungan keduanya diceritakan dalam banyak ‘mitologi historis’.

Aristoteles kembali ke Athena ketika Masedonia memperpanjang pengaruh politik ke Yunani. Pada 334 SM, ia mendirikan sekolah filsafat sendiri di Lyceum. Di sana, dia mengajar selama 11 tahun. Kuliahnya mencakup banyak bidang studi, seperti fisika, metafisika, etika, psikologi, politik, dan puisi. Pada 323 SM, Alexander Agung wafat. Aristoteles kemudian meninggalkan Athena. Dia takut akan kebangkitan kedua sentimen anti-Masedonia. Di samping itu, ada catatan yang menyebutkan bahwa Aristoteles tidak menginginkan warga Athena jatuh ke dalam ‘dosa kedua’ atas ‘pembunuhan filsuf’ sesudah kematian Socrates 70 tahun sebelumnya. Setahun kemudian, 322 SM, Aristoteles meninggal di Chalcis, Euboea. Sejak itu, pemikiran filosofis Aristoteles turut menopang sejarah pencaharian tatanan politik bagi kebaikan warga negara.

Etika nicomachean

Sementara ada pengaruh ‘pra-Socrates’ dalam karya Aristoteles, tak diragukan lagi, secara signifikan pemikiran Plato menentukan filsafatnya. Meski demikian, keduanya memiliki pandangan yang bertolak belakang. Bagi Plato, filsafat adalah latihan pikiran untuk melihat kebenaran di balik selubung pengalaman. Berbeda dengan Plato, Aristoteles sendiri ialah seorang ilmuwan empiris. Dia menekankan pengalaman empiris sebagai sumber hikmat sejati. Dia menolak pandangan Plato yang menjadikan pengalaman sekadar ‘alat’ bagi pikiran manusia untuk mencapai kesejatian makna hidup.

Etika Nicomachean (EN) selalu dipadankan dengan keberadaan Aristoteles. Memang kebanyakan sarjana setuju bahwa EN merupakan pandangan yang kurang matang. Namun, bagaimanapun EN tetap dianggap sebagai karya terpenting Aristoteles. EN kemungkinan diedit para muridnya karena tidak pernah dimaksudkan untuk publikasi. Aristoteles, berkaitan dengan etika, menolak form tunggal kebaikan. Dia, sebaliknya, membahas panjang lebar ‘multiplisitas’ dari berbagai kebajikan.

Gagasan etika Aristoteles mengacu ke pertanyaan tentang kandungan ‘tujuan akhir’ (telos/teleologi) dari tindakan dan keberadaan. Pada aras pemikiran ini, dia membuat klasifikasi antara yang ‘human’ dan ‘nonhuman’ berdasarkan tujuan keberadaan masing-masing. Dia mengklasifikasikan manusia sebagai ‘hewan rasional’. Berarti, ‘telos’ dari keberadaan manusia ialah ‘makhluk rasional’. Makhluk yang berakal budi. Dengan kata lain, fungsi kita dalam hidup ialah untuk menyadari potensi penuh kita sebagai ‘makhluk rasional’.

Telos dari negara

Dalam filsafat Aristoteles, teori politik berhubungan dengan teori etika. Politik sangat bersifat etis, menjunjung prinsip-prinsip etis/moral, mengejar nilai-nilai etis/moral, dan membelanya. Jika dalam pemikiran etikanya kebaikan ialah tujuan atau keterarahan dari segala aktivitas manusia, dalam gagasan filsafat politiknya, polis adalah cetusan paling tinggi dari kehidupan hidup manusia dalam menggapai kebajikan.

Hubungan antara politik dan etika bersifat timbal balik. Etika terarah ke pembentukan tata kehidupan bersama yang baik dalam politik. Sementara itu, politik mengandaikan pijakan etis yang kuat.

Aristoteles menekankan ‘tujuan akhir’ (telos) etis dari politik (negara). Tujuan etika ialah membimbing manusia untuk mencapai sifat sejati sebagai makhluk rasional. Sementara itu, tujuan akhir dari politik (negara) ialah mewujudkan kebaikan etis bagi semua warga.

Tujuan etika dan politik (negara) mengajari manusia (warga polis) bagaimana menjadi sangat rasional dan kebal terhadap godaan kebinatangan yang merusak tata hidup bersama.

Etika dan politik (negara) dalam pandangan Aristoteles merupakan bagian ‘ilmu pengetahuan praktis’. Berbeda dengan ilmu alam, yang meneliti dunia di sekitar kita, etika dan politik berurusan dengan aspek-aspek praktis dari masyarakat manusia dan cara terbaik untuk mengatur masyarakat. Aristoteles menguraikan hubungan antara kehidupan yang baik antarindividu dan masyarakat serta mencari ‘jenis negara’ yang bisa membuat hidup yang baik ini menjadi mungkin.

Di Indonesia, Pastor Franz Magnis Suseno, SJ, Guru Besar Filsafat STF Driyarkara, yang merayakan ulang tahun ke-80, beberapa hari lalu, seperti ‘Aristoteles’ di Yunani. Ia tiada henti mempelajari, mendalami, dan mengalami kebajikan, lalu tanpa lelah dan tanpa takut ia mengingatkan publik dan negara tentang betapa esensialnya pengelolaan kekuasaan (politik) secara etis. Profesor Franz Magnis Suseno senantiasa mendedahkan pentingnya menaruh ‘kemanusiaan’ sebagai nilai etis tertinggi pada setiap laku politik dan kekuasaan. Ini sebuah ‘cara abadi’ filsafat untuk meluputkan negara dari kecenderungan menjadi ‘mesin pemberangus’ kehidupan. ●