Selasa, 07 Juni 2016

Senja Kala IS

Senja Kala IS

Smith Alhadar ;   Penasihat ISMES;
Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDE)
                                              MEDIA INDONESIA, 04 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

AKHIR-AKHIR ini Negara Islam di Irak dan Suriah (IS) melancarkan serangan bom bunuh diri di kota-kota di Irak dan Suriah. Serangkaian bom bunuh diri di Baghdad paling tidak menewaskan 150 orang tak berdosa, sedangkan serangan di Tartus dan Jableh, Suriah, menewaskan 154 orang dan melukai sekitar 300 lainnya. Namun, serangan-serangan ini bukan menunjukkan keperkasaan IS dalam meluaskan pendudukan di wilayah-wilayah itu sebagaimana yang dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya, melainkan bentuk ekspresi keputusasaan atas kekalahan di berbagai front menyusul serangan gencar pasukan Irak dan pasukan Suriah serta milisi Kurdi yang dibantu serangan udara pasukan koalisi pimpinan AS (di Irak dan Suriah) dan pasukan Rusia (di Suriah).

Saat ini sedang terjadi perang kota di Fallujah antara 1.000 anggota IS yang menduduki kota itu sejak 2014 dengan puluhan ribu personel gabungan pasukan Irak yang dibantu serangan udara koalisi. Bisa dipastikan perang ini akan dimenangi gabungan pasukan Irak karena ketidakseimbangan kekuatan antara kedua kubu yang berperang.

Kemenangan di Fallujah akan membuka jalan bagi penaklukan Kota Mosul di utara Fallujah yang merupakan kota utama dan satu-satunya IS di Irak. Kini Peshmerga (milisi Kurdi Irak) yang sedang menyerang Mosul sudah berada di pinggiran kota itu setelah berhasil memukul mundur pasukan IS di enam desa di sekitar Mosul. Serangan gabungan pasukan Irak pimpinan unit pasukan khusus antiterorisme ke Mosul dari arah selatan setelah Fallujah ditaklukkan dan Peshmerga di utara Mosul akan mempercepat kejatuhan Mosul.

Di Suriah, Tentara Demokratik Suriah (SDF) dengan kelompok utama Unit Perlindungan Rakyat Kurdistan (YPG), dibantu serangan udara Rusia, berhasil memukul keluar IS dari Kota Kafr Shoush dan Braghida di Provinsi Aleppo. Pada waktu bersamaan, SDF yang dibantu pasukan khusus AS berhasil membuat kemajuan signifikan di sebelah utara Kota Raqqa, ibu kota de facto IS. Pada 24 Mei silam, juru bicara militer AS yang berbasis di Baghdad, Kolonel Steve Warren, mengatakan, jika SDF yang dilatih dan dipersenjatai AS berhasil menduduki Raqqa, keberhasilan itu akan jadi akhir dari IS.

Melemahnya IS mulai terlihat sejak kejatuhan Ramadi, ibu kota Provinsi Anbar, Irak, pada Desember 2015, disusul kejatuhan Kota Palmyra di Suriah pada Maret 2016. Sejak itu wilayah IS berkurang sebanyak 22%, sementara populasi di teritorial IS menurun dari 9 juta menjadi 6 juta jiwa. Terbunuhnya beberapa pemimpin teras IS ikut memberikan pengaruh negatif pada kelompok teror itu. Sebut saja Maher al-Bilawi, komandan utama IS di Fallujah, yang tewas oleh serangan udara AS pada 27 Mei, dan Abd al-Rahman Mustafa al-Qaduli, pemimpin tertinggi kedua IS setelah Abubakar al-Baghdadi, yang tewas oleh serangan udara AS pada Maret silam. Al-Qaduli atau dikenal dengan nama Abu Alaa al-Afri bertanggung jawab atas urusan keuangan, politik, dan administrasi IS.
Selain mengepalai Dewan Syura yang menjadi penasihat Al-Baghdadi, ia juga gubernur di beberapa provinsi di Suriah. Kematian al-Bilawi membuat IS goyah sehingga memudahkan pasukan gabungan Irak memasuki Fallujah, sementara tewasnya Al-Qaduli membuat sulit IS untuk memulihkan diri.

Pelemahan IS terjadi berkat tindakan pemerintah Turki yang menutup akses IS ke dunia luar melalui wilayah Turki menyusul serangan IS terhadap Kota Suruc di Turki pada Juli tahun lalu, yang menewaskan 32 warga Turki keturunan Kurdi. Akibat penutupan wilayah perbatasan Turki-Suriah, tidak ada lagi ekstremis asing yang masuk ke Suriah untuk bergabung dengan IS sehingga khilafah teror ini kehilangan sumber daya manusia yang cukup signifikan. Padahal, dalam perang pembebasan Palmyra saja, IS kehilangan 417 pasukan. Kekurangan personel pasukan IS bisa dilihat dari apa yang terjadi di Fallujah. Menurut Jan Egeland, Sekrataris Jenderal Dewan Pengungsi Norwegia, IS menggiring sekitar 100 pemuda di Fallujah untuk dipaksa bertempur mempertahankan kota itu.

Selain jatuhnya harga minyak dunia, ditutupnya wilayah Turki yang merupakan akses penjualan minyak IS ke pasar gelap di Turki membuat pendapatan IS dari sektor minyak anjlok hingga 30%. Perusahaan analisis di AS, HIS, mengungkapkan pada Maret silam, pendapatan IS merosot menjadi US$56 juta (sekitar Rp737 miliar) per bulan dari sebelumnya US$80 juta (Rp1,05 triliun) per bulan sejak pertengahan tahun lalu. Produksi minyak IS juga anjlok, dari 33 ribu barel menjadi 21 ribu barel per hari dalam rentang waktu yang sama. Banyak fasilitas produksi minyak mereka hancur akibat serangan koalisi pimpinan AS. Sekitar 50% pendapatan IS berasal dari penarikan pajak dan penyitaan, 43% dari minyak, dan sisanya dari penyelundupan obat-obat terlarang, penjualan listrik, dan donasi.

Saat ini IS masih menjadi kekuatan di Irak di Suriah. Namun, kekalahan mereka di berbagai front, berkurangnya sumber daya manusia, serta penurunan pemasukan mereka yang signifikan meningkatkan tantangan bagi IS dalam mengelola teritorial untuk jangka waktu panjang. Sekiranya AS mau berkoordinasi dengan Rusia dalam serangan mereka ke IS, tentu eksistensi IS akan lebih cepat berakhir. Namun, Washington menolak berkoordinasi dengan Moskow karena selain menyerang IS, Rusia juga menyerang kelompok oposisi Suriah yang didukung AS. ●