Jumat, 17 Juni 2016

Mengapa Harus Daging?

Mengapa Harus Daging?

Handrawan Nadesul ;   Dokter;  Penulis Buku, dan Motivator Kesehatan
                                                         KOMPAS, 14 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Studi ihwal bahaya kebanyakan konsumsi daging bagi tubuh manusia sudah banyak dilaporkan. Salah satunya laporan McGovern yang mengungkap, kendati teknologi kedokteran terus meningkat, angka kanker tambah banyak karena kebanyakan makan daging.

Kelebihan asupan protein daging merusak DNA sel; sel onkogen berubah sifat menjadi sel kanker. Kerja hati dan ginjal juga meningkat bila asupan daging berlebih, selain darah berubah lebih bersifat asam. Karena tubuh lebih asam, membutuhkan lebih banyak kalsium untuk menetralkannya. Banyak makan daging tanpa kecukupan asupan kalsium, tulang jadi keropos (osteoporosis).

"Tiger diet"

Asam amino pembentuk protein daging tidak semua terserap oleh tubuh karena untuk memecahnya memerlukan lebih beragam enzim. Kekurangan enzim mengurangi kemampuan mencerna protein. Akibat tak dicerna sempurna, protein membusuk di usus menjadi "racun" (indole, H2S, nitrosamin, histamin, radikal bebas). Selain itu, tubuh butuh kalori lebih besar untuk mengolah sisa cerna daging yang tidak sempurna, lalu menyisakan lebih banyak radikal bebas.

Kita tahu kini radikal bebas jadi musuh utama orang sekarang. Membanjirnya radikal bebas dalam tubuh ikut mencetuskan munculnya semua penyakit degeneratif, selain kanker.

Dilaporkan pula usus orang Amerika yang tinggi konsumsi dagingnya tidak sebersih usus orang Okinawa, nelayan di sebuah pulau kecil di Jepang, yang pola makannya lebih banyak sumber nabati ketimbang hewani. Terungkap pula penyakit usus diverticulitis selain kanker usus besar, ternyata banyak menimpa penyuka daging.

Kita perlu belajar sehat dari orang Okinawa yang umurnya seratusan tahun (centenarian) karena kebiasaan makan yang bersesuaian dengan yang tubuh manusia butuhkan (studi Harvard selama 25 tahun di masyarakat Okinawa). Sebaliknya, terungkap bahwa pola makan pengidap kanker terbukti lebih banyak porsi daging.

Studi di Tiongkok menambah bukti: asupan daging berlebih mencetuskan kejadian kanker. Kita tahu orang Tiongkok secara genetik bersifat homogen. Jadi, kalau ada provinsi di Tiongkok yang angka kankernya lebih tinggi, bukan faktor gen penyebabnya. Belakangan terungkap, provinsi yang angka kankernya paling tinggi ternyata paling banyak porsi makan dagingnya (The China Study, T Colin Campbell).

Gigi manusia sudah menunjukkan kalau asal nutrisi yang tubuh butuhkan lebih nabati ketimbang hewani. Jumlah dan susunan gigi-geligi simpanse sama persis dengan gigi manusia. Kalau simpanse tidak ada yang terserang jantung, atau stroke, itu barangkali lantaran simpanse tidak makan bistik. Simpanse lebih 95 persen mengonsumsi nabati, hanya 5 persen mengonsumsi daging dari serangga atau tikus. Menu orang Okinawa terbilang menu tersehat di dunia karena lebih banyak memilih ubi ketimbang donat.

Selain angka kanker orang Okinawa terendah di dunia, pembuluh darahnya juga tergolong paling bersih tanpa penyumbat karat lemak atherosclerosis. Hal lain, kadar homocysteine orang Okinawa rendah, bahkan terendah di dunia. Homocysteine produk ikutan metabolisme protein daging. Penyakit pembuluh darah yang berujung serangan jantung dan stroke, homocysteine jadi salah satu faktor pemburuknya. Pola makan ke-"barat-barat"-an dilaporkan meningkatkan homocysteine darah.

Garis tangan kesehatan manusia sudah menunjukkan kalau kita bukanlah harimau (animal-based diet), melainkan lebih sebagai kera dan kambing yang pemakan tumbuhan (plant-based diet). Kultur yang menciptakan bistik, lapis legit, dan sosis, menu yang betul enak di lidah, tetapi buruk di badan. Organisasi Kesehatan Dunia tahun lalu mengingatkan agar menjauhi semua daging olahan karena tinggi kandungan pencetus kanker (karsinogen). Di antaranya nitritdannitrosamin pada sosis dan bacon. Pencetus kanker dioxin sebagai limbah bakaran sudah mencemari daging olahan yang kita konsumsi.

Kembali ke meja makan nenek

Yang dibutuhkan tubuh itu nasi sepiring, sepotong tempe-tahu, ikan pepes, sayur lodeh, lalap, dan sayur asam. Menu sejenis itu yang memenuhi kecukupan tigaperlima zat pati, seperempat protein, dan selebihnya lemak secara berimbang (balance diet). Komposisi menu seperti itu yang bersesuaian dengan yang diminta tubuh.

Daging dalam bistik sudah melebihi asupan protein tubuh karena sudah memadai dipenuhi hanya dengan seperempat total kebutuhan kalori dalam sehari. Lapis legit memasukkan ke tubuh lebih banyak lemak selain protein telur dan kolesterol mentega. Sosis memasukkan zat kimiawi tambahan (food additive) yang tak menyehatkan. Sejatinya tubuh butuh lebih banyak sayur- mayur dan buah, selain umbi- umbian, kacang-kacangan, dan biji-bijian, seperti lazim isi meja makan nenek kita dulu.

Tentu tak cukup hanya tempe-tahu, tubuh kita tetap butuh protein hewani selain dari protein nabati. Namun, tak perlu menelannya berlebihan, cukuplah dari sekerat daging, dan tak perlu sebesar potongan bistik.

Sesungguhnya ikan sebagai sumber protein hewani harus lebih dipilih dibandingkan daging karena lemak tak jenuh ikan (unsaturated fatty acid) lebih menyehatkan dibandingkan lemak jenuh daging (saturated fatty acid). Kalau daging sedang sukar didapat dan harganya makin tidak terjangkau, mengapa kita tidak menukarnya dengan ikan, yang selain lebih murah juga lebih menyehatkan?