Senin, 13 Juni 2016

Demi Keluhuran Pancasila, Mari Boikot Piala Eropa!

Demi Keluhuran Pancasila, Mari Boikot Piala Eropa!

Eddward S. Kennedy ;   Penulis buku ’’Sepak Bola Seribu Tafsir’’
                                                       JAWA POS, 06 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Melihat situasi kekinian Indonesia yang gegar segala hal tentang komunisme, saya kira sudah sepatutnya kita semua waspada. Apalagi sebagai warga negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila.

Sebagai langkah awal, mari kita mulai memantaunya dari Piala Eropa (Euro) 2016. Caranya mudah saja. Anda cukup memperhatikan negara mana yang memiliki sejarah komunisme yang kental, lalu laporkan ke Bapak Kivlan Zein.

Mari kita mulai dari negara pertama, Albania. Sejarah Albania adalah sejarah panjang komunisme.

Bermula dari Perang Dunia II atau ketika Albania mulai dikuasai oleh Blok Timur yang dikomando Uni Sovyet. Pengaruh komunisme dengan cepat tersebar hingga ke segala lini kehidupan masyarakat di sana.

Kala itu, Albania dipimpin Enver Hoxha. Dia adalah seorang kader Sovyet yang patuh, meski akhirnya membelot dari Moskow.

Di bawah kuasanya, Albania melarang segala jenis kegiatan keagamaan (termasuk Islam yang merupakan agama mayoritas di sana) sekaligus menutup seluruh tempat ibadah.

Hoxha pun mendeklarasikan Albania sebagai negara ateis pertama di dunia. Sungguh biadab dan tidak pancasilais.

Sistem komunisme di Albania juga memiliki pengaruh buruk dalam konteks sepak bola. Meski konon The Party of Labour of Albania –semacam PKI-nya Albania– membentuk klub bernama Flamurtari (yang kemudian menjadi salah satu klub tersukses di sana), pemerintahan komunis Albania tetap tak memberikan sumbangsih berarti dalam perkembangan sepak bola lokal. Bahkan, cenderung menciptakan mimpi buruk.

Salah satu contohnya pada awal 1960-an. Bersama Sovyet, Albania menolak bergabung dengan UEFA karena alasan politis. Barulah, menjelang medio 1960-an, Albania kembali bergabung bersama Uni Sepak Bola Eropa tersebut.

Hingga kini, yang dikenal dari sepak bola Albania hanya barisan ultrasnya yang sangar. Terlebih jika mereka bertemu dengan ’’saudaranya’’ sendiri, Serbia. Setiap kedua negara bertemu, bisa dipastikan muncul keributan.

Akar permusuhan keduanya dimulai dari hubungan panas antara Hoxha dan Joseph Tito (dulu pemimpin Yugoslavia). Hoxha yang ’’Stalinis’’, sedangkan Tito, meski seorang komunis, tidak mematuhi garis politik Sovyet di bawah kendali Stalin.

Negara kedua yang patut diwaspadai di Euro 2016 adalah Hungaria. Memiliki narasi sejarah politik yang tak berbeda jauh dengan Albania –dicaplok Blok Timur di bawah kendali Sovyet, tetapi Hungaria memiliki kisah sepak bola yang spektakuler.

Untuk mengetahui hal ini, kita dapat melihatnya dari tim nasional mereka pada era 1950-an yang dijuluki Golden Team atau Magical Magyars. Inilah tim sepak bola yang kerap dianggap para pundit sebagai tim terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah.

Begitu mengerikannya Magical Magyars tak perlu diperdebatkan lagi. Bukan hanya pernah membantai Inggris di Wembley dengan skor telak 6-3 (dan 7-1 di kandang sendiri), Hungaria turut berkontribusi dalam taktikal sepak bola.

Formasi 2-3-3-2 (biasa ditulis WM) yang diracik Gusztav Sebes, pelatih Hungaria kala itu, dianggap sebagai embrio total football dan metode awal 4-3-3. Salah satu penggawa Magical Magyars, Nandor Hidegkuti, juga disebut sebagai pelopor awal role false 9 setelah Matthias Sindelar memulainya dengan Austria pada 1930-an.

Ironisnya, kedigdayaan sepak bola Hungaria mesti punah karena kediktatoran pemerintah berhaluan komunisme yang dipimpin Matyas Rakosi. Sama seperti Hoxha di Albania, Rakosi juga merupakan kader Sovyet yang taat.

Namun, tidak seperti Hoxha yang posisinya adem ayem, Rakosi sempat mendapat perlawanan sengit dari rakyatnya.

Dimulai pada 23 Oktober 1956. Yakni, saat sekelompok mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran, termasuk merobohkan patung Stalin di Budapest. Perang terjadi.

Hungaria chaos selama berhari-hari dan baru berakhir pada 4 November 1956. Peristiwa tersebut memakan jumlah korban jiwa 2.500 orang, 26 ribu orang ditahan, serta 1.200 lainnya dieksekusi mati.

Jika Anda jeli, sejatinya seluruh negara yang ikut serta dalam Euro 2016 memiliki partai komunis masing-masing. Bahkan, 11 negara di antaranya memiliki sejarah komunisme yang mengakar dalam masyarakatnya. Selain Albania dan Hungaria, ada Rumania.

Di bawah kendali kediktaktoran Nicolae Ceausescu, Rumania pernah mengalami abad kegelapan komunisme selama 24 tahun. Begitu pula halnya dengan Slovakia, Republik Ceko, Ukraina, Austria, Polandia, Kroasia, dan tentu saja Rusia.

Jangan pula lupakan Italia. Dengan romantisme Livorno dan Cristiano Lucarelli (ikon komunisme paling populer dalam dunia sepak bola), narasi ’’kiri’’ dimaknai dengan begitu seksi di kalangan ultras Indonesia.

Persoalan ini, saudara-saudara sekalian, sungguh berbahaya bagi stabilitas bangsa. Bukan tidak mungkin pengaruh-pengaruh halus komunisme dapat tersebar lewat iklan, kibaran bendera, atau nyanyian para ultras berhaluan kiri yang kebanyakan berasal dari negara Eropa Timur.

Bagi saya pribadi, demi menjaga keluhuran nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme negeri kita, tiada cara yang ampuh untuk menanggulanginya selain dengan memboikot tayangan Euro 2016. Hehehe...