Sabtu, 11 Juni 2016

Menghilangkan Ilusi Daging Sapi

Menghilangkan Ilusi Daging Sapi

Andi Irawan ;   Dosen Pascasarjana Program Studi Agrobisnis Universitas Bengkulu; Doktor Ekonomi Pertanian IPB
                                              MEDIA INDONESIA, 10 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           
                                                               
ILUSI konsumen itu sesuatu yang normal terjadi. Ia didefinisikan sebagai pengetahuan yang salah terhadap suatu produk yang dikonsumsi yang memengaruhi perilaku konsumen. Mungkin kita tidak sadar bahwa penyebab terjadinya kenaikan daging sapi yang berulang dari tahun ke tahun tidak lepas karena hadirnya ilusi ini di dalam persepsi masyarakat konsumen kita.

Harga daging sapi yang tinggi disebabkan kebutuhan kita yang tinggi pada komoditas tersebut di satu sisi, dan di sisi lain komoditas itu relatif tidak memiliki substitusi yang berarti. Lalu mengapa daging sapi menjadi semacam komoditas yang sepenting itu bagi kita? Hal ini disebabkan ilusi kita terhadap komoditas tersebut.

Kalau yang menjadi kepedulian kita dari konsumsi daging sapi ialah sisi kelezatan, bukankah banyak jenis daging lain yang harganya lebih murah dan bisa dikelola menjadi produk kuliner yang lezat sebagai substitusi daging sapi. Ambil contoh sederhana satai bisa dibuat dari daging kelinci, ayam, atau bahkan ikan dan rasanya tidak kalah lezat bahkan bisa lebih enak daripada satai daging sapi.

Kalau yang kita peduli dari konsumsi daging sapi karena kandungan gizinya sebagai sumber protein, bukankah masih banyak sumber protein yang setara bahkan lebih tinggi daripada daging sapi dengan harga yang jauh lebih murah. Sumber protein hewani yang setara dengan daging sapi antara lain ayam, belut, dan ikan. Bahkan, ikan bisa menjadi pilihan yang lebih baik daripada daging sapi karena di samping sumber protein juga mengandung asam lemak omega-3.

Terlebih lagi, daging sapi yang merupakan jenis daging merah (red meat) memiliki lebih banyak risiko bila dibandingkan dengan daging putih (white meat), seperti ikan atau ayam. Daging merah diketahui berkolesterol tinggi dan bisa jadi pendorong munculnya beberapa jenis kanker dan penyakit jantung. Artinya, pengalihan konsumsi dari daging sapi ke daging ayam atau ikan bisa bermakna memperbaiki kesehatan tubuh.

Di samping itu, dari perspektif ekonomi, ketergantungan konsumsi kita terhadap daging sapi bisa dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang menjadi ‘penumpang gelap’ dari kebijakan ‘swasembada daging sapi’ untuk mengeruk keuntungan yang tidak wajar.

Sebagaimana diketahui bahwa program swasembada daging sapi yang telah dicanangkan belasan tahun tersebut ternyata hanya menghasilkan harga daging sapi yang semakin tidak terjangkau oleh rakyat. Jelas, konsumen yang jumlahnya ratusan juta orang dirugikan dari kenaikan harga daging sapi. Lalu siapa yang diuntungkan?

Ada sebagian pihak yang mengatakan harga yang tinggi penting untuk menolong peternak rakyat sebagai produsen. Yang dimaksud dengan peternak rakyat ini ialah 60% peternak yang punya 1-2 ekor sapi. Namun, suatu kesalahan kalau kita melihat peternak rakyat tersebut sebagai produsen yang produksi komoditas daging itu. Pandangan seperti itu tidak tepat. Peternak kita tidak seperti peternak Australia yang mengelola ternak sepenuhnya dengan motif bisnis sehingga ternak bagi mereka merupakan komoditas komersial.

Namun, dalam kacamata usaha tani modern, peternak rakyat kita bukan produsen. Ternak sapi mereka bukan komoditas yang mereka produksi. Ternak bagi mereka ialah tabungan, bukan komoditas.

Dikatakan tabungan karena ternak itu dijual ketika dibutuhkan dana likuid yang besar untuk kepentingan strategis rumah tangga pada saat-saat tertentu, seperti menikahkan dan menyekolahkan anak.

Kebijakan proteksi seperti pembatasan impor sapi mempunyai argumentasi logis jika untuk melindungi peternak yang berstatus peternak produsen, sedangkan mayoritas peternak rakyat kita itu kategorinya bukan produsen. Mereka peternak dan penabung karena menjadikan sapi sebagai tabungan.

Lalu siapa yang sungguh-sungguh menikmati harga yang tinggi itu? Hanya segelintir pengusaha penggemukan sapi (feedloter) dan pengimpor daging sapi. Mereka ini tidak bisa disebut sebagai produsen karena feedloter dan importir daging bukan produsen sapi. Mereka pedagang daging.

Mayoritas sumber sapi mereka ialah impor. Produsennya ialah peternak Australia dan New Zealand. Artinya, kebijakan menaikkan harga daging sapi hanya menguntungkan peternak negara sumber impor sapi dan segelintir pengusaha feedloter serta importir. Padahal saat yang bersamaan, hal itu merugikan konsumen negara sendiri yang jumlahnya ratusan juta orang.

Sebagai konsumen, kita adalah raja. Demand create own supply. Begitu kata teori pemasaran. Dengan beralihnya Anda pada komoditas lain, permintaan sapi itu akan turun dan dampak harganya akan turun dengan sendirinya. Dengan demikian, kita tidak perlu menurunkan polisi untuk mencari di mana daging sapi itu ditimbun. Tidak pula perlu mengeluarkan dana dari pajak rakyat untuk membiayai impor daging dari luar melalui Bulog atau BUMN lainnya. Terlalu mahal biaya yang dikeluarkan negara dan itu pemborosan yang luar biasa.

Bahkan, perilaku konsumsi kita akan mengubah arti penting swasembada bukan pada ‘swasembada daging sapi’, tetapi pada swasembada daging saja. Dengan demikian, pengembangan peternakan juga bisa berdasarkan keunggulan lokal daerah. Daerah yang potensial kelinci tidak perlu dipaksa mengembangkan sapi, tapi cukup mengembangkan kelinci, sehingga ketahanan pangan kita lebih prima. Kenaikan satu komoditas daging tertentu seperti kenaikan harga daging sapi saat ini tidak membuat resah masyarakat karena bisa beralih pada komoditas daging lainnya (ayam, kambing, kelinci, itik, dan lain-lain). ●