Sabtu, 11 Maret 2017

Religious Literacy

Religious Literacy
Mohammad Nuh  ;    Guru Besar ITS Surabaya
                                                  KORAN SINDO, 05 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Seorang kakek yang tak bersekolah, tetapi memiliki ketajaman naluri, mengunjungi Jakarta untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun terpencil di pegunungan, bekerja keras membesarkan anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya di Jakarta.

Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota, orang tua itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar semacam itu di dusunnya yang sunyi. Dia berusaha keras mencari sumber bunyi tersebut.

Dia ikuti sumber suara sumbang itu dan tiba di sebuah rumah tempat seorang anak kecil sedang belajar bermain biola. ”Ngiiiik, ngooook!” Ini rupanya asal nada sumbang biola tersebut. Saat sang kakek mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan”biola”, dia memutuskan untuk tidak akan pernahmau lagi mendengar suara yang memekakkan telinga tersebut.

Hari berikutnya, di bagian lain kota, orang tua ini mendengar sebuah suara yang seolah membelai-belai telinga tuanya. Belum pernah dia mendengar melodi yang seindah itu di lembah gunung tempat dia tinggal. Dia pun mencoba mencari sumber suara tersebut. Ketika sampai ke sumbernya, dia tiba di ruangan depan sebuah rumah tempat seorang perempuan tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya.

Seketika si orang tua ini menyadari kekeliruannya. Suara tidak mengenakkan yang didengarnya kemarin bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak yang belum bisa memainkan biolanya dengan baik. Dengan kebijaksanaannya yang polos, orang tua itu berpikir bahwa mungkin demikian pula halnya dengan agama.

Sewaktu kita bertemu seseorang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar seorang pemula yang belum bisa ”memainkan” agamanya dengan baik. Namun ini bukanlah akhir dari cerita. Hari ketiga, di bagian lain kota, si orang tua mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan dan kejernihan suara sang maestro biola.

Suara apakah itu? Suarayangmelebihiindahnya gemercik aliran air pegunungan, melebihi merdunya kicau burung- burung pegunungan, suara terindah yang pernah didengar sepanjang hidupnya. Suara apakah gerangan yang telah menggerakkan hati si orang tua ? Itu suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni.

Bagi si orang tua, inilah alasan mengapa itu menjadi suara terindah yang pernah dinikmatinya. Pertama, setiap anggota orkestra merupakan maestro dalam memainkan alat musik masing-masing dan kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersamasama dalam harmoni.

”Mungkin ini sama dengan agama,” pikir si orang tua. Masalahnya bukan pada ajaran agama, tetapi pada keberagamaan. Bukan salah alat musiknya, tetapi pada cara kita memainkannya. Keindahan perilaku umat beragama sangat ditentukan oleh kemampuan memahami ajaran agamanya, kemauan dan kemampuan mengamalkannya secara baik dan benar.

Itulah religious literacy. Sikap curiga di antara umat beragama, merendahkan dan menghina agama dan pemeluknya, khotbah yang menjelekjelekkan agama lain, perilaku elite politik yang memolitisasi agama demi kepentingan sesaat, dan perbedaan beragama yang diarahkan untuk memecah belah sesama warga negara menjadi unsur destruktif yang luar biasa terhadap keutuhan dan kesatuan NKRI.

Memang setiap agama mengajarkan halhal tertentu yang sifatnya common. Kejujuran dan keadilan misalkan menjadi common value. Namun tetap harus dihormati, dihargai, dan dilindungi bagi mereka yang berkeyakinan bahwa agama yang dianutnya yang paling benar. Oleh karena itu, harmoni dalam kehidupan masyarakat yang majemuk akan tercipta apabila kita memiliki religious literacy yang berkualitas.

Selain berarti pengetahuan dan kemampuan memahami dan mengamalkan agama sendiri secara memadai, religious literacy adalah sikap terbuka untuk mengenal nilai-nilai dalam agama lain (lita‘ârafû). Dengan” melekagamalain” orangbisa saling mengenal, menghormati, dan menghargai, bergandengan, mengembangkan dan memperkaya kehidupan dalam sebuah persaudaraan sejati antarumat beragama, apa pun agamanya— meski kebenaran tentang keyakinan terhadap agama yang dianutnya menjadi kemutlakan.

Ekstremitas beragama biasanya muncul karena ketidakutuhan dalam memahami sistem ajaran suatu agama. Analoginya seperti orang yang belajar aritmatika: plus, minus, kali, dan bagi (+ - x :). Kalau orang baru belajar plus atau penambahan saja, lalu ditanya ”cari dua bilangan yang dioperasikan dengan aritmatika, yang hasilnya 10”. Orang itu pasti ngotot menyodorkan dua angka yang lebih kecil dari 10 seperti 8 + 2 atau 9 + 1.

Karena tahunya sebatas penambahan, tidak mungkin menyodorkan angka lebih besar dari 10. Namun, kalau tahu ada minus, ada bagi, dan ada kali, maka dua angka yang disodorkan tak mesti di bawah 10, tetapi bisa juga di atasnya. Bisa 15 - 5 dan sebagainya. Religious literacy lebih dari sekadar melahirkan toleransi, tetapi juga menumbuhkan usaha aktif untuk memahami orang lain.

Toleransi dapat menciptakan iklim untuk menahan diri, tetapi tidak untuk memahami. Meminjam ungkapan Nurcholis Madjid, religious literacy tidak boleh dipahami sekadar sebagai kebaikan negatif (negative good), hanya ditilik dari kegunaannya untuk mengikis fanatisme (to keep fanaticism at bay).

Tapi religious literacy harus dipahami dan dimaknai sebagai ”pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban” (genuine engagement of diversities within the bonds of civility). Pesan sang kakek di ujung kisah di atas juga layak kita simak: ”Marilah kita pelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran kehidupan. Kita semua adalah maestro di agama kita masing-masing. Dan sekarang saatnya kita bermain orkestra menyanyikan simfoni Indonesia Raya.”