Rabu, 29 Maret 2017

Musik dan Merdeka

Musik dan Merdeka
Jean Couteau  ;   Penulis Kolom UDAR RASA Kompas Minggu
                                                        KOMPAS, 26 Maret 2017


                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sabtu (18/3) pukul 21.00. Rhapsody Brahms oleh Cascade Trio sebagai latar belakang di Hotel Bali Padma.... Aku masih terpukau, hanyut di dalam perasaan tak bernama, hening di dalam alunan irama tembus makna. Namun, tiba-tiba-apakah hal itu adalah suatu penkhianatan terhadap musik atau kebalikannya suatu penghormatan-aku terbayang suatu jenggot, disusul, makin jelas, suatu kepala, lengkap dengan keffiyeh-nya. Tak ayal: itulah Raja Salman! Aku terjebak musik! Tetapi, seketika dentingan piano Rhapsody mengingatkanku: aku harus menolak.

Aku boleh melamun, tetapi tidak akan terbawa klise tentang kekayaan Salman, jumlah istrinya, hasrat halalnya, nasib TKI, dan aneka hal remeh serupa lainnya. Aku tidak akan berpikir tentang geopolitik minyak, keganasan ISIS, serta "kemustahilan" budaya Arab dan Islam pada umumnya untuk merangkul modernitas. Aku akan merdeka. Aku boleh hanyut membayangkan Salman, tetapi dia harus sebagai manusia biasa seperti aku, yang bisa jadi punggungnya sakit karena uzur, dan mampu juga terharu mendengar teriakan anak, kicauan burung, dan alunan musik yang mengheningkan.

Apakah aku begini karena musik memang membebaskan? Aku tidak tahu. Tetapi, ayo coba! Bagaimana jika aku menolak ditentukan oleh warisan identiter, pengaruh media, dan latar belakang sosio-kulturalku yang membuatku-atau bahkan memaksaku secara tak sadar-berpikir begini atau begitu, membuatku mengaitkan hidung dan keffiyeh Salman dengan ajaran Wahabi yang sempit, wanita berpakaian burka, kecurigaan perbuatan maksiat terselubung, dan aneka hal tak sedap lainnya yang didasari info yang separuh benar, separuh prasangka, dan bagaimanapun kerap keliru. Ya, susah, dong? Bagaimana cara merangkul manusia yang dikonstruksi sebagai liyan di dalam ruang kultural asal kita? Bagaimana memanusiakannya di dalam otak kita?

Jangan-jangan aku putus asa. Karena, meskipun mereka "yang liyan" itu berhadapan pula dengan prasangka yang tak kurang sempit seperti pradugaku di atas, pasti ada kalanya mereka pula, apakah karena pengaruh musik atau kicauan burung, ingin juga berpikir merdeka.

Bahkan, tak mustahil Raja Salman datang ke Bali tanpa pesan apa pun, tak dihinggapi tuntutan kaum Wahabi, tak peduli tentang siapa yang kafir, dan hanya ingin bersenang-senang dengan anak-cucunya. Tak mustahil dia sekali- kali bosan menjadi raja, bosan dimarahi istri, dan bisa memahami mengapa ada saja anak-cucu Saud yang bersedia dilukat (dibersihkan) di pura Hindu ketika tur wisatanya.

Maka, mari bermimpi sejenak. Siapa tahu, nun di Jakarta sana, seusai mendengar musik atau kicauan burung, seorang ulama pada saatnya tidak akan lagi memakai sorbannya, tidak akan peduli apabila ia tampil sebagai orang botak anonim di antara ribuan orang botak lainnya. Siapa tahu dia pun akan menjadi "merdeka", dan berkenan bersembahyang dalam alunan musik Jawa. Siapa tahu, terbawa musik ilahi entah asal mana, dia pun akhirnya bakal menjadi "merdeka" tidak lagi merasa wajib dideterminasi pilihan hidupnya oleh warisan identiter dan latar belakang sosio-kulturalnya.

Lebih jauh lagi. Apakah aneh bin ajaib? Siapa tahu juga, di Jakarta nun di sana, ketika tiba saatnya, tanggal 19 April nanti, semua warga kota akan tiba-tiba mendengar, datang dari entah mana, alunan musik dan kicauan burung. Siapa tahu mereka pun akhirnya akan merdeka. ●