Jumat, 24 Maret 2017

Jalan Menuju Masa Depan

Jalan Menuju Masa Depan
Christophe Bahuet  ;   UNDP Country Director
                                                        KOMPAS, 23 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) baru saja merilis Laporan Pembangunan Manusia 2016 dan Indeks Pembangunan Manusia yang melacak dan memberi peringkat kemajuan yang dicapai semua negara di dunia.

Laporan dengan judul Pembangunan Manusia untuk Setiap Orang memiliki pesan utama: seperempat abad terakhir, sejumlah aspek pembangunan manusia telah maju pesat, tetapi pencapaian tersebut belum memberi manfaat bagi setiap orang.

Ini pesan global. Pesan yang sangat relevan, baik untuk negara maju maupun negara berkembang, termasuk Indonesia. Selama bertahun-tahun, UNDP secara konsisten menyoroti pencapaian luar biasa Indonesia dalam pembangunan manusia. Sejak 1990 hingga 2015, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melonjak 30,5 persen dan kemajuan telah dicapai dalam tiga dimensi utama yang ditangkap IPM: pendapatan, kesehatan, dan pendidikan.

Pendapatan nasional bruto per kapita menjadi faktor kunci dengan kenaikan tajam IPM 135,4 persen dalam 25 tahun terakhir, tetapi bukan satu-satunya pendorong kemajuan pembangunan manusia di Indonesia. Kesehatan dan kondisi kehidupan masyarakat juga meningkat paling signifikan. Hal ini tecermin dalam indikator IPM kedua: harapan hidup saat lahir meningkat 5,8 tahun antara 1990 dan 2015. Pendidikan juga menunjukkan perubahan sangat baik dengan rata-rata lama bersekolah naik 4,6 tahun.

Tertinggi

Pencapaian ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan peningkatan pembangunan manusia tertinggi di Asia dan menempati kategori pembangunan manusia menengah dengan peringkat 113 dari 188 negara dan wilayah. Melihat tantangan ke depan, pertanyaan utama yang dihadapi Indonesia dan mitra-mitra pembangunan seperti UNDP, yang berkomitmen untuk mendukung pembangunan nasional, adalah: "bagaimana meningkatkan kemajuan pembangunan manusia untuk seluruh 255 juta penduduk Indonesia?".

Analisis IPM dalam laporan UNDP ini memberikan beberapa masukan. Pertama, kemajuan tiga indikator yang ditangkap IPM di tingkat nasional masih bisa ditingkatkan. Sebagai contoh, meski ada kemajuan, harapan hidup saat lahir di Indonesia saat ini 69,1 tahun. Namun, angka itu masih di bawah rata-rata 74,2 tahun untuk Asia Timur dan Pasifik. Kedua, analisis laporan ini menyebutkan bahwa kunci utama kemajuan pembangunan manusia yang signifikan di Indonesia terletak pada pengurangan ketimpangan, khususnya antara laki-laki dan perempuan.

Satu indeks saja tidak menceritakan kondisi keseluruhan. Seperti semua nilai rata-rata, IPM tak menunjukkan masalah ketimpangan yang dihadapi perempuan dan laki-laki, penduduk perdesaan dan perkotaan, serta kelompok populasi yang berbeda di mana beberapa lebih rentan daripada yang lain.

IPM dan ketimpangan

Itu sebabnya, pada 2010 UNDP memperkenalkan IPM yang disesuaikan dengan ketimpangan (inequality-adjusted human development index), yang melihat ketimpangan dalam tiga dimensi IPM dengan mendiskon nilai rata-rata setiap dimensi ini dengan tingkat ketimpangan masing-masing. Ketika ketimpangan di suatu negara naik, kemunduran pembangunan manusia juga ikut meningkat. Inilah yang terjadi dengan pembangunan manusia di Indonesia. IPM Indonesia 0,689, tetapi ketika angka itu disesuaikan dengan tingkat ketimpangan, indeks yang sama menjadi 0,563, turun 18,2 persen.

Turunnya indeks itu dapat dijelaskan dari ketimpangan pendapatan, perbedaan standar hidup, dan perbedaan akses layanan, baik antarprovinsi maupun antara daerah perkotaan dan perdesaan. Akan tetapi, kemunduran pembangunan manusia juga secara khusus disebabkan adanya ketidaksetaraan jender yang dianalisis secara mendalam di LPM 2016. Pada 2014, penghitungan IPM yang terpilah berdasarkan jenis kelamin mulai diperkenalkan yang memungkinkan UNDP menghitung dan membandingkan IPM untuk laki-laki dan perempuan. Namun, sayangnya, hasil menunjukkan, di sebagian besar negara di dunia, laki-laki dan perempuan tidak menikmati tingkat pembangunan manusia yang sama. Di Indonesia, indeks untuk laki-laki 0,712. Adapun untuk perempuan Indonesia hanya mencapai 0,66.

Mengurangi ketimpangan akan meningkatkan pembangunan. Inilah komitmen para pemimpin dunia dengan mengadopsi 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang dikenal sebagai SDGs di Kantor Pusat PBB pada September 2015. Dari 17 tujuan, di antaranya adalah Tujuan 5 tentang kesetaraan jender dan Tujuan 10 tentang pengurangan ketimpangan. Keseluruhan 17 Tujuan SDGs ini adalah untuk mengakhiri kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan kesehatan dan pendidikan, serta melindungi bumi kita.

Tujuan-tujuan itu menetapkan arah untuk masa depan yang lebih baik yang akan dicapai pada 2030. Dan untuk pertama kali dalam sejarah, tujuan-tujuan itu bersifat universal. Ini berarti tujuan itu adalah untuk negara-negara maju dan juga negara berkembang serta untuk setiap laki-laki, perempuan, dan seluruh anak di dunia sehingga "tidak ada satu orang pun yang tertinggal".

Indonesia terlibat aktif dalam agenda ini dengan dukungan kuat dari UNDP dan lembaga-lembaga PBB lain. Pemerintah dan masyarakat madani, sektor swasta, sektor filantropis, media, para aktor terkenal yang merupakan UNDP SDGs movers serta banyak pemangku kepentingan telah menyatakan komitmen mereka untuk mendukung SDGs. Momentum sangat kuat telah terjadi dengan berkembangnya inisiatif, baik di tingkat nasional maupun daerah, untuk mengubah SDGs menjadi kenyataan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Selain analisis mendalam, laporan pembangunan manusia UNDP yang baru, yang diluncurkan pekan ini di Jakarta, juga bertujuan untuk berkontribusi terhadap momentum SDGs.

Di dalamnya terdapat beberapa catatan, di antaranya pentingnya pertumbuhan yang inklusif melalui inklusi keuangan, investasi yang berfokus pada prioritas pembangunan manusia, pembangunan infrastruktur perdesaan, mobilisasi sumber daya untuk pembangunan manusia melalui ruang fiskal dan pembiayaan perubahan iklim, peningkatan perlindungan sosial, serta langkah afirmatif untuk kelompok marjinal dan rentan.

Banyak dari rekomendasi tersebut yang telah tecermin dalam Nawacita dan rencana pembangunan nasional, sedangkan sejumlah rekomendasi yang lain sedang dan dapat dikembangkan serta diimplementasikan di Indonesia. Melalui kantornya di Indonesia, UNDP siap untuk bekerja dengan semua mitra nasional dan internasional sehingga pembangunan manusia bermanfaat bagi semua orang dari Sabang sampai Merauke. ●