Kamis, 23 Maret 2017

Bisakah China Gantikan AS

Bisakah China Gantikan AS
Mira Murniasari  ;   Alumnus S-3 Hubungan Internasional
Southeast  Asia Studies Xiamen University, Fujian, Tiongkok
                                                        KOMPAS, 22 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Banyak pakar memprediksi China akan menggantikan posisi Amerika Serikat sebagai negara adidaya nomor satu dunia pada 2025-2030.
Berbagai langkah kebijakan luar negeri yang ditempuh Donald John Trump, antara lain menarik keanggotaan AS dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), bahkan dapat menjadi pintu masuk dan jalan bebas hambatan bagi China untuk segera menggantikan posisi AS dalam percaturan dunia.

Dalam pidato inaugurasi sebagai Presiden AS, Trump menegaskan visi "America First" dengan mengembalikan kejayaan Amerika, baik di dalam maupun luar negeri. Visi itu didasarkan pada tetap mempertahankan hubungan baik dengan banyak negara dan mengutamakan kepentingan AS, terutama rakyat AS.

Langkah pertama yang diambil Trump dalam mewujudkan ambisinya tersebut adalah dengan keluar dari TPP. Langkah kedua Trump juga sejak awal terus membangun hubungan bersitegang dengan China. Hal ini justru berbanding terbalik dengan visi teori "America First" Trump. Kedua langkah Trump itu justru mencerminkan AS menarik diri dari hubungan baik dengan banyak negara, khususnya China.

Mimpi dan kekuatan China

Sebenarnya, jika diamati, teori Trump sangat dekat dengan konsep "China Dream" yang dicetuskan Xi Jinping ketika terpilih sebagai kepala negara China dalam Kongres Rakyat Nasional (KRN) China pada 13 Maret 2013. Berbeda dengan langkah Trump, langkah Xi Jinping untuk mencapai mimpi China sebagai bangsa yang besar, negara yang kuat dan kaya, serta rakyat yang bahagia, adalah dengan realisasi yang bersifat internasional meski manfaat konsep bersifat ke dalam negeri.

Berbagai kebijakan Xi Jinping yang memilih berkembang dan maju bersama dengan negara sekitar, antara lain dengan  membangun kekuatan dengan negara sekitar (zhoubian waijiao), "One Belt One Road (OBOR)", dan The Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), yang merupakan bagian dari grand design China membangun "Jalur Sutra Maritim Abad-21" dan "Zona Ekonomi Jalur Sutra Baru".

OBOR-lah saat ini yang dijadikan China sebagai langkah strategis mendekati negara-negara di sekitarnya. Meski tidak dapat dimungkiri kebijakan OBOR ini tidak semua negara menyambut baik, setidaknya langkah China ini lebih halus dan tidak mengkhawatirkan dunia seperti "America First"-nya Trump.

Keluarnya AS dari TPP mendorong Australia, Selandia Baru, Jepang, dan Singapura mendekati China dan negara-negara Asia lain, termasuk Indonesia, mengajak bergabung dalam TPP. Namun, China terlihat "dingin" menanggapi permintaan ini.

China seolah menyadari posisi strategisnya. Sikap "kalem" menghadapi serangan Trump dan beberapa pembantunya menjadikan China sebagai pemegang kartu "As" dalam percaturan internasional. China akan memanfaatkan posisi ini dengan mengajak negara-negara sekitarnya terlibat dalam OBOR dan AIIB. Dengan demikian, China tentu akan memilih untuk tidak bergabung dalam TPP. Kendali memang ada di tangan China. OBOR dan AIIB tidak tertutup kemungkinan akan semakin mendunia, sedangkan TPP akan kehilangan kekuatan dan pengaruhnya jika tidak ada negara besar menopangnya.

Bahkan, kolom tajuk rencana koran Pemerintah China, People's Daily, pada 25 Januari 2015, secara khusus membahas tentang TPP dengan judul "Sudah Saatnya Mengucapkan Selamat Tinggal TPP".

China mempunyai "modal" besar untuk menggantikan posisi AS  dalam mewujudkan mimpinya. Modal pertama, China mempunyai dana besar dengan cadangan devisa 3,2 triliun dollar AS tahun 2016, terbesar di dunia, turun dari tahun 2015 yang mencapai 3,89 triliun dollar AS.

 Kedua, kekuatan militer yang juga relatif besar dan dilengkapi dengan peralatan militer yang canggih. Kekuatan militer China semakin tidak terbantahkan dengan rencana China meluncurkan kapal induk asli buatan sendiri pada 2017 ini.

Ketiga, dunia mengakui kekuatan dan pertumbuhan ekonomi China yang tertinggi di dunia. Keempat, China mempunyai kekuatan jaringan Overseas Chinese yang banyak menguasai ekonomi dunia. Kekuatan Overseas Chinese yang menjadi pilar diplomacy public China efektif membawa OBOR mendunia.

Perdana Menteri China Li Keqiang pada 6 Juli 2015 dalam konferensi pengusaha Overseas Chinese dan keturunan Tionghoa Dunia di Beijing menegaskan bahwa Overseas Chinese dan keturunan Tionghoa yang jumlahnya 60 juta orang adalah bagian penting dari keluarga besar China, dan perannya membantu China mewujudkan mimpi, adalah dengan menjadi "jembatan pelangi"  bagi China dengan negara di mana para Overseas Chinese dan keturunannya tinggal.

Mata uang China

Selain itu, pada peringatan 67 tahun berdirinya China, 1 Oktober 2016, mata uang renminbi (RMB), oleh lembaga keuangan dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), juga resmi dijadikan sebagai mata uang internasional. Bukan tidak mungkin RMB akan dapat menggantikan posisi dollar AS sebagai mata uang internasional utama dunia.

Indonesia mempunyai sekitar 20 juta keturunan Tionghoa. Tidak sedikit dari mereka yang masuk daftar orang terkaya dunia dengan jaringan bisnis yang mendunia.

Jika Pemerintah Indonesia jeli memanfaatkan potensi mereka, Indonesia sepertinya tidak perlu lagi mengandalkan investasi asing untuk membangun infrastruktur atau sektor-sektor lainnya agar dapat mendorong perkembangan ekonomi.

Berbagai keunggulan China seperti tersebut di atas sepertinya tidak dimiliki AS di bawah Trump saat ini. Meski demikian, China masih belum percaya diri dapat menggantikan posisi AS seraya menyatakan bahwa sampai 50 tahun ke depan pun China tidak akan mampu menggantikan posisi AS.

Jika benar ke depan China dapat menggantikan AS, ini menjadi catatan sejarah dunia baru bahwa Xi Jinping, hanya dalam hitungan jari tangan, berhasil membawa China mewujudkan "China Dream". ●