Senin, 20 Maret 2017

Mendaki

Mendaki
Samuel Mulia  ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                        KOMPAS, 19 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sekitar tiga minggu yang lalu, saya bersama seluruh karyawan kantor berwisata ke Gunung Bromo. Setelah menikmati indahnya bukit kehijauan dan gurun pasir kehitaman, tibalah waktunya mendaki ke kawah Gunung Bromo yang buat saya lumayan tinggi.

Singkat cerita, dari 23 manusia yang awalnya bercita-cita ingin menaklukkan gunung, 12 menyerah sebelum perang. Tentu, saya termasuk yang menyerah dan memilih leyeh-leyeh di sebuah warung kecil.

Malas bayar

Saya menyerah bukan karena keder melihat gunung yang tinggi dan tangga yang berjumlah 250 unit itu. Bukan juga karena saya tidak kuat karena suka terengah- engah kalau menaiki tangga, tetapi lebih karena rasa malas yang tiba-tiba muncul. Masalah malas inilah yang saya ingin ceritakan kepada Anda sekalian.

Mengapa rasa malas itu tiba-tiba muncul? Karena teriknya matahari meski angin dingin bertiup cukup kencang, karena dari kejauhan, gunung ini terlihat begitu tinggi meski teman-teman yang pernah mendakinya mengatakan tinggi tetapi pemandangannya luar biasa. Bahkan, ada yang mengatakan, kalau jarak tangganya pendek dan saya bisa beristirahat kalau kelelahan.

Hal kedua yang membuat malas, gara-gara salah satu rekan mengusulkan melihat dulu seperti apa keindahan kawah Gunung Bromo itu. Maka kami mencari gambar-gambar di internet melalui telepon genggam. Setelah melihat gambar-gambar itu, rasa malas saya malah menjadi-jadi dan kalimat seperti ini yang keluar sebagai reaksi dari melihat foto-foto itu. "Oh. gakusa kali, ya?"

Maka, siapakah yang bisa melawan rasa malas kalau ia muncul tiba-tiba, bukan? Maka, saya bersama 12 manusia lainnya memilih bersenda gurau di sebuah warung kecil bersama ibu pemilik warung. Setelah itu, kami kembali ke tempat penginapan dan kemudian makan siang karena perut sudah mulai bernyanyi.

Buat mereka yang mendaki dan berhasil melihat kawah Gunung Bromo itu, ceritanya berbeda dengan gambar yang saya lihat sebelumnya.

"Bagus banget, Mas." Ada rasa sesal yang menyelinap di dalam hati. Bukan menyesal karena tak dapat menikmati keindahan alam dari ketinggian itu, tetapi menyesal tak kuasa melawan rasa malas yang sangat.

Harus bayar

Sejujurnya, saya adalah orang yang pada awalnya mengajak untuk berwisata ke gunung. Alhasil, yang mengajak yang menyerah. Saya bertujuan menguji kegigihan setiap tim, ternyata sebagai pimpinan saya yang diuji bukan melalui pendakian, melainkan melalui rasa malas hanya melihat gambar dan teriknya matahari yang menyengat.

Dalam hidup, saya ini acapkali berdoa agar Tuhan mengaruniakan saya kesuksesan supaya bisa memiliki usaha seperti perusahaan-perusahaan raksasa. Saya ingin seperti mereka. Namun, setelah dipikir-pikir, saya ini hanya keseringan punya keinginan, tetapi keseringan ambruk di tengah jalan hanya karena persoalan-persoalan yang membuat rasa malas timbul.

Saya ini cuma keseringan berdoa dan keseringan memelihara rasa malas pada waktu yang bersamaan. Saya sendiri suka bingung dan sering bertanya kalau melihat perusahaan-perusahaan yang begitu raksasanya, apakah para konglomerat atau pemiliknya itu tak pernah memiliki rasa malas. Kalaupun mereka punya rasa itu, bagaimana cara mengatasinya?

Mendaki ke puncak sudah saya ketahui bahwa ada harga yang harus dibayar. Contoh sederhana saja, saya harus bangun tengah malam untuk pergi ke tempat pendakian hanya untuk melihat matahari terbit yang menyuguhkan pemandangan yang luar biasa.

Saya harus terkantuk-kantuk memakai baju dan berangkat, belum lagi diselimuti udara dingin yang betul menusuk tulang. Meski mendakinya sama sekali tidak terlalu tinggi, saya pun sudah tersengal-sengal.

Saya harus mengakui bahwa bangun tengah malam, kedinginan, dan terengah-engah itu memberikan pengalaman yang mengesalkan meski saya tahu selalu ada hasil dari sebuah pegorbanan apa pun bentuknya itu.

Kalau saja saya memilih tidak bangun tengah malam, dan memilih tidur nyenyak di ranjang empuk, saya tak akan mampu menikmati indahnya Gunung Semeru, hijaunya savana, saya tak akan mampu membagi kebahagiaan dan keindahan itu kepada banyak orang melalui akun media sosial saya.

Sekarang saya sadari bahwa rasa malas itu timbul karena saya malas membayar harga dari sebuah pendakian, dari sebuah kesuksesan yang ingin saya capai. Saya malas berjalan di bawah terik matahari, saya malas membayar harga atas doa-doa yang saya panjatkan agar bejana-bejana saya diisi dengan berlimpah oleh Tuhan Yang Maha Segalanya.

"Ya enggak papa sih bro kalau elo malas. Cuma doa elo itu mesti diganti. Gak usa lagi minta mau sukses, mau kaya raya, mau berhasil. Mending sekarangelo berdoa minta kemurahan Tuhan untuk diberi pencerahan agar elo bisa melihat kalau tempat tidur memang enak, tetapi disengat matahari dan kedinginan itu juga tak kalah nikmatnya. Malu kali minta sukses, tapi bayar harganya di tempat tidur." Begitu kata nurani saya.