Rabu, 29 Maret 2017

Agama Sumber Kekerasan?

Agama Sumber Kekerasan?
Komaruddin Hidayat  ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                  KORAN SINDO, 24 Maret 2017


                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Hari-hari ini muncul opini sangat kuat bahwa agama menjadi sumber keresahan dan kekerasan di berbagai belahan dunia. Betulkah demikian?

Karen Amstrong, mantan biara - wati yang sekarang paling aktif melakukan kajian sejarah agamaagama dan sangat produktif me - nulis buku tebal-tebal, secara tegas menyatakan “tidak”. Ini bisa dibaca dalam karyanya Fields of Blood: Religion and the History of Violence (2014) yang sudah di - alih bahasakan dan diterbitkan Mizan (2016). Menurut sejarawan militer, dalam setiap peperangan ter - dapat banyak faktor yang terlibat di dalamnya seperti faktor sosial, materiil, dan ideologis yang sa - ling berhubungan.

Dari semua itu alasan utamanya adalah berebut sumber daya yang langka. Begitu pun terorisme tak bisa dise derhanakan sebagai kekerasan agama meskipun sentimen aga ma ter libat di dalamnya. Mereka yang sudah terbentuk alam pikirnya dengan paham se kuler yang anti agama pun men jadikan agama sebagai kam bing hitam, lalu melepaskannya ke padang gurun politik. Mereka mengklaim bahwa monoteisme sangat tidak toleran dan agama tak mengenal kom promi. Mereka lupa bahwa perang dunia yang men - ciptakan trauma sejarah itu tidak dipicu agama.

Dulu pernah Kerajaan Islam berjaya, melampaui ke - kuasaan Barat. Tapi semua ne - gara yang hanya meng andal - kan per tani an pada akhirnya akan ke habis an sumber daya intrinsik yang terbatas, yang akan meng ham bat laju inovasi. Hanya bangsa dan negara in - dustri yang jauh lebih ber - peluang mem buat ke majuan melampaui kebutuhan zamannya. Mungkin ini yang menye - babkan kejayaan ilmu penge - tahuan di dunia Islam terhenti atau jauh ketinggalan dari Barat. Di sini faktor sains dan militer sangat berperan, bu - kan nya masalah agama.

Perlawanan agama muncul dengan kehadiran modernitas yang menguasai hampir selu - ruh lini kehidupan, lalu agama terpinggirkan. Ini dirasakan baik oleh Yahudi, Kristen mau - pun Islam. Kekuatan agama ingin mengembalikan roman - tisme masa lalu yang kemudian disebut sebagai kebangkitan fundamentalisme. Istilah kem bali ke fundamen ini di - cetuskan Protestan Amerika tahun 1920, yang kemudian dilekatkan pada semua gerakan keagamaan yang anti - modernitas. Gerakan funda - men talisme ini awalnya hanya sedikit yang melakukan keke - ras an.

Gerakan ini dipicu rasa takut dan terancam atas ke - kuatan sekuler yang akan menghancurkan kekuatan agama. Semacam paranoid. Komunitas Yahudi selalu me - ngenang pengalaman sangat pahit dari kekuasaan Hitler yang mau menghabisi mereka. Dalam sejarah Islam, ke - jatuh an Dinasti Usmani yang be rpusat di Turki juga me ning - gal k an tragedi berkelanjutan bagi dunia Islam di hadapan kekuatan Barat yang agresif.

Inggris dan sekutunya dengan se enaknya membagi dunia Islam menjadi negara-negara kecil berdasarkan kesukuan dan kebangsaan, suatu penga la man baru yang dipaksakan, jauh di luar jangkauan tradisi dan nalar umat Islam. Mereka ter kondi si - kan menghadapi dua kekuatan sekaligus, yaitu berhadapan de - ngan Barat yang agresif untuk menguasai sumber daya alam dan merusak tradisi mereka, dalam waktu yang sama juga dihadapkan pada persaingan militer dengan negara-negara tetangganya yang dahulu satu rumpun agama dan kekuasaan di bawah Turki Usmani.

Kisah tragis yang diciptakan Barat juga menimpa India yang kemudian melahirkan pecahan Pakistan dan Bangladesh. Dalam berbagai konflik itu sesungguhnya agama berposisi pinggiran, bahkan dimanipulasi seperti yang dilakukan Amerika masuk ke Afghanistan untuk menghadang pengaruh Rusia dengan mengerahkan ten tara Pakistan dan umat Islam lain dengan dalih agama, bagaikan David melawan Goliat. Sebuah jihad suci melawan kekuatan anti-Tuhan. Jadi, kata Amstrong, agama itu bagaikan cuaca yang bisa berubah-ubah.

Atau metafor kam - bing hitam sebagai penebus dosa manusia. Setiap kali ada keributan, lalu ramai-ramai me nun juk biangnya adalah “kambing hi - tam” agama untuk disem belih. Gejala ini juga bisa dimaklumi mengingat ketika terjadi pe - rebutan kekuasaan, misalnya pilkada atau pemilu, isu, simbol dan sentimen agama sangat man jur sebagai sarana ber tahan atau melancarkan se rang an terhadap lawannya.


( Maaf, masih dalam versi asli, belum di-edit )