Kamis, 23 Maret 2017

Pemilu Timor Leste, Pertarungan Masa Depan

Pemilu Timor Leste, Pertarungan Masa Depan
Ganewati Wuryandari  ;   Peneliti;
Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (P2SDR) LIPI
                                             MEDIA INDONESIA, 22 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Timor Leste menggelar pemilihan presiden. Negara yang terbentuk pada 2002 sejak lepas dari wilayah kedaulatan RI melalui referendum ini menyelenggarakan pemilu presiden yang ke-4 kalinya. Proses demokratisasi di negara termuda di Asia Tenggara ini juga menunjukkan kematangan yang diindikasikan dengan keberhasilannya menyelenggarakan pemilu dan pergantian kepemimpinan nasional yang berlangsung relatif aman. Sejak kemerdekaannya, Timor Leste telah tiga kali mengalami pergantian presiden, yaitu Xanana Gusmao, Ramos Horta, dan Taur Matan Ruak.

Ada delapan calon kandidat presiden yang bertarung dalam pemilihan pada Senin lalu. Enam kandidat diusung parpol, sementara tiga lainnya calon independen. Kedelapan kandidat Presiden Timor Leste itu ialah Francisco Guterres ‘Lu-Olo’ (Fretilin), Jose Luis Guterres (Frenti-Mudança), Antonio Maher Lopes (Sosialis Timor), Antonio da Conceicao (Demokrat), dan Angela Freitas (Trabalhista). Yang berasal dari independen, yakni Amorim Vieira, Luis Tilman, dan Jose Aniceto das Neves. Semua calon baru, kecuali Lu-Olo pernah mencalonkan diri pada Pemilu 2012.

Dari delapan kandidat menunjukkan pemilu presiden kali ini masih didominasi kelompok lama dan senior mantan pejuang kemerdekaan Timor Leste. Lu-Olo dan Jose Luis Guterres, misalnya, merupakan teman seperjuangan Xanana dan Ramos Horta dalam memperjuangkan kemerdekaan Timor Leste dan pembentukan Partai Fretilin. Partai ini pecah, Xanana membentuk CNRT dan Luis Guterres mendirikan Frenti-Mudanca. Jose Aniceto dari unsur independen juga mantan pemimpin gerilya dan pernah menjadi deputi komisioner Komisi Anti-Korupsi hingga Juli 2016.

Karena itu, pemilu ini sangat penting. Itu tidak saja akan menjadi kesempatan terakhir bagi calon kandidat senior di arena pertarungan memperebutkan peluang mendapatkan posisi politik penting di Timor Leste, sebelum akhirnya lengser memberikan kesempatan pemimpin-pemimpin muda tampil. Dapat dipahami jika Francisco Guterres alias Lu Olo, yang didukung Fretilin, merupakan kandidat favorit menjadi Presiden Timor Leste.

Tidak saja berasal dari partai dominan Fretilin, Lu Olo salah satu mantan pejuang yang hingga saat ini belum mendapatkan ‘jatah’ duduk dalam jajaran pemerintahan Timor Leste. Rekan seperjuangannya, antara lain Xanana, Mari Alkatiri, Taur Matan Ruak, dan Ramos Horta pernah menduduki berbagai jabatan penting. Pada Pemilu Parlemen 2007, Francisco Guterres sebagai pemimpin Partai Fretilin yang memenangi pemilu itu sebetulnya memiliki peluang menduduki kursi PM. Namun, partai yang menguasai mayoritas kursi di parlemen ini gagal meloloskannya. Dia kalah suara dengan Xanana yang menggalang koalisi dengan parpol lainnya.

Dengan adanya dukungan dari Xanana Gusmao dan Partai CNRT pada pilpres kali ini, kesempatan Lu Olo untuk menang semakin mulus. Dukungan penuh Partai CNRT itu, dengan tidak ada satu pun anggotanya yang dicalonkan untuk kandidat capres pemilu kali ini. Padahal, kemungkinan untuk menang juga terbuka lebar karena CNRT partai terkuat kedua setelah Fretilin pada Pemilu 2012 lalu.

Namun, peta politik bisa saja berubah. Jalan menuju kursi Presiden 2017 ini tidak semudah di atas kertas untuk Lu Olo. Antonio da Conceicao dan Luis Guterres, misalnya, merupakan dua calon kandidat yang diusung dua partai kuat, yaitu Partai Demokrat Timor Leste dan Frenti-Mudanca yang menduduki urutan ke-3 (delapan kursi di parlemen) dan ke-4 (dua kursi di parleman) pemenang Pemilu 2012.

Selain didukung partainya sendiri, Conceicao juga didukung Partai Pembebasan Rakyat (PLP) yang baru terbentuk dan mendapat dukungan Presiden Timor Leste saat ini, 'Taur Matan Ruak'. Taur Matan Ruak tidak mencalonkan kembali pada pilpres kali ini. Diprediksi, dia akan maju pada pencalonan PM dalam pemilu parlemen Juli 2017.

Siapa pun yang memenangi pemilu presiden kali ini, presiden terpilih akan menghadapi tantangan sangat berat. Negara termuda di Asia ini ke depannya akan menghadapi masa kritis. Terutama masih harus berjuang melawan kemiskinan, korupsi, patrimonialisme, dan ketergantungan pada minyak. Hampir separuh populasi penduduknya yang berjumlah 1,1 juta jiwa masih hidup miskin.

Timor Leste yang menggantungkan sumber pendapatan utama dari minyak dan gas juga menghadapi persoalan serius. Sejak 2014, Kitan yang menjadi ladang minyak Timor Leste berhenti beroperasi. Perjanjian Timor Leste dan Australia untuk kerja sama eksplorasi minyak dan gas sudah habis. Sementara, upaya pemerintah Timor Leste negosiasi perbatasan maritimnya secara permanen dengan negara itu juga belum direspons baik.

Di tengah ketidakpastian dan kegagalan melakukan diversifikasi sumber pendanaan selain minyak, Timor Leste menghadapi masa yang kian sulit di masa depan. Apalagi, jika belanja pengeluaran pemerintah seperti yang dilakukan selama ini, menurut La’o Hamutuk, sebuah organisasi nonpemerintah di Timor Leste, diperkirakan dana yang diperoleh dari minyak pemerintah akan habis dalam 12 tahun mendatang.

Timor Leste telah berjuang dan bersusah payah untuk membangun konsolidasi demokrasi melalui pemilu yang berjalan aman dan ini semakin diperkuat dengan Pilpres 2017 yang berjalan kondusif. Namun, demokrasi yang semakin matang yang didukung dengan stabilitas keamanan yang mantap itu juga bisa berubah drastis, jika Timor Leste dihadang krisis sosial ekonomi yang pada akhirnya akan memunculkan instabilitas. Ini tentu merupakan pertaruhan masa depan Timor Leste. ●