Minggu, 19 Maret 2017

Mimpi-Mimpi KH Hasyim Muzadi

Mimpi-Mimpi KH Hasyim Muzadi
Abdul Mu'ti  ;   Sekum PP Muhammadiyah;  Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
                                                  KORAN SINDO, 17 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun Artikel ini saya tulis di Kompleks Pondok Pesantren al-Hikam 2, Depok. Selanjutnya disebut pondok. Saya menulis di tengah ribuan manusia yang berkumpul untuk menyalatkan dan mengikuti pemakaman KH Hasyim Muzadi.

Selanjutnya saya sebut Kiai Hasyim–sapaan akrab dan hormat saya kepada beliau. Sejak pagi ribuan pelayat sudah menunggu kedatangan jenazah pendiri dan pengasuh Pondok al-Hikam itu. Walaupun sudah sering sekali mendengar perihal Pondok al-Hikam dari Kiai Hasyim sendiri maupun dari anak dan menantu beliau, saya baru berkesempatan berkunjung pada saat takziah, ketika Kiai Hasyim sudah wafat, kembali ke haribaan Allah, Sang Khalik, yang menciptakan kehidupan dan kematian.

Saya mengenal beliau secara pribadi sejak 2002. Waktu itu saya menjadi ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah dan Kiai Hasyim menjadi ketua umum TanfidhiyahNU. Sejakitusaya sering bersama beliau dalam berbagai kesempatan sebagai naib amirul haj, anggota Indonesia- United Kingdom Islamic Advisory Board, seminar, dan kesempatan lainnya. Beberapa kali Kiai Hasyim saya undang mengisi pengajian di PP Muhammadiyah, Jakarta.

Melalui berbagai pertemuan itulah, saya mengingat dengan baik mimpi-mimpi Kiai Hasyim. Dalam berbagai kesempatan Kiai Hasyim menceritakan panjang lebar tentang mimpimimpinya mengenai umat, bangsa, dan alasan beliau mendirikan pondok. Pertama, mimpi tentang persatuan umat Islam. Sebagai tokoh dan pemimpin NU, Kiai Hasyim sangat dekat dengan Muhammadiyah. Semasa kepemimpinan Kiai Hasyim, hubungan NU dengan Muhammadiyah sangat dekat.

Antara Kiai Hasyim dan Pak Din Syamsuddin terjalin komunikasi yang akrab. Selain sama-sama alumnus Pondok Gontor, visi keumatan dan kebangsaan keduanya banyak persamaan. Kata Kiai Hasyim dalam sebuah kesempatan, Muhammadiyah dan NU itu ibarat sepasang sandal. Keduanya tidak mungkin bertukar posisi, tapi tidak mungkin dipisahkan. Kalau antara sandal kanan dan kiri tidak serasi, akan terlihat aneh dan ganjil.

Karena itu, semasa kepemimpinan Kiai Hasyim sering ada pernyataan bersama antara Muhammadiyah dan NU. Pemimpin Muhammadiyah dan NU saling mengunjungi tidak sebatas acara seremonial, tetapi juga personal, nonformal. Kedua, mimpi membangun generasi muslim yang kuat. Mereka adalah generasi muslim yang taat beribadah, mendalami agama, berakhlak mulia, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kekuatan ekonomi.

Atas dasar itulah, Kiai Hasyim mendirikan Pondok al-Hikam dan sebuah sekolah tinggi agama. Santri Pondok al-Hikam adalah para mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Di kampus ternama ini para mahasiswa mempelajari ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai bidang. Dari kampus mereka mendapatkan bekal dan modal untuk memasuki dunia profesional dan global.

Bekal dan modal modernitas itu diperkuat dengan ilmu agama yang memungkinkan mereka melakukan integrasi keilmuan dan memperkuat keagamaan serta kepribadian muslim. Kiai Hasyim mendirikan sekolah tinggi agama untuk anakanak muslim penghafal Alquran dari keluarga tidak mampu. Mereka tidak dipungut biaya. Kiai Hasyim ingin sekali mengangkat kesejahteraan ekonomi dan kehidupan melalui pendidikan.

Karena mereka belajar agama, Kiai Hasyim ingin memberikan keterampilan hidup sehingga ketika kelak lulus mereka menjadi ulama yang mandiri secara ekonomi. Dalam sebuah kesempatan Kiai Hasyim mengutarakan niatnya mendirikan pabrik dan industri yang menampung para santri dari keluarga tidak mampu. Ketiga, mimpi menjadikan Indonesia sebagai model Islam rahmatan lil alamin.

Kiai Hasyim berkeinginan kuat meningkatkan rasa percaya diri umat Islam Indonesia dan mengembangkan Islam yang ramah dan rahmah ala Indonesia ke mancanegara. Kiai Hasyim tidak setuju dengan istilah dan konsep Islam Nusantara yang menurutnya problematik. Membangun Islam yang rahmatan lil alamin dimulai dari penampilan yang rapi dan tidak eksklusif. Kiai Hasyim mengkritik penampilan muslim yang berjenggot dan jambang panjang, berewok, dan pakaian yang kumal.

Kata Kiai Hasyim, penampilan tersebut tidak menarik dan tidak membuat orang simpatik baik bagi sesama muslim apalagi bagi nonmuslim. Mimpi Kiai Hasyim menjadikan Islam rahmatan lil alamin diwujudkan melalui berbagai ikhtiar. Salah satunya membuka cabang istimewa NU di luar negeri. Sekarang sudah berdiri cabang NU 20 negara lebih. Memang belum semua aktif, tetapi sudah cukup menjadi awal internasionalisasi NU.

Bersama Din Syamsudin, Kiai Hasyim berusaha membawa Indonesia berperan aktif dalam perdamaian internasional. Jika Din Syamsudin mendirikan Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilization (CDCC) yang rutin menyelenggarakan World Peace Forum (WPF), Kiai Hasyim mendirikan International Conference of Islamic Scholar (ICIS).

Dengan dukungan pemerintah, khususnya Kementerian Luar Negeri, dan berbagai pihak, ICIS berhasil menghadirkan para ulama dan umara muslim dari berbagai negara untuk menyampaikan gagasan-gagasan besarnya tentang dunia Islam yang damai dan maju. Kiai Hasyim bersama Din Syamsuddin aktif di World Conference of Religion for Peace (WCRP), sebuah forum lintas iman yang aktif menggalang perdamaian dunia. Kini Kiai Hasyim sudah tiada.

Sekarang ini beliau mungkin sudah tersenyum bahagia menggapai impiannya masuk surga. Tinggal bagaimana generasi bangsa, khususnya umat Islam, dapat melanjutkan perjuangan dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Selamat jalan Kiai Hasyim Muzadi. Beristirahatlah dalam damai dan rida Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Sekarang atau nanti kami akan menyusulmu.