Rabu, 29 Maret 2017

Yaelahh.

Yaelahh.
Samuel Mulia  ;   Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                        KOMPAS, 26 Maret 2017


                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Waktu seorang staf saya mengunggah foto dengan keterangan yang menggambarkan bahwa ia tak mampu menaiki tangga sebanyak 250 di Gunung Bromo, tiga temannya memberikan komentar seperti ini.

Satu orang mengomentari seperti ini. "Gakberasa, kok." Satu lagi sangat singkat. "Jompoooo!" Dengan tambahan emoticontertawa di belakangnya. Yang terakhir menulis dengan tajam. "Yaelahhh cumasegitu doang deh tangganya. Tanggung, deh!"

Aku bisa, kamu bisa

Sungguh saya tertarik pada ketiga komentar itu, dan komentar itulah yang memberi ide untuk menulis dan menyuguhkannya pada bapak, ibu, dan saudara-saudari sekalian. Saya tak mengenal ketiga orang yang memberi komentar itu. Saya juga tak mewawancarai mereka mengapa mereka sampai menulis komentar semacam itu.

Saya berasumsi bahwa komentar yang pertama bertujuan meyakinkan bahwa menaiki tangga dengan anak tangga sejumlah 250 itu tak akan membuat seseorang kelelahan, dan itu akan dijalani dengan sangat cepat sampai tak berasa.

Komentar kedua yang super singkat saya yakin itu hanya guyonan semata meski menyindir. Saya tahu bahwa itu menyindir karena ada emoticon yang ditambahkan setelahnya. Kadang untuk menetralkan komentar yang seperti belati paling mudah menambahkan emoticon semacam itu.

Komentar ketiga saya berasumsi bahwa ia melecehkan kemampuan staf saya. Cuma 250 anak tangga doang saja tak bisa diselesaikan. Jenis komentar seperti yang terakhir ini sering digunakan untuk menjadi pecut agar seseorang bisa menyelesaikan apa pun sampai garis akhir.

Ketiga komentar itu mengingatkan saya pada ungkapan, kalau aku bisa, kamu juga bisa. Kalau aku kuat sampai ke puncak, kamu juga kuat dan bisa sampai ke puncak. Kalau aku bisa juara satu, kamu juga bisa juara satu. Kalau aku merasa itu cuma segitu doang, kamu juga bisa berpikir bahwa itu cuma segitudoang.

Namun, benarkah demikian? Saya percaya bahwa ketiganya hanya mengomentari tanpa berpikir panjang. Mereka mengomentari dari sudut pandang mereka semata. Saya juga tak tahu, apakah mereka tahu bahwa pergelangan kaki staf saya baru selesai sembuh dari keseleo gara-gara main basket karena kakinya tak kuat menyanggah berat badannya.

Kebesaran atau kekecilan

Di masa saya masih anak-anak dan remaja, saya sering dicekoki falsafahyaelah cuma segitu doang. Falsafah enggak berasa kok. Gara-gara itu saya tumbuh menjadi manusia yang malah tidak percaya diri.
Saya acap kali memaksakan diri untuk bisa seperti mereka yang mengatakan dengan ringan yaelah cuma segitu doang, padahal saya tahu kemampuan saya tak bisa seperti mereka. Maka, saya tertatih-tatih oleh sebuah keadaan.

Sekarang saya menyadari bahwa kepala sekolah saya di masa sekolah dasar dulu mengatakan, kepandaian saya seperti ayam tanpa otak karena tidak pandai berhitung. Itu mungkin ia berpikir seperti ketiga manusia di atas.

Bahwa kalau murid yang lainnya bisa, saya juga seharusnya bisa. Mungkin di masa itu kepala sekolah saya juga berkata dalam hati, yaelah cuma segitu doang masak gak bisa. Tetapi, apa kenyataannya?

Yang juara satu itu hanya ada satu. Berarti sisa murid lainnya tidak mampu menjadi juara. Kalaupun juara, hanya di posisi dua atau tiga. Jadi, kalau aku bisa juara, kamu belum tentu bisa jadi juara. Tetapi, rupanya dunia tak suka dengan falsafah itu sehingga falsafah kalau aku bisa juara, kamu bisa juara tetap dikakukan sampai hari ini meski memakan korban.

Bagaimana kalau staf saya merasa bahwa Gunung Bromo itu tinggi untuk ukurannya? Mengapa orang harus memaksakan ukuran mereka untuk staf saya yang berbeda dengan mereka, dan mengatakan dengan ringan yaelahcuma segitu doang?

Bagaimana kalau sekarang saya yang suka durian memaksa mereka yang tidak suka durian untuk menyantapnya dengan mengatakan gak berasa, kok, baunya, enak banget. Yaelah bau cuma segitu aja uda nyerah. Tanggung deh! Bagaimana kalau begitu?

Membaca komentar tiga anak manusia itu mengingatkan saya pada kegiatan profesional setiap hari. Ada klien yang selalu mengatakan bahwa kita mesti seperti bank itu, mesti seperti perusahaan itu. Saya sampai berpikir mengapa harus begitu? Mengapa senang sekali memakai pakaian orang lain untuk ukuran badan kita yang berbeda?

Dan, di sisi lain, mengapa orang lain juga merasa senang sekali mendandani diri kita dengan menggunakan pakaian mereka, dengan cara mereka berdandan? Bagaimana kalau nanti kekecilan atau bahkan kebesaran?

Apakah mungkin kesenangan yang sesungguhnya itu justru melihat orang lain kesesakan atau kebesaran? Melihat orang lain terengah-engah seperti orang jompo yang dipaksa naik gunung? ●