Senin, 20 Maret 2017

Tulip

Tulip
Trias Kuncahyono  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                        KOMPAS, 19 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Istanbul, suatu hari. Ketika hawa musim dingin masih belum berlalu sepenuhnya, bunga tulip bermekaran. Taman di antara Masjid Biru dan Hagia Sophia berwarna merah, kuning, putih, ungu, merah jambu, dan putih berujung ungu. Indah!

Itulah sebabnya, Omar Khayyam (18 Mei 1048-4 Desember 1131), atau yang sering ditulis Umar Khayyam, penyair kondang dan astronom Parsi, terpesona serta membuat puisi "Tulip Bunga Surga". Ya. Tulip bunga surga.

"Bulan April, datanglah kembali ke Istanbul, Anda akan menikmati indahnya tulip," tutur seorang kawan.

Seperti yang ditulis Rumi-nama lengkapnya Moulana Muhammad Jalaluddin Rumi, seorang sufi yang lahir pada 30 September 1207, di Balk, Khorasan, sekarang masuk wilayah Afganistan-dalam puisinya, bunga tulip memang indah menawan:

Di taman ada beratus-ratus kekasih nan menawan

Bunga mawar dan bunga tulip menari berputar-putar

Di anak sungainya mengalir air bening,

Semuanya ini hanyalah helat (dalih)--itulah Dia!

Rumi juga menulis:

Desember dan Januari berlalu

Tulip bermunculan. Ini saatnya menikmati

bagaimana pohon bergoyang ditiup angin

dan mawar tak pernah istirahat.

Tulip memang indah. Tulip mepesona. Keindahan itulah yang diboyong ke Belanda, ratusan tahun silam. Belanda pun disebut "negeri bunga tulip". Bunga tulip menjadi identitas Belanda, selain kincir angin, selain sepak bola total football. Tetapi, tulip tetaplah yang paling indah.

Walau sangat identik dengan Belanda dan menjadi identitasnya, ternyata tulip bukanlah bunga asli Belanda. Bunga ini sebetulnya berasal dari Asia Tengah. Dahulu kala bunga itu tumbuh secara liar di kawasan Pegunungan Pamir, stepa di Kazakhstan, dan Pegunungan Hindu Kush. Karena keindahan serta kecantikannya, penguasa Ottoman terpesona dan tertarik sehingga pada tahun 1080 mereka mulai membudidayakannya.

Pembudidayaan tulip meluas hingga ke Rusia, pesisir Laut Hitam, dan Krimea. Bunga Tulip semakin populer karena keindahannya.

Tulip menjadi sangat populer pada masa pemerintahan Khalifah Sulaiman yang memerintah tahun 1520-1566. Kekuasaan Kekhalifahan Ottoman pada masa itu membentang dari Tripoli sampai Teluk Persia dan juga meliputi daratan Eropa, Hongaria. Ada yang menyebut masa itu disebut sebagai "Abad Tulip". Pada masa ini pula, bunga tulip diperkenalkan ke Eropa (Austria).

Adalah Augier Ghislain de Busbecq, yang juga disebut Ogier Ghiselin de Busbeck (1522-1592), seorang diplomat yang menjadi duta besar untuk Konstantinopel (sekarang Istanbul). Dialah yang membawa umbi, biji, dan bunga tulip ke Vienna. Ia lalu memberikan kepada temannya, antara lain Carolus Clusius, seorang ahli botani.

Carolus Clusius (1526-1609) mencoba menanam beberapa biji tulip di Leiden, Belanda. Mulai saat itulah tulip tumbuh dan berkembang di Belanda. Seiring perjalanan waktu, budidaya tulip menjadi industri. Dan, Belanda-bukan Turki, negeri asal muasal tulip-mendapat sebutan "Negeri Tulip".

Akan tetapi, pemilu di Belanda kemarin, seperti menghilangkan keindahan tulip, keindahan Belanda. Belanda yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang sangat toleran, bangsa yang easygoing dan kaya, tetapi sejak kampanye pemilu lalu telah berubah menjadi xenophobia dan rasis. Semua itu karena politisi berambut aneh-yang dimaksud adalah Geert Wilders yang berambut pirang seperti Donald Trump, dari Partai Kebebasan (Partij voor de Vrijheid, PVV)-yang mengatakan hal-hal yang secara politik tidak benar. Begitu kata Leon de Winter, seorang novelis dan komentator politik di De Telegraaf.

Leon de Winter menulis, pada 1960-an dan 1970-an, Belanda mengundang para tenaga kerja dari Maroko serta Turki untuk bekerja ketika perekonomian Belanda sedang tumbuh. Ledakan ekonomi berhenti, tetapi para pekerja tetap tinggal di Belanda dan menciptakan kelas bawah imigran Muslim yang berketerampilan rendah.

Anak keturunan mereka kini tinggal di "kampung-kampung" Maroko dan Turki. Mereka kebanyakan drop out sekolah. Banyak dari mereka yang melakukan tindak kriminal, tetapi banyak pula yang lebih religius dibandingkan dengan kakek moyang mereka.

Hidup mereka tergantung pada santunan pemerintah (Belanda negara walfare state). Mereka adalah separuh dari penerima santunan pemerintah. Padahal, jumlah mereka hanya 11 persen dari total penduduk Belanda, sekitar 17 juta jiwa. Sekarang bahkan ditambah imigran dari Somalia yang mencari suaka.

Padahal, masih menurut Leon de Winter, orang-orang Belanda disiplin, pekerja keras, terpelajar, dan berpikiran terbuka, toleran dan anti otoritarian. Kata Claus Hecking, seorang wartawan, Belanda adalah bangsa kosmopolitan, toleran, serta makmur. Bahkan, De Winter menambahkan, Belanda adalah bangsa yang sangat sekuler di dunia.

Gambaran seperti itu mendadak berantakan karena ulah Geert Wilders, yang anti imigran, anti Muslim, anti Uni Eropa (Belanda salah satu negara pendiri Uni Eropa), dan pendukung Brexit. Selama kampanye, Wilders "meminjam" slogan Trump, "Make America Great Again" menjadi "Make the Netherlands Great Again". Itulah sebabnya, CNN menyebut Wilders sebagai "Dutch Donald Trump".

Kata De Winter, ketegangan di Belanda saat ini bukan karena masalah uang (kesejahteraan). Tetapi, pengalaman dua kali pembunuhan politik-terhadap Pim Fortuyn, seorang kandidat perdana menteri, profesor gay dan Theo van Gogh, sutradara film-yang menjadi benih sikap intoleran Wilders. Apa pun, sikap dan pandangan hidup Geert Wilders telah merusak Belanda yang terbuka dan toleran; telah mengurangi keindahan bunga tulip yang selama ini memesona, persis seperti negeri kita ini, yang pelan-pelan sulaman keindahannya mulai robek.