Rabu, 22 Maret 2017

Mendesak, Buku Pendidikan Seks yang Disertifikasi MUI

Mendesak,
Buku Pendidikan Seks yang Disertifikasi MUI
Iqbal Aji Daryono  ;   Praktisi Media Sosial; Penulis Buku "Out of The Truck Box"; Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                    DETIKNEWS, 21 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"Bu', what is sex?" tanya anak saya suatu malam. Gara-garanya, terbuka olehnya halaman buku yang memuat kata 'sex' pada judul salah satu bab. Itu adalah buku berjudul Question Children Asks karya Dr. Miriam Stoppard, sebuah buku bagus yang ditujukan untuk dibaca bersama-sama oleh anak dan orang tua.

"Seks itu jenis kelamin. Ada laki-laki, ada perempuan. Itu namanya seks," jawab istri saya. Anak saya pun manggut-manggut dan tidak lagi bertanya.

Saya mendengar obrolan mereka. Tentu jawaban istri saya benar, bahwa seks adalah jenis kelamin. Namun sebenarnya pembahasan di halaman buku yang tertangkap mata anak saya lebih jauh dari itu. Ada ulasan tentang bagaimana caranya muncul adik bayi di dalam perut ibu, tentang fungsi organ genital, tentang rangsangan-rangsangan seksual, dan beberapa subtopik lainnya terkait seks.

Sebenarnya, itu pintu masuk yang bagus untuk memberikan penjelasan lebih jauh kepada anak kami. Umurnya sudah tujuh tahun lebih, dan sudah saatnya mulai memahami hal-hal semacam ini. Apalagi dalam buku yang saya sebut itu ada pembagian tipe jawaban untuk empat rentang usia, yakni 2-4 tahun, 4-6 tahun, 6-8 tahun, dan 8-11 tahun. Jadi sebenarnya malah sudah sangat terlambat.

Entah, apakah istri saya melanjutkan obrolan mereka di lain waktu atau tidak. Tapi saya sendiri sih sampai sekarang belum mengajak anak kami bicara soal itu. Alasan saya sangat ideologis: malas dan malu heuheuheu.

Saya yakin, problem malas dan malu itulah yang kerap terjadi manakala orang tua Indonesia dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan anak tentang seks. Bahkan saya yang tidak soleh-soleh amat ini pun merasakan hal serupa. Rasanya, selama masih ada bahan obrolan lain dengan anak di luar soal itu, mendingan yang lain-lain itu dulu deh yang dibicarakan.

Sialnya, sementara kita membiarkan rasa sungkan semacam itu terus ngendon di kepala kita, perkembangan di luar rumah berjalan jauh lebih cepat daripada yang kita duga. Bukan lagi sekadar tantangan, melainkan sudah dalam wujud ancaman-ancaman mengerikan.

Apa yang terjadi kemarin hari sudah begitu nyata menampar kita, ketika jaringan pedofil yang berkumpul di grup Facebook Official Lolly Candy's terbongkar. Korban-korban mereka adalah anak-anak berusia 3-9 tahun, satu fakta yang membuat kita harus melemparkan jauh-jauh jawaban "Ah ngomongin soal itu nanti aja lah, kalau dia udah agak gedean dikit." Orang tua menunda sampai anak gedean dikit, sementara para iblis itu tak sudi menanti.

Selama ini, agaknya kita takut dengan pengetahuan. Kita selalu mengira bahwa pengetahuan tak lebih dari "sarana untuk melakukan". Jarang terpikir oleh kita, bahwa pengetahuan pun merupakan instrumen dasar untuk menangkal kekeliruan.

Coba diingat, bagaimana respons publik terbanyak pada kasus buku berjudul Aku Belajar Mengendalikan Diri karya Fita Chakra yang tempo hari bikin heboh dan membuatnya ditarik dari peredaran. Ya, publik menyebutnya sebagai "buku yang mengajari anak bermasturbasi". Bahkan tak tanggung-tanggung, beberapa lembaga pemerintah pun turut mengecam buku itu dengan alasan yang sama.

Saya sendiri setuju bahwa ada yang kurang komunikatif disampaikan buku itu sejak halaman sampul, yang semestinya minimal diberi kode "Bimbingan Orang tua". Namun kalau mau membuka isinya secara utuh, sudah jelas bahwa materinya mesti dibaca anak dengan didampingi orangtua. Topik masturbasi sendiri pun diposisikan sebagai sesuatu yang mesti diredam orang tua dengan teknik-teknik pengalihan tertentu pada buku itu.

Sementara, bagaimana anak akan paham apa itu masturbasi jika tak diberi gambaran mengenainya? Atau kita lebih suka jika anak-anak kita, yang mungkin hanya bisa kita awasi beberapa jam tiap harinya, bereksplorasi sendiri tanpa rambu-rambu dari orang tua?

Zaman sudah berubah, Sodara. Saya tidak sedang mengatakan bahwa nilai-nilai sosial maupun nilai moral dan kesantunan harus diubah. Namun lingkungan, akses-akses informasi, mengalami perubahan pesat yang menuntut penyesuaian metode kita dalam mendidik anak-anak.

Bapak-ibu saya dan generasinya mungkin masih bisa berpikir bahwa dalam soal seks yang penting anak-anak dijaga agar bergaul dalam lingkungan yang baik, berteman dengan rekan-rekan sebaya yang juga anak-anak baik. Asupan gizi untuk mereka cukup berupa pelajaran agama dan Pendidikan Moral Pancasila. Selebihnya, biarkan anak-anak berkembang sesuai nalurinya, dan orang tua percaya sembari rajin mengirim doa. (Ah, andai orangtua kami tahu, bahwa sebenarnya anak-anak seangkatan saya di Jogja pada masa itu dibimbing pula oleh rubrik "Lika-liku Seksualitas" di koran Minggu Pagi asuhan dr. H. Prastowo Mardjikoen, yang selalu kami baca dengan sembunyi-sembunyi.)

Namun zaman ini rasanya tak lagi bisa dihadapi semata dengan naluri dan doa. Bisa saja anak kita punya teman-teman yang baik dari kalangan bangsa manusia. Tapi dari bangsa internet, mereka bisa bergaul dengan siapa pun, mulai teman yang paling baik hingga yang paling biadab. Hanya dalam beberapa menit duduk memegang gawai, dengan gampangnya mereka bisa menemukan video orang membunuh, orang bersetubuh, hingga orang gantung diri. Semua ada.

Maka, "Melihat realitas yang terus mendebarkan hati semacam ini, kita sebagai orang tua, sebagai guru pertama bagi anak-anak kita, semestinya harus segera... blablabla...." Agaknya jawaban standar seperti itulah yang akan terdengar berkali-kali dalam berbagai macam penyuluhan. Sempurna sekali, dan tak ada yang saya tolak dari situ.

Namun jangan lupa, akses pengetahuan di dunia ini tak pernah setara. Kalau boleh saya asumsikan, para pembaca tulisan ini adalah kelas menengah belaka. Anda punya telepon pintar, punya cukup waktu luang, cukup paket data internet, dan cukup kecerdasan. Saya percaya kita bisa membangun kesadaran, membuang rasa malas dan malu, lalu bersama mengubah metode pendidikan di level keluarga. Namun bagaimana dengan yang lain-lainnya?

Tidak semua orang di negeri kita sepintar Anda. Di saat yang sama, perkembangan teknologi informasi dan apa pun yang mengiringinya terus melesat, lebih cepat daripada perkembangan kesadaran dan kecerdasan masyarakat. Belum lagi aneka keterbatasan yang muncul karena hambatan akses ekonomi.

Ingat, di kiri-kanan kita ada orang-orang yang waktu dan tenaganya habis untuk memperjuangkan isi periuk nasi. Mereka yang boro-boro mau berpikir serius tentang pendidikan seks untuk anak, lha wong sawah tempat mereka mencari penghidupan saja bakal segera kering, karena sumber airnya dirampas pabrik semen yang besar.
Mereka yang berangkat subuh hari dan pulang nyaris tengah malam, karena cuma itu satu-satunya cara agar setiap bulan mereka gajian. Mereka yang harus berlayar berhari-hari, karena nyawa anak dan istri tergantung pada ikan-ikan di lautan.

Untuk mereka, kampanye kesadaran bimbingan orang tua adalah kemewahan tak terjangkau. Maka satu-satunya langkah yang memungkinkan hanyalah langkah struktural, yaitu melalui lembaga pendidikan formal.

Saya dengar-dengar, materi pendidikan seks memang sudah disisipkan dalam beberapa pelajaran di Kurikulum 2013. Namun jujur saja saya meragukan efektivitasnya.

Pertama, rasanya agak membingungkan, objek yang secara riil dihadapi anak sejak lahir malah kalah prioritas dibanding hal-hal yang bakalan dijumpai lebih belakangan dalam kehidupan, semisal problem matematika dan IPA. Kedua, sebagai sekadar sisipan, materi-materi yang masih terasa asing dan memunculkan rasa malu waktu pembahasan (bahkan gurunya sendiri pun sangat mungkin merasa malu), ia pasti rentan ditinggalkan.

Saya ingat, pada pelajaran Agama Islam semasa SMP, ada pula nyelip materi terkait seks. Ibu Guru saya waktu itu memilih melompati subbab itu, sambil berkata, "Bagian ini silakan dipelajari sendiri di rumah. Kalau kita bahas di kelas ini nanti pikiran kalian melayang ke mana-mana." Saya curiga, modus seperti itu akan terus terjadi, manakala topik ini semata disisip-sisipkan dan diletakkan dalam posisi bukan sebagai prioritas capaian.

Tentu, dibutuhkan guru-guru yang terampil, berpikiran maju, dan bermental kuat, untuk mengampu pendidikan seks. Dibutuhkan pula buku panduan yang jelas dan aman. Aman bagi anak, maupun aman dari prasangka publik. Di masa kejayaan media sosial seperti sekarang ini, apa pun bisa dituduh sebagai aksi konspirasi. Maka tak ada ruginya buku tersebut nantinya mnelibatkan lembaga keagamaan, sebagai pencegah konflik horizontal. Meminta MUI membubuhkan stempel "Aman bagi Anak Muslim" pada sampulnya, misalnya. Kenapa tidak?

Tentu, sebelumnya para pemuka agama mesti diajak berdialog panjang. Diajak membuka mata, mengerti bahwa situasi zaman sudah berganti. Diajak menyadari bahwa anak-anak menjumpai masalah terkait organ tubuh mereka jauh lebih dulu ketimbang mereka menjumpai soal-soal terkait ibadah dan surga-neraka.

Semua langkah itu mendesak untuk ditempuh. Semakin lama kita menunda, semakin banyak korban akan berjatuhan di tengah-tengah kita. ●