Minggu, 19 Maret 2017

Turki – Antara Timur dan Barat

Turki – Antara Timur dan Barat
Trias Kuncahyono  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                        KOMPAS, 18 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Turki, selama ini, selalu disebut menduduki posisi unik di dunia, baik lokasi geografis maupun aspirasi politiknya. Dari sisi lokasi, Turki dikatakan berada di persimpangan jalan antara Eropa dan Asia; bahkan wilayahnya pun ada di Benua Asia dan Eropa.

Karena itu, Revolusi Turki yang dikobarkan oleh Bapak Bangsa Turki Mustafa Kemal Atatürk dimaksudkan untuk mendekonstruksi rezim kesultanan lama dan membangun sebuah nation-state (negara bangsa) baru. Nasionalisasi dan modernisasi menjadi sasaran utama Kemalis yang berkeinginan menggantikan struktur sosial lama dengan struktur sosial kontemporer yang sama dengan negara-negara Eropa (Gulce Tarhan: 2001).

Lewat revolusinya, misi Atatürk adalah menjadikan bangsa Turki setara dengan bangsa Eropa secara sosial, pendidikan, dan kultural, serta menjadikan Turki bagian dari komunitas internasional bangsa-bangsa modern-dengan kata lain "menjadikan Turki negara Eropa" (Sina Aksin).

Karena itu, fondasi kebijakan luar negeri Turki memiliki dua tujuan, yakni modernisasi dan westernization. Perjuangan untuk mewujudkan cita-cita revolusi hingga kini masih terus diusahakan meskipun tertatih-tatih, misalnya, untuk bergabung menjadi anggota Uni Eropa belum berhasil.

Posisi Turki tersebut, hingga saat ini, tetaplah penting. Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Paul Wolfowitz pernah mengatakan, tidak ada negara lain yang pantas mendapat kata "strategis" (secara geografis) selain Turki. Pernyataan itu, mungkin, terasa klasik. Namun, posisi Turki memang demikian adanya. Turki benar-benar memainkan jembatan yang sangat penting, dalam sejumlah kutub: Timur dan Barat; keterbelakangan ekonomi dan modernitas; masa lalu kerajaan dan masa kini yang modern; serta obskurantisme agama dan modernitas warga (Patricia Carley: 1995).

Karena posisinya itulah, kini Turki merasakan akibat yang sangat nyata dari krisis di Suriah-negara tetangganya-yang pecah sejak tahun 2011. Beberapa akibat yang langsung dirasakan Turki, karena terus memburuknya krisis di Suriah, adalah pertama, menyangkut keamanan; kedua, membanjirnya pengungsi; ketiga, memburuknya masalah Kurdi.

Padahal, hubungan Turki dengan Timur Tengah-juga dengan beberapa negara lain-akan ditentukan oleh keberhasilan Turki mengatasi dua masalah domestik: pemberontakan Kurdi dan masalah ekonomi. Kegagalan mengatasi kedua hal itu akan mengancam stabilitas politik negara. Dan krisis Suriah telah memperumit penyelesaian masalah Kurdi.

Persoalan lain yang muncul akibat krisis Suriah adalah Turki terlempar ke posisi yang sulit dalam hubungan dengan Rusia, dengan Iran, dan juga dengan negara-negara Eropa Barat. Hubungannya dengan Eropa-sebelum muncul persoalan dengan Belanda-menjadi kurang baik karena masalah pengungsi Suriah, yang masuk ke Eropa lewat Turki. Sebaliknya, Turki bisa menggunakan para pengungsi sebagai senjata untuk menghadapi Eropa, hal yang sekarang dilakukan Ankara.

Turki, Rusia, dan Iran sebenarnya merupakan segitiga kekuatan yang akan meningkatkan dinamika di kawasan Mediterania Timur, Kaukasus, dan Asia Tengah. Hubungan antara Turki dan Rusia naik-turun sejak zaman Ottoman dulu. Demikian pula hubungan Turki dan Iran, seperti komedi putar.

Ketika krisis Suriah pecah, Turki dan Rusia berbeda sikap dalam menanggapinya. Turki menginginkan rezim Damaskus jatuh, sebaliknya Rusia mendukungnya. Demikian pula dengan Iran, seperti Rusia, mendukung rezim Bashar al-Assad.

Akan tetapi, setelah perang berlarut-larut dan Turki benar-benar merasakan akibat perang, kepentingan jangka pendek telah mempertemukan mereka. Turki sangat berkepentingan untuk segera berakhirnya peperangan di Suriah sebab peperangan yang berlarut sama artinya dengan berlarutnya isu pemberontakan Kurdi, berlanjutnya ancaman keamanan, banjir pengungsi, dan keguncangan stabilitas politik dalam negeri.

Sebenarnya krisis pengungsi ini menjadi jalan bagi Turki untuk membuka dialog yang lebih intens dengan Uni Eropa (yang kebanjiran pengungsi) guna mewujudkan cita-cita revolusi-kalau cita-cita itu masih dipertahankan pemimpin Turki Recep Tayyip Erdogan. Kalaupun tidak, Turki tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa Eropa tetap merupakan sandaran untuk pembangunan ekonominya. Adapun Eropa dapat "menggunakan" Turki untuk kepentingan mereka berhubungan dengan Rusia dan Iran, terutama menyangkut krisis Suriah.