Minggu, 26 Maret 2017

Mewujudkan Generasi Penyintas

Mewujudkan Generasi Penyintas
Jejen Musfah  ;   Ketua Program Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Jakarta
                                                      JAWA POS, 24 Maret 2017


                                                                                                                       
                                                                                                                                                           

MASYARAKAT Indonesia dikejutkan tayangan langsung aksi bunuh diri di Facebook. Menurut data WHO pada 2005, sedikitnya ada 30 ribu kasus bunuh diri di Indonesia setiap tahunnya. Artinya, rata-rata ada 82 orang Indonesia yang bunuh diri per hari. Kelompok usia paling banyak bunuh diri adalah 15 hingga 24 tahun.

Bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor dua untuk usia 15 hingga 29 tahun. Menurut data WHO, setiap 40 detik ada satu orang yang meninggal karena bunuh diri. Rasionya 11,4 per 100 ribu populasi. Masih menurut data WHO pada 2012, angka bunuh diri mencapai 4,3 per 100 ribu populasi, meningkat dari 2010 yang sekitar 1,8 per 100 ribu jiwa atau sekitar 5.000 orang per tahun.

Bunuh diri itu berbahaya karena menular. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkannya sebagai krisis global. Setiap satu orang bunuh diri, akan muncul lebih dari 20 percobaan bunuh diri lainnya. Karena itu, pencegahan warga negara yang ingin bunuh diri harus segera dilakukan, di antaranya melalui pendidikan agama di sekolah.

Iman

Bunuh diri terjadi karena stres. Setiap orang mengalami stres ka- rena sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginannya. Semua orang membutuhkan makan, minum, kasih sayang, rasa aman, penghargaan, dan aktualisasi diri. Kenyataannya, tidak semua orang mendapatkan semua yang dibutuhkan dan diinginkannya. Maka, timbullah stres. Semua orang memiliki masalah, tetapi setiap orang berbeda cara menghadapinya.

Iman adalah kunci manusia agar tidak stres berkepanjangan dan tak berakibat fatal. Tepat sudah tujuan utama pendidikan, yakni membentuk manusia beriman dan berakhlak mulia. Iman kepada Tuhan akan menjadikan manusia tegar menghadapi segala masalah, besar maupun kecil. Manusia percaya Tuhan Maha Penolong, Maha Penyayang, Maha Pemberi Rezeki, dan tempat bersandar.

Pelajaran agama sejak SD, SMP, hingga SMA mengajarkan siapa dan sifat-sifat Tuhan di atas. Iman kepada Tuhan adalah kunci kebahagiaan menjalani hidup meskipun berat. Iman penting karena meskipun manusia itu terlihat kuat, tetapi sesungguhnya ia makhluk yang lemah. Kepercayaan akan Tuhanlah yang menjadikannya kuat, bahkan sangat kuat.

Pendidikan menanamkan iman dalam jiwa peserta didik. Caranya ialah menjalankan setiap ritual yang diperintahkan-Nya, seperti yang tertulis dalam kitab suci. Maka, iman tidak hanya diucapkan di mulut, tetapi juga dilakukan dalam perbuatan nyata. Seseorang yang beriman menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dalam kitab suci. Jika tidak, hidup manusia akan dinaungi kemarahan, kebencian, putus asa, sedih, keburukan, bahkan bunuh diri. Hidup memerlukan kitab suci, kalam Tuhan, sebagai kompas ( way of life), agar manusia kuat dan bahagia menjalani hidup hingga akhir.

Akhlak Mulia

Akhlak atau sikap merupakan cermin iman. Iman yang baik memantulkan sikap sabar, syukur, ikhlas, pemaaf, dan jauh dari sikap dendam, marah, benci, iri, dengki, serta putus asa. Orang beriman akan terhindar dari sikap buruk seperti bunuh diri. Jiwanya kuat menghadapi segala macam cobaan karena punya sandaran: Tuhan. Apa pun yang terjadi bukan tanda Tuhan meninggalkannya, tetapi sebaliknya Tuhan menyayanginya. Ada hikmah di balik semua yang menimpa manusia.

Angka bunuh diri di Indonesia sangat tinggi, maka pendidikan agama di sekolah perlu dievaluasi. Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang tabah menghadapi ujian. Bisa jadi, pendidikan agama lebih menekankan hafalan daripada praktik keagamaan. Iman yang dihafal melahirkan pengetahuan, tetapi iman yang dipraktikkan melahirkan akhlak atau perilaku terpuji.

Iman di sekolah tidak sekadar tertulis dalam buku dan pamflet serta bukan hanya ucapan guru di kelas dan saat upacara. Tapi juga perilaku santun, disiplin, saling menghormati, saling menghargai, giat belajar, gotong royong, saling menolong, dan percaya diri. Iman seperti itulah yang harus dimiliki peserta didik hingga besar. 
Maka, cara menghambat laju bunuh diri yang tinggi di Indonesia ialah mengevaluasi pendekatan pendidikan agama di sekolah dan keluarga. Pendidikan agama yang tidak hanya verbalistis, tetapi ritual sekaligus membumikan nilainilai keimanan dalam kehidupan nyata. Nilai itu harus diajarkan sejak dini kepada anak didik sehingga menjadi perilaku yang melekat kuat sampai remaja dan dewasa.

Penanaman iman di sekolah dan rumah perlu dipupuk dengan perhatian dan kasih sayang guru serta orang tua terhadap anak, yang tulus dan tanpa batas. Dengan demikian, bangsa ini akan memiliki generasi penyintas yang menularkan ketangguhan dan keutamaan hidup, bukan mudah tertular virus bunuh diri. ●