Minggu, 12 Maret 2017

Raja Salman dan Islam Indonesia

Raja Salman dan Islam Indonesia
Husein Ja'far Al Hadar  ;  Pendiri Cultural Islamic Academy Jakarta
                                                     TEMPO.CO, 07 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam pidatonya di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, yang kemudian ditegaskan kembali kepada para ulama dan tokoh Islam dalam pertemuan khususnya di Istana Negara serta kepada tokoh lintas agama di Hotel Raffles, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud menegaskan pentingnya semangat menanggulangi radikalisme-terorisme dan krisis politik di dunia Islam. Secara umum, "Islam modern" menjadi salah satu tema dalam kunjungan Raja Salman.

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia memang tidak hanya signifikan dalam konteks politik dan ekonomi, tapi juga agama, khususnya Islam. Daya tawar Islam Indonesia menguat dalam tujuh tahun (sejak pecahnya Arab Spring) atau bahkan 16 tahun terakhir ini (sejak tragedi teror 11 September). Karena itu, Raja Salman terus mengulang apresiasi dan kekagumannya kepada Islam Indonesia.

Islam Indonesia terbukti bertahan dan bisa menjadi solusi bagi dua krisis terbesar dalam dunia Islam selama dua dekade ini. Pertama, krisis akibat maraknya aksi terorisme global yang mengatasnamakan Islam. Kedua, krisis akibat otoritarianisme kepemimpinan di dunia Islam yang memicu Arab Spring dengan visi demokratisasi.

Di tingkat praktis, tak ditabuhnya beduk Masjid Istiqlal dalam kunjungan Raja Salman ke sana merupakan salah satu perwujudan simbolik Islam Indonesia yang toleran terhadap Wahabisme, yang diimani Raja Salman yang menilai menabuh beduk sebagai bidah (tak berdasar pada sunah Nabi Muhammad). Dalam konteks ini, kita berharap penghormatan dan keleluasaan yang sama diberikan Saudi kepada jemaah haji dan umrah Indonesia setelah ini untuk melakukan ritual-ritual yang diimani umat Islam Indonesia, yang mungkin dianggap bidah dalam perspektif Wahabisme: ziarah makam Nabi dan lainnya.

Wahabisme Saudi cenderung statis dengan slogan "kembali"  kepada Al-Quran dan sunah. Wahabisme sebagai mazhab resmi Kerajaan Saudi menjadi mazhab yang berorientasi pada hukum syariat yang kaku. Sedangkan Islam Indonesia "berangkat" dari Al-Quran dan sunah untuk kemudian berdialog dengan siapa dan apa saja.

Indonesia kini kian dilirik sebagai "kiblat" peradaban Islam dengan (minimal) dua kekuatan organisasi kemasyarakatan besarnya: Nahdlatul Ulama (NU) dengan "Islam Nusantara" yang berakulturasi dengan budaya dan Muhammadiyah dengan "Islam Berkemajuan" yang modern. Di sini, Islam sebagai hukum dipegang teguh oleh umatnya, tapi juga sebagai tata nilai menjadi semangat dan mempengaruhi secara substansial, bukan formal, terhadap seluruh ranah kehidupan dan kebangsaan. Keislaman Indonesia terus didialogkan dan perbedaan dirayakan.

Wajah Islam Indonesia itulah yang kemudian menjadi prototipe atas apa yang diimpikan Saudi untuk keluar dari dua krisis di atas. Ia moderat sebagai benteng bagi radikalisme dan terorisme serta nasionalis sehingga mampu mensintesiskan Islam dan demokrasi.

Dalam konteks politik, sebenarnya Salman merupakan seorang raja dengan corak primordial (Islam). Ia bahkan konservatif, bertolak belakang dengan pendahulunya yang reformis: Abdullah dan Faisal. Opsi menyerang Yaman merupakan gambaran terbaru dan paling gamblang atas corak itu.

Secara normatif, corak primordialisme Islam tersebut seharusnya mengarahkan Saudi untuk mengekor pada gerakan sekutunya, yakni Amerika Serikat dan Eropa: "populisme kanan". Namun Salman tampaknya pesimistis melihat masa depan populisme kanan. Maka, Indonesia adalah alternatif yang menarik, tempat nilai-nilai primordial Islam (sebagai moral etik) dipegang kuat dalam kenegaraan kita sebagai darus salam (negara damai), tapi tetap up-to-date dan sinergis dengan nilai-nilai demokrasi. Di sini, sejak awal, ornamen-ornamen kebangsaan telah didudukkan secara proporsional: Islam sebagai agama, Pancasila sebagai ideologi, dan Nusantara sebagai budaya.

Dalam konteks ini, diharapkan kunjungan Raja Salman dihayati sebagai dialog keislamannya dengan Indonesia untuk menggeser paradigma primordial keislamannya menjadi moderat dan maju.