Sabtu, 10 Januari 2015

Pasar Klewer

Pasar Klewer

Aris Setiawan  ;   Esais
KORAN TEMPO,  02 Januari 2015

                                                                                                                       


Masyarakat yang sedang khusyuk menikmati sajian gamelan Sekaten di pelataran Masjid Agung Keraton Surakarta, 27 Desember lalu, tiba-tiba dikejutkan bunyi sirene mobil-mobil pemadam kebakaran. Pasar Klewer terbakar! Pasar batik terbesar itu dilalap api selama lebih dari 15 jam. Kerugian ditaksir mencapai Rp 5 triliun.

Pasar Klewer bukan hanya berkisah tentang aktivitas jual-beli sandang, tapi juga sosio kultural masyarakat Solo. Ia masih mampu bertahan hingga kini karena keunikan dan kekhasan yang dimilikinya, di saat pasar (market) modern dan mal bertebaran. Terdapat ikatan emosional dan sisi historis yang kuat antara Pasar Klewer dan dinamika hidup masyarakat Solo. Pasar Klewer kemudian menjadi identitas kota. Terbakarnya pasar itu menjadi tragedi yang memilukan bagi masyarakat Solo.

Di Pasar Klewer, kita bisa mendengar negosiasi antara penjual dan pembeli. Pertukaran informasi dan pengetahuan terjadi di wilayah itu. Hubungan pedagang-pembeli tidak sekadar hubungan produsen-konsumen, tapi juga ada ikatan emosional, kepercayaan, dan kekeluargaan yang kuat. Pedagang Pasar Klewer pada awalnya menjajakan dagangannya di sekitar muka Keraton Kasunanan. Mereka biasanya menggantungkan barang dagangannya secara acak di bahu dan di-klewer-kan begitu saja. Maka, tidak salah bila pasar rakyat itu dikenal dengan sebutan "Pasar Klewer"; di mana pedagang menggelar dagangannya secara pating klewer atau menjuntai sampai bawah (Febrie Hastiyanto, 2008).

Pasar Klewer terletak di sebelah barat Keraton Kasunanan Surakarta, sehingga menempati posisi yang ideal. Para wisatawan yang menikmati bangunan keraton dapat langsung membawa oleh-oleh kain batik dari Klewer dengan hanya berjalan kaki sekitar lima menit. Keramahan khas Solo senantiasa menyertai transaksi jual-beli. Bagi sejarawan kondang Soedarmono S.U., Pasar Klewer juga menjadi kiprah perjuangan kaum perempuan Jawa yang selama ini dilupakan. Ia mendekonstruksi anggapan bahwa kaum perempuan Jawa tak mampu menjadi "saudagar" atau pengusaha. Sebaliknya, mereka justru menguasai modal dan jaringan yang sangat luas.

Dinamika dan jejak sejarah kaum perempuan pembatik Solo memperoleh napas baru ketika Sunan Paku Buwana X pada 1930-an memberi kesempatan hak lisensi untuk berbisnis sandang bagi kaum perempuan. Dan Klewer menjadi puncak dari segala aktivitas itu. Batik bukan lagi sekadar baju, tapi juga seni. Era baru kebangkitan batik di Nusantara ditandai dengan semakin gencarnya promosi setelah UNESCO mengakuinya sebagai warisan dunia bersama keris dan wayang. Hal itu menempatkan Klewer sebagai salah satu pemasok dan distributor terbesar di Asia Tenggara.

Pasar Klewer menyimpan memori kolektif tentang pembangunan sebuah kota. Ia saksi sejarah perkembangan Solo menjadi kota perniagaan yang besar. Setiap pasar tradisional memiliki makna, identitas, dan sejarah masing-masing, yang menjadikannya unik dan memiliki karakter yang khas (Agus Ekomadyo, 2012). Keunikan itu adalah kebertahanan dan eksistensi di masa kini yang tak dimiliki oleh pasar modern mana pun yang cenderung seragam itu.

Namun Klewer kini telah hangus terbakar. Tumpukan batik itu menjadi debu. Hujan tangis para pedagang tak dapat dielakkan. Yang tersisa kemudian adalah kenangan dan harapan. Kenangan manis tentang sumbangan besarnya dalam membesarkan Kota Solo. Semoga ke depan Pasar Klewer dapat bangkit dan menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar