Minggu, 04 Januari 2015

Cinta dan Kerinduan

                                                Cinta dan Kerinduan

Agoes Ali Masyhuri  ;   Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo Jatim
JAWA POS,  02 Januari 2015

                                                                                                                       


MARI kita belajar ikhlas dalam beramal. Sebab, keikhlasan bagaikan mata air jernih yang menyuburkan. Hati yang ikhlas bagaikan tanah yang subur. Sekecil apa pun benih kebaikan mudah tumbuh dan berkembang. Buahnya lebat, manis rasanya, hasilnya pasti sempurna. Jauhi sikap tamak karena sikap tamak bagaikan ’’air limbah’’ yang mematikan.

Barang siapa menyangka bahwa ia punya penolong yang lebih utama dan lebih kuat daripada Allah, itu berarti ia benar-benar belum mengenal Allah dengan baik. Berbahagialah orang yang akal sehatnya dapat mengendalikan nafsu. Jika engkau mengenal Allah, cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong bagimu. Jika engkau belum mengenal Allah, carilah orang yang telah mengenal-Nya hingga ia membimbing dan menunjukimu kepada-Nya. Berjuanglah dengan penuh kesabaran agar kita mencintai Allah. Jika kita mencintai Allah, Allah akan mencintai dan memerintah seluruh makhluk-Nya untuk mencintai kita.

Allah SWT berfirman, ’’Katakanlah, ’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’’ (QS Ali Imran: 31)

Allah memerintah Nabi Muhammad SAW untuk mengatakan kepada orang Yahudi, jika mereka benar menaati Allah, hendaklah mereka mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan melaksanakan segala yang terkandung dalam wahyu yang diturunkan Allah kepadanya. Jika mereka telah berbuat demikian, niscaya Allah meridai mereka dan memaafkan segala kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan serta mengampuni dosa-dosa mereka. Mengikuti Rasul dengan sungguh-sungguh, baik dalam iktikad maupun amal saleh, akan menghilangkan dampak maksiat dan kekejian jiwa mereka serta menghapus kezaliman yang mereka lakukan sebelumnya.

Di sisi lain, memberikan keterangan yang kuat untuk mematahkan pengakuan orang-orang yang mengaku mencintai Allah setiap saat, sedangkan amal perbuatannya berlawanan dengan ucapan-ucapannya itu. Mustahil dapat berkumpul pada diri seseorang cinta kepada Allah dan saat yang sama membelakangi perintah-Nya. Siapa yang mencintai Allah; tapi tidak mengikuti jalan dan petunjuk Rasulullah, maka pengakuan cinta itu adalah palsu dan dusta. Sebagaimana sabda beliau Rasulullah SAW: ’’Siapa melakukan amal tidak berdasarkan perintah kami, maka perbuatan itu ditolak.’’ (HR Bukhari)

Barang siapa mencintai Allah dengan penuh ketaatan, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengikuti perintah Nabi-Nya, serta membersihkan diri dengan amal saleh, maka Allah mengampuni dosa-dosanya.

Rasulullah SAW bersabda, ’’Sesungguhnya ketika Allah SWT mencintai seorang hamba, Dia memanggil malaikat Jibril dan berfirman, ’Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia’, maka Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril menyeru kepada seluruh penghuni langit dan berkata, ’Sesungguhnya Allah SWT mencintai si fulan, maka aku mencintainya dan semua penghuni langit juga mencintainya, maka di bumi dia akan dicintai.’ Dan ketika Allah SWT membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, ’Sesungguhnya Aku membenci si fulan, maka bencilah dia’ maka Jibril membencinya dan menyeru kepada seluruh penghuni langit bahwa sesungguhnya Allah SWT membenci si fulan, maka bencilah dia, maka mereka pun membencinya dan di bumi dia juga dibenci.’’ (HR Muslim)

Mencintai Allah adalah modal hidup yang teramat mahal, tidak mudah meraihnya. Untuk mewujudkan hal itu, perlu upaya dan kerja yang sungguh-sungguh, takwa kepada Allah dalam keadaan apa pun, mencintai Rasul beserta seluruh keluarganya, mencintai orang-orang saleh, menunaikan seluruh kewajiban, memperbanyak ibadah nafilah, rela berkorban dalam kebajikan, indah dan lembut dalam bergaul dengan sesama, serta merawat hati dan ucapan.

Di sini penting kita yakini bahwa orang-orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah akan mudah dicintai dan diterima oleh orang banyak. Semuanya terjadi bukan karena sogokan materi, melainkan karena mereka takut kepada Allah dan merasakan kehebatan Allah. Akhirnya Allah pun membalas dengan menjatuhkan ke dalam hati sanubari mereka rasa cinta, penghargaan, dan keterikatan batin dengan orang-orang bertakwa. Sejalan dengan pesan suci Alquran pada surat Al-A’raf ayat 26: ’’Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.’’ (QS Al-A’raf: 26)

Tidak ada seorang pun manusia yang tidak luput dari keburukan. Andai manusia tidak memperindah diri dengan pakaian yang menutup aurat, niscaya aurat yang tampak akan memperjelas keburukan manusia. Belum lagi bila ditambahkan dengan keburukan perilaku dan kebodohan. Jika semua ada, sungguh lengkap sudah keburukan manusia hingga tidak ada seorang pun yang berkenan mendekatinya.

Betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia, Allah membimbing kita untuk mempercantik penampilan dengan gaun yang dapat menutup aurat yang tampak, yaitu ketakwaan. Hanya ketakwaanlah yang dapat memperindah pemakainya, menghiasinya dengan karisma hingga ia dapat meraih cinta dari seluruh makhluk.

Mahabbatur Rasul

Jika kita menanam pangkal pengetahuan di hati kita, niscaya akan tumbuh di dalamnya pohon kecintaan. Jika pohon itu kukuh dan kuat, maka akan membuahkan ketaatan. Jika jiwa dan raga bersih, pikiran menjadi jernih. Setiap langkah akan terasa ringan, ide-ide baru akan muncul, selalu berprasangka baik kepada setiap orang dan kita menjadi orang yang menyenangkan.

Imam Sahal bin Abdullah at-Tustari berkata, ’’Tanda cinta Allah adalah cinta Alquran. Tanda cinta Alquran adalah cinta Rasulullah SAW. Tanda cinta Rasul adalah cinta sunah-sunahnya. Tanda cinta sunah adalah cinta akhirat. Dan tanda tidak cinta akhirat adalah tidak cinta dunia.’’

Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, ’’Seseorang itu akan bersama-sama orang yang dicintai.’’ (HR Bukhari Muslim)

Anas ra meriwayatkan bahwa ada seorang Badui bertanya kepada Rasulullah SAW, ’’Kapankah datangnya hari kiamat?’’ Rasulullah SAW balik bertanya, ’’Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi kiamat itu?’’ Si Badui itu menjawab, ’’Mencintai Allah dan Rasul-Nya.’’ Lalu, sabda Rasulullah SAW, ’’Engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.’’ (HR Bukhari dan Muslim)

Semoga kita menjadi pribadi yang senantiasa mencintai Rasulullah SAW dan merasakan nikmatnya ketaatan dan hidup mati kita berada dalam kebaikan. Ketahuilah! Orang yang paling merugi adalah seorang musafir yang sesat pada akhir perjalanannya, padahal dia sudah dekat dengan rumahnya. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar