Sabtu, 15 April 2017

Inovasi Bioteknologi, Dunia Medis Mau Dibawa ke Mana?

Inovasi Bioteknologi,
Dunia Medis Mau Dibawa ke Mana?
Purwati  ;   Direktur Stem Cell Research and Development Centre-Unair Surabaya
                                                       JAWA POS, 12 April 2017



                                                                                                                                                           

SCIENCE atau ilmu pengetahuan selalu berkembang dari masa ke masa. Sebab, para scientist selalu melakukan riset dan riset untuk memperoleh temuan terbaru guna melengkapi kekurangan temuan sebelumnya atau merupakan inovasi baru menuju hal yang memang benar-benar baru. Demikian juga di bidang medis. Penelitian untuk mencari terapi dari berbagai macam penyakit terus dikembangkan. Obat-obatan yang dulu ditemukan untuk penyakit A, misalnya, mungkin saja sekarang sudah tidak begitu sensitif terhadap penyakit tersebut.

Penelitian untuk mencari terapi di bidang medis, kalau dulu sebatas obat yang didapat dari bahan kimiawi atau sintetis, sekarang sudah bergeser ke arah bahan biologis (biological medical) yang tentunya dengan harapan mengurangi toksisitas di dalam tubuh, spesifik ke arah satu penyakit, relatif aman, dan bisa diterima tubuh. Sebab, salah satu rangkaian metabolisme obat-obatan itu melalui liver dan diekskresi melalui ginjal. Sehingga, dengan bahan biologis, serangkaian metabolisme tersebut menjadi lebih aman.

Perkembangan terbaru penelitian berbasis pada biological research yang paling hangat diperbincangkan di dunia adalah stem cell dan bio engineering. Ini merupakan biological medical yang merupakan fusi dari engineering dan life science untuk menuju medical discovery therapy. Meliputi yang paling tidak kasat mata adalah molecular engineering, gene engineering, ke tingkat yang agak lebih besar sedikit, yaitu cell engineering dan tissue engineering. Dalam penerapannya, stem cell bisa diberikan tersendiri atau dikombinasi dengan bio engineering untuk kasus tertentu, terutama penyakit degeneratif dan gene related yang selama ini tidak ada obatnya atau no option treatment.

Stem cell merupakan sel induk yang berasal dari bahan biologis. Bisa diambil dari tubuh sendiri (autologous) maupun dari luar tubuh si pasien (allogenic). Untuk mencapai tahap aplikasi pada pasien, diperlukan serangkaian riset yang panjang sehingga aman digunakan sebagai terapi. Dan tentulah segala sesuatu di dunia ini diciptakan oleh-Nya untuk kepentingan dan kebaikan umat manusia.

Teknologi berperan sangat penting dalam pengembangan riset stem cell dan bio engineering. Dengan teknologi, kita bisa membuat berbagai macam sel dengan berbagai sifat dasar dari sel itu untuk penyakit yang berbeda pula. Yakni, melakukan driving atau modifikasi di tingkat molekul, gen, sel, dan jaringan yang disesuaikan dengan penyakit yang diderita pasien. Dalam menuju komersialisasi atau mass product, tentu ada serangkaian riset berjenjang yang tidak pendek, yaitu penelitian in vitro, pembuatan prototipe, pre clinical trial, clinical trial, acceptance, dan commercialization.

Dalam dunia riset, perlu dibedakan antara penelitian kebijakan dan penelitian temuan/discovery. Stem cell dan bio engineering termasuk dalam riset discovery. Dalam riset discovery, kita membangun evidence based (concurrent evidence based). Sebab, semua negara, baik itu Asia, Eropa, maupun Amerika, masih sama-sama saling mengembangkan. Di AS sendiri tidak semua centre telah mengembangkan, seperti UC Berkeley University, Stanford University, Cincinnati University. Demikian juga di Eropa, tidak semua negara telah mengembangkan karena terkait beberapa kendala dan keterbatasan. Di Indonesia sendiri Kemenkes telah menunjuk Surabaya Regenerative Medicine RSUD dr Soetomo–Stem Cell Research and Development Centre Universitas Airlangga untuk mengampu penelitian berbasis pelayanan untuk stem dan bio engineering ini sehingga kita tidak tertinggal oleh negara lain (Indonesia sebagai bangsa inovator dan bukan bangsa follower). Sebab, bila menunggu negara lain selesai riset, kita akan ketinggalan lagi. Karena itu, dalam dunia stem cell dan bio engineering, kita berusaha melangkah sejajar bersama dengan negara-negara lain di dunia.

Tahapan untuk stem cell dan bio engineering approval agak sedikit berbeda dengan release obat, yaitu idea, proof of concept, animal safety study, regular approval dan clinical trial, untuk membangun concurrent evidence based tadi. Dengan demikian, ke depan pihak company yang memproduksi obat-obatan seyogianya mulai mengikuti perkembangan produk-produk biologis ini. Sebab, tidak tertutup kemungkinan, ke depan terjadi pergeseran dari bahan-bahan chemical menjadi bahan biologis untuk medical therapy. Tidak saja untuk terapi penyakit-penyakit degeneratif dan gene related yang no option treatment, tetapi juga untuk preventif. Misalnya, dengan penggunaan bahan biologis yang diambil di tingkat micro RNA untuk prevensi anti-obesity, antiaging, antiosteoporosis, anti cancer, regulasi lipid, serta penambahan telomerase untuk memperpanjang usia sel. Bertambahnya usia sel akan memperpanjang usia individu tersebut.

Sedangkan untuk tissue engineering, ke depan dibuat kombinasi antara organ buatan melalui teknik 3D printing yang dihidupkan dan stem cell dari pasien itu sendiri sehingga tidak akan terjadi penolakan bila ditransplankan. Hal ini juga memberi manfaat terkait kendala keterbatasan donor organ saat transplantasi. Contohnya, Cincinnati University baru-baru ini memublikasikan teori kanker. Bila dulu karena adanya mutasi, ternyata kini diketahui adanya disharmoni dari gen pengode osteopontin a, b, dan c sehingga untuk terapi kanker ke depan digunakan cara untuk membuat gen pengode osteopontin a, b, dan c tersebut menjadi harmoni kembali.

Mungkin ada sedikit perbedaan iklim riset di AS dan Eropa dengan di Indonesia. Di sana, grant untuk produk riset terapan sangat besar dengan harapan banyak temuan baru yang bisa dihilirisasi untuk medical discovery sebagai terapi.

Bagaimana posisi Indonesia? Di Surabaya, riset-riset, baik stem cell maupun bio engineering, tersebut telah on going, dengan atau tanpa grant. Ada yang fase laboratorium trial, animal trial, dan beberapa penyakit degeneratif di clinical trial. Khusus di bidang ini, kita ingin menunjukkan bahwa kita bisa menjadi sebuah bangsa INOVATOR.