Sabtu, 22 April 2017

Kartini dan Perempuan Pelaku Bom

Kartini dan Perempuan Pelaku Bom
Musdah Mulia  ;   Ketua Umum Indonesian Conference on Religions for Peace (Organisasi Lintas Iman)
                                              MEDIA INDONESIA, 21 April 2017


                                                                                                                                                           

MENDADAK banyak orang tersentak ketika perempuan bernama Dian Yulia Novi tertangkap ketika hendak melakukan aksi bom bunuh diri di Istana Negara, Desember tahun lalu. Ternyata dia pernah jadi buruh migran di Singapura dan istri Bahrun Naim, pelaku bom Thamrin. Tragedi ini menyibak fakta keterlibatan sejumlah perempuan muslim dalam gerakan terorisme di Indonesia. Tren baru aksi terorisme di Indonesia menjadikan perempuan sebagai pelaku utama. Kalau sebelumnya aksi-aksi teror berwajah maskulin dan menggunakan pendekatan patriarki, belakangan perempuan jadi pelaku. Pendekatannya juga feminin. Meskipun faktanya perempuan ialah pelaku, hakikinya mereka hanyalah korban.

Tanggal 21 April setiap tahun diperingati sebagai Hari Kartini, dan tahun ini merupakan peringatan ke-138kelahiran Kartini. Artinya, kehadiran Kartini yang membawa gagasan-gagasan baru bagi kemajuan perempuan Indonesia telah berlalu hampir satu setengah abad, tapi ide dan gagasannya masih sangat relevan diperbincangkan. Usia Kartini relatif sangat pendek. Namun, karena ia tekun membaca dan bertukar pikiran secara kritis dengan ilmuwan Belanda, wawasan dan pengetahuannya sangat luas. Ide dan gagasannya dituangkan dalam surat-surat yang ia kirimkan kepada sahabatnya yang kemudian diterbitkan Abendanon pada 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht yang selanjutnya dialihbahasakan Armijn Pane pada 1922 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini mengungkapkan kegelisahan intelektual dan penderitaan batinnya ketika melihat perlakuan diskriminatif dan tindakan kekerasan terhadap masyarakat, khususnya perempuan akibat budaya patriarki, sistem feodalisme, dan kolonialisme.

Emansipasi yang diperjuangkan Kartini, seperti terbaca dalam surat-suratnya, bukanlah untuk menjadikan perempuan bumi-putra kehilangan jati dirinya dan menjadi bersifat kebarat-baratan. Kartini menghendaki perempuan mendapatkan pendidikan sehingga mampu memberikan kontribusi positif dan konstruktif bagi diri, keluarga, dan bangsanya. Jika Kartini masih hidup, beliau pasti kecewa dan mengutuk keberadaan perempuan sebagai pelaku bom yang pasti merusak dan membahayakan kehidupan banyak orang. Kartini dari awal mengingatkan perempuan tentang pentingnya mengembangkan nalar kritis dan keberpihakan pada kemanusiaan. Tujuannya tiada lain, agar perempuan tidak mudah dimanfaatkan dan dijadikan korban serta dicekoki dengan pikiran patriarki yang merugikan kemanusiaan dan menghancurkan sendi-sendi utama peradaban manusia seperti terjadi pada perempuan pelaku bom.

Mengapa perempuan? Wacana feminisme menyimpulkan, perempuan ialah kelompok paling diandalkan dalam soal kesetiaan dan kepatuhan. Perempuan juga kelompok paling mudah percaya dan tunduk jika hal itu terkait dengan agama. Perempuan umumnya sangat bersahabat dengan agama meski agama sering kali tidak ramah terhadap mereka. Lihat saja, hampir semua pengajian dan majelis taklim di Indonesia dipenuhi kaum perempuan. Ironisnya, interpretasi keagamaan yang sering disampaikan dalam lembaga keagamaan itu menempatkan perempuan hanya sebagai makhluk seksual dan melihat perempuan sebatas objek. Perempuan selalu dianggap lemah dan tidak berdaya. Namun, fenomena terorisme meyakinkan kita bahwa tidak semua perempuan lemah dan tidak berdaya. Sebagian perempuan justru lebih nekat dan berani mengambil risiko meski maut menghadang. Motivasi utama perempuan terlibat dalam gerakan ini bersifat teologis.

Awalnya mereka terpapar ideologi Islam radikal yang mematikan. Buya Syafii Maarif menyebutnya sebagai 'teologi maut'. Berupa pemahaman keislaman yang radikal, misalnya memercayai wajib hukumnya membunuh orang-orang kafir (nonmuslim); meyakini kewajiban menegakkan negara Islam dengan melakukan jihad menumpas ketidakadilan, walau dengan cara membunuh sekali pun. Perempuan harus ikut berjihad membela Islam dan muslim yang tertindas. Mereka sangat meyakini umat Islam kini dalam kondisi tertindas.
Karena itu, mereka harus diselamatkan dengan jihad yang umumnya diartikan sebagai membunuh semua yang tidak sepaham. Biasanya, dari radikalisme, hanya perlu satu langkah lagi untuk menuju terorisme. Kelompok Islam radikal sangat mudah dikenali karena mereka sering mengusik tradisi keislaman yang sudah lama diamalkan umat Islam di negeri ini. Seperti tradisi pembacaan barzanji dan zibaan, tradisi peringatan maulid nabi, dan tradisi takziah.

Selain itu, biasanya mereka gencar menyebarkan paham anti-Pancasila, antidemokrasi, antikebinekaan dan keberagaman, serta antifeminisme. Mereka juga alergi dengan semua yang datang dari Barat dan non-Islam. Fatalnya lagi, mereka juga benci dengan simbol-simbol keindonesiaan, seperti bendera Merah Putih, lambang garuda, dan lagu Indonesia Raya. Mereka menyebut semua itu bidah dan tagut (musuh Islam) yang harus dilenyapkan. Perempuan seperti apa yang banyak terlibat dalam gerakan terorisme di Indonesia? Penelitian Yayasan Prasasti Perdamaian mengungkapkan umumnya mereka ialah para istri dan keluarga teroris yang sudah lama terlibat dalam aksi-aksi pengeboman di Indonesia, istri dan keluarga para ekstremis di Suriah, Lebanon, dan Turki. Para suami atau keluarga mereka ialah anggota Jamaah Islamiah, Jamaah Ansharut Tauhid, gerakan Negara Islam Indonesia, IS, Salafi Jihadis, dan organisasi Islam radikal lain. Menarik disebutkan, sebagian besar mereka bukanlah perempuan bodoh dan tidak terdidik.

Kebanyakan mereka lulusan perguruan tinggi, selebihnya lulusan pesantren dan sekolah menengah atas. Lalu dari aspek ekonomi, mereka tidak selalu dari kelompok miskin, tidak sedikit dari kalangan menengah ke atas. Profesi mereka pun beragam: dosen, guru, mubaligah, ustazah, dokter, buruh migran, karyawan, aktivis organisasi, pedagang daring, pelayan toko, dan pekerja pabrik. Sebagian mereka direkrut melalui pernikahan. Suami melakukan upaya terencana untuk menanamkan ideologi radikal dengan cuci otak. Artinya, mereka sengaja dinikahi untuk dicekoki ideologi radikal, bahkan sebagian dinikahi ketika berada di penjara. Sebagian perempuan dinikahi belakangan setelah mereka menerima doktrin radikal itu. Tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan indoktrinasi yang sangat masif dari teman dekat suami atau dari sesama perempuan yang telah terlebih dahulu aktif dalam jaringan tersebut. Tidak sedikit perempuan yang direkrut dalam gerakan terorisme ialah buruh migran.

Mengapa? Karena umumnya mereka punya uang, mandiri, dan berani serta yang paling penting mereka sudah biasa ke luar negeri. Mereka umumnya pengguna aktif internet dan media sosial. Sebagian mereka terpapar ideologi radikalisme lewat internet ketika bekerja di luar negeri. Pertemuan mereka dengan suami dan kelompoknya umumnya lewat sosial media. Tugas dan peran perempuan dalam gerakan radikalisme cukup beragam dan signifikan. Di antaranya, mereka berperan sebagai pendidik dan pelatih, agen perubahan, pendakwah ulung, pencari dan pengumpul dana. Bahkan, mereka sangat profesional dalam merekrut perempuan-perempuan muda dan potensial dari berbagai kalangan. Sebagian lagi berperan sebagai pengatur logistik, kurir antarkota, bahkan antarnegara, membawa pesan-pesan rahasia. Sebagian lagi berperan sebagai pengantin untuk bom bunuh diri.

Perempuan hanyalah korban

Akan tetapi, perlu diingat bahwa meskipun perempuan menjadi pelaku bom dan aktivis utama dalam gerakan radikalisme, sejatinya mereka hanyalah korban. Korban dari ideologi suami atau keluarga, korban indoktrinasi agama yang tidak memihak kemanusiaan. Korban stigmatisasi dari masyarakat, korban media, dan juga korban dari ekses konflik. Perempuan lagi-lagi hanyalah korban dari kondisi yang diciptakan para elite kekuasaan patriarki. Oleh karena itu, upaya mengatasinya harus dengan sentuhan-sentuhan kemanusiaan dan memberikan tempat kepada mereka dalam pergaulan sosial arus-utama. Kampanye yang terus-menerus memojokkan mereka tanpa mempertimbangkan sentuhan kemanusiaan hanya akan membuat mereka mati suri. Di balik itu, mereka tetap beroperasi di bawah tanah untuk menata ulang sel-sel rahasia mereka yang suatu saat bergelora dan berujung dengan ledakan maut. Perempuan selalu bisa menjadi agen perdamaian. Kalau mereka bisa direkrut menjadi teroris seharusnya lebih mudah mengajak mereka menjadi agen perdamaian karena secara alami perempuan diciptakan untuk merawat keberlangsungan kehidupan.

Diperlukan strategi yang lebih manusiawi, komprehensif, dan pendekatan yang jauh dari maskulin, tapi mengena kepada mereka yang terlibat gerakan terorisme. Pendekatan yang semata bertumpu pada kekuatan militeristis dengan prinsip keamanan harus ditinjau ulang. Hal paling penting ialah keinginan politik yang kuat dari negara dan pemerintah untuk mengikis akar-akar penyebab terorisme, seperti kesenjangan dan ketidakadilan sosial yang sudah sedemikian akut di masyarakat. Selain itu, sangat penting bagi semua elemen dalam masyarakat, khususnya bagi ormas keislaman, untuk mengusung ajaran Islam yang mengedepankan nilai-nilai human, keadilan, kesetaraan, toleransi, dan perdamaian. Esensi Islam ialah memanusiakan manusia dan membangun masyarakat yang berkeadilan dan beradab. Islam seharusnya menjadi rahmat bagi semua makhluk di alam semesta.