Sabtu, 29 April 2017

Negeri Bahagia

Negeri Bahagia
Kurnia JR  ;  Sastrawan
                                                        KOMPAS, 28 April 2017



                                                           
"Ada negeri bahagia entah di mana, yang jauhnya hanya sejangka doa." 

Lirik puitis ini digubah David Kapp dan Charles Tobias pada 1944 yang menyuarakan kelegaan publik Amerika Serikat menjelang akhir Perang Dunia II. Lagu "Just A Prayer Away", yang dinyanyikan oleh Bing Crosby, direkam pada 24 Juli 1944 atau 18 bulan setelah beredarnya novel William Saroyan, The Human Comedy, yang mengusung ide senada.

Negeri Bahagia yang diimpikan itu sederhana, yakni kota yang akrab di hati, tawa anak-anak bermain, dan langit yang tampak rendah. Di sana tersimpan impian dan rencana kehidupan. Sambil melangkah pulang hati pun bernyanyi:"There's a happy land somewhere, and it's just a prayer away.."

Apakah Negeri Bahagia dan di mana itu? Jika Adam ditanya tentang surga, niscaya dia akan menjawab, "Itulah kampung halamanku." Negeri Bahagia adalah tempat pulang setiap orang sehabis perjalanan jauh membawa duka dan luka.

Meniti tali sirkus

Prosa dan musik memang menggugah, tetapi tidak selalu dijadikan pelajaran. Amerika kian haus perang. Juga di antara kita ada yang gigih ingin mengimpor kekacauan di Timur Tengah sebagai jihad. Bahkan, ada yang terjun ke medan perang teror yang brutal di negeri orang atas nama agama. Sementara itu, demonstran giat mengkhotbahkan doktrin radikal di jalanan.

William Saroyan lahir dari keluarga imigran Armenia dari Bitlis, Kekaisaran Utsmani. Ayah-ibunya hijrah ke Amerika pada 1905. Karya sastranya lahir dari riwayat hidupnya dan kaum imigran yang tercerabut dari akar mereka. Ia tahu persis pedih-perih bangsa yang cerai-berai dikoyak perang dan penindasan.

Biarpun masih harus membetulkan kondisi hidup di sana- sini, sebagai bangsa, kita memiliki modal utama yang unik, yaitu kemajemukan. Pada beberapa segi ini membuat takjub bangsabangsa lain. Kalau bukan kebanggaan, ini adalah aspek kebangsaan yang riskan. Di sisi lain, religiusitas yang kental sebagai sifat bawaan jadi tantangan tersendiri bagi kemajemukan. Ini membuat kita seperti meniti tali sirkus setiap hari.

Dengan dua hal itu, kemajemukan dan religiusitas, sebenarnya kita sudah dianugerahi Negeri Bahagia. Bagaimana mungkin kita empaskan karunia itu seperti barang rongsokan? Sumber daya alam telah digadaikan kepada korporasi asing dengan ceroboh. Janganlah kedua permata ini kita sia-siakan juga dengan kesembronoan ideologis.

Bagi kita, Negeri Bahagia mirip alegori utopis yang terdengar mudah, tetapi bukankah sedang terjadi dekadensi intelektual, moral, dan spiritual? Bukalah arsip, dapati mereka yang 30-15 tahun lalu menuliskan pemikiran secara mendalam, tajam, dan jernih di jurnal ilmiah atau buku dan media massa, kini jadi corong organisasi politik atau komunitas radikal penjaja sentimen primordial minus komitmen moral.

Pemikiran dan pergerakan kaum cendekiawan sejak awal abad XX mengantarkan bangsa ini tahap demi tahap ke kemerdekaan, 1945. Polemik kebudayaan 1930-an memancangkan tonggak-tonggak pemikiran yang menempuh transisi era kolonialisme ke nasionalisme, rezim Soekarno, hingga jatuhnya Soeharto. Justru begitu era "Reformasi" dimulai, dekadensi intelektual bermula.

Banyak akademisi, seniman, aktivis, dan pemikir independen mengalami kebangkrutan intelektual. Setelah memakai jas necis politikus atau jadi juru bicara politikus, sebagian tak lagi mengindahkan integritas. Apa yang dicatat Soe Hok Gie tentang aktivis yang "jinak" dan lupa daratan setelah jadi anggota parlemen kini terulang.

Kalimat dan diksi yang menyiratkan dan menyuratkan dekadensi intelektual tak terlontar dari luar kamar cendekiawan. Mereka hanya mujur karena ada kambing hitam buat dituduh sebagai penyebar dusta dan kebencian, yaitu segmen sosial yang naif. "Ulama karbitan", "intelektual tanggung", "demagog bayaran" hanya orang-orang sial yang tak mampu memahami tonggak- tonggak keanggunan di tengah karut-marut realitas.

Tonggak- tonggak itu telah digerus rayap. Yang dimaksud adalah kaum yang sebelum era "Reformasi" adalah penulis, intelektual, atau pemikir. Militansi keagamaan formalistis sudah memicu konflik horizontal, pembakaran dan pengusiran, dan penistaan individu atau sosial atas nama agama atau ideologi. Atas semua ini, kita selalu menyalahkan para pelaku di lapangan tanpa mengkaji latar belakang kebanalan ini.

Integritas yang tergadai

Euforia "reformasi" melahap integritas intelektual. Korupsi terjadi bukan hanya di lembaga pemerintahan dan parlemen, melaikan juga di sebagian komisi ad hoc yang dibentuk pada era ini. Maklum, gaya hidup masa kini menuntut segala hal ditakar dengan uang. Tidak banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang murni memperjuangkan hak-hak publik. Sebagian akademisi banting setir ke bisnis jasa layanan politik dengan kacamata kuda. Tunas muda rentan tergiur gengsi sosialita politik,dan tak sedikit terpukau sihir politik kekuasaan.

Tentu ada yang bertahan menjaga kemurnian harkat intelektual. Mereka tekun menulis, tetapi buku tidak laku dan jurnal ilmiah terasing dari komunitas cendekiawan sendiri. Sebagian lagi memilih jadi penonton diam, karena wacana ilmiah di jejaring sosial rentan dimanipulasi jadi materi provokasi. Pikiran lebih banyak terlontar dalam ringkasan, minus eksplorasi-elaborasi.

Pasar pemikiran sepi karema cendekiawan berduyun-duyun ke pasar suara yang basah di media sosial atau di ruang negosiasi bisnis pemilu dengan pengurus partai politik. Penyair "kemproh" gagap di depan realitas necis walau menyaksikan kebusukan di balik segala sesuatu yang tampak beres, anggun, resik, dan saleh. Puisi jadi tumpul. Genit, tetapi kalah gengsi.

Dekadensi moral membusukkan para intelektual dan standar lembaga politik dan keagamaan. Memang, cendekiawan bukan segala-galanya. Namun, jika bicara tentang hati nurani bangsa, mereka adalah garda. Cendekiawan datang dari berbagai agama, tak sedikit yang juga ulama. Manakala tirani menindas kemanusiaan, merekalah hati nurani yang bicara melawan diktator.

Suara jernih kaum intelektual adalah bekal publik untuk mengingatkan sesamanya atau rezim penguasa demi keadilan, harga pangan terjangkau, upah layak, anti-diskriminasi, toleransi dan lain-lain. Sebelum orde "Reformasi" mengganyang rezim Orde Baru, harga diri kecendekiaan relatif mapan berkat posisi kaum intelektual selaku oposan penguasa yang represif kala itu.

Kita sedang menggoreskan korek api untuk membakar citraan Negeri Bahagia kita, meski ada yang menepis tangan kita hingga korek api itu jatuh. Entah kenapa dengan bandel kita pungut lagi batang korek itu. Mengapa kita benci Negeri Kepulangan, tempat berlindung di hari tua?

Di Negeri Bahagia, setiap orang dituntut rela berbagi dalam berbagai hal, terutama nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar. Tanpa kerelaan tersebut, citraan indah itu hanya ada dalam lagu manis yang diputar berulang-ulang.