Rabu, 26 April 2017

Problema yang Mencerdaskan

Problema yang Mencerdaskan
Mohammad Nuh  ;   Guru Besar ITS Surabaya
                                                   KORAN SINDO, 24 April 2017


                                                                                                                                                           

Dikisahkan, suatu hari rombongan peneliti berjalan dalam hutan dan melihat sebuah lubang. Didasarlubangituternyataada batu-batuan yang sangat mengkilap, memantulkan cahaya yang luar biasa indahnya.

Sebagai peneliti, naluri keingintahuannya sebagaibagiandari kepenasaranan intelektual, muncul seketika. Salah seorang di antara mereka bergegas mencondongkan badannya dan berusaha mengambil batu-batuan tersebut, tapi lubangnya terlalu dalam. Ia mencondongkan badannya lagi dan menjulurkan tangannya, tapi masih saja tak mampu menjangkaunya. Lalu, ia mengeluh, “Lubangnya terlalu dalam, lubangnya terlalu dalam....” Lalu kawannya berkata, “Minggir, saya akan tunjukkan kepadamu apa masalahnya.” Ia mengambil sebatang galah yang dilengkapi penjepit.

“Masalahnya bukan lubangnya yang terlalu dalam, tapi tanganmu yang terlalu pendek!” Ia menjulurkan galah di tangannya dan berhasil mengambil batu-batuan tersebut. Itulah karakteristik seseorang dalam menghadapi persoalan. Ada yang hobinya mempersalahkan persoalan. Menyalahkan orang lain atau lingkungan, bukankarenaketerbatasandirinya. Dengan mengatakan lubangnya yang terlalu dalam, misalnya. Padahal, persoalan tidak butuh dipersoalkan, yang dibutuhkan adalah jawaban.

Dan ada yang memahami bahwa persoalannya ada pada keterbatasan diri dan segera mencari solusinya tanpa harus mempersalahkan persoalan. Dalam kaidah persoalan dan jawaban (problem-solving priciples), apabila kita dihadapkan pada suatu persoalan, kita pilah mana yang tetap (fixed)—sebagai konstante yang tidak berubah dan mana yang bisa berubah— sebagai variabel. Dalam kasus ini yang tetap adalah posisi batu-batuan yang akan diambil. Adapun yang bisa berubah adalah pengambil, yaitu tangan kita yang harus aktif dalam berperan. Kita yang harus “menyesuaikan” dengan persoalan, bukan persoalan yang harus menyesuaikan dengan kita.

Dalam kehidupan kita tidak akan bisa lari dari persoalan. Begitu kita melarikan diri dari persoalan, kita akan masuk pada persoalan baru. Hal yang harus kita siapkan adalah kemampuan untuk menjawab persoalan disertai kemampuan memilah dan memilih persoalan yang harus diselesaikan terlebih dulu.

Kompleksitas Persoalan

Pada Juli 2016 Price Waterhouse Coopers (PwC) merilis hasil survei yang telah dilakukan terhadap 2.106 eksekutif senior di dunia. Survei tersebut menunjukkan bahwa sofistikasi (kompleksitas) persoalan akan semakin meningkat sejalan dengan waktu dan waktu untuk menyelesaikannya harus semakin cepat. Bisa dibayangkan, kalau kita sedang ujian: dengan tingkat kesulitan lebih tinggi, tapi waktu yang diberikan lebih pendek! Hasil survei tersebut sejalan dengan studi yang telah dilakukan oleh Yves Morieux (Six Simple Rules, How to Manage Complexity without Getting Complicated, 2014).

Kompleksitas persoalan tersebut diakibatkan oleh jumlah manusia yang semakin bertambah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peradaban. Studi yang dilakukan oleh Ian Goldin (Age of Discovery, 2016) menunjukkan bahwa laju kompleksitas persoalan sosial (socio complexity) lebih cepat dibanding kemampuan pemahaman (cognitive capacity) sehingga semakin banyak misteri atau wilayah kehidupan yang masih gelap (blind zone).

Dalam perspektif kehidupan, fenomena ini sungguh sangat wajar karena kalau semakin lama persoalan kehidupan semakin mudah, berarti kita mengalami proses “pembodohan” atau siklus negatif. Sebaliknya, kalau derajat kompleksitas semakin tinggi, menjadi tantangan bagi kita untuk melakukan proses pencerdasan atau membangun peradaban bersiklus positif. Melihat kecenderungan masa depan yang semakin kompleks, maka tidak ada pilihan kecuali kita harus meningkatkan kapasitas berpikir orde tinggi (higher order thinking), lebih kreatif dan intuisi yang semakin tajam (intuition sharpness).

Tentu hal ini berbeda dalam tradisi profetik. Pada diri seorang nabi atau rasul, pengetahuan yang dimilikinya melampaui batas waktu kehidupan. Karena mendapatkan wahyu dari Sang Mahapencipta. Bagi orang yang beriman, keyakinan akan kehidupan setelah kematian bukanlah sebuah khayalan tentang masa depan (self fulfilling prophecy), tetapi sebuah kepastian dan kebenaran. Keyakinan tersebut tidak harus dibuktikan karena pernah mengalaminya. Analoginya tidak terlalu sulit. Bagi kita yang pernah membeli mobil baru, pasti orang dealer berpesan, nanti jangan lupa ya, kalau sudah mencapai sekian kilometer diganti oli dan seterusnya. Mengapa kita percaya dan kita ikuti, karena informasinya bersumber dari yang membuat mobil.

Orang yang Cerdas

Kehidupan itu tidak bisa dilepaskan dari persoalan. Maka, Allah Mahapencipta, dengan sifat kasih sayang-Nya, melengkapi dan menyediakan setiap masalah (kesulitan) tersedia banyak jawaban (kemudahan). Setiap penyakit ada obatnya (likulli daa-in dawaa-in). Dan kualitas seseorang salah satu ukurannya adalah berapa banyak masalah yang telah diselesaikan. Kehidupan itu seperti orang kuliah, setiap masalah itu punya bobot SKS (satuan kredit semester).

Semakin banyak SKS yang diselesaikan dan semakin baik nilai per SKS, semakin banyak credit point kita kumpulkan, maka kinerja kita pun semakin baik. Karena itu, bagi orang yang cerdas, masalah yang dihadapi justru dijadikan sebagai tantangan dan kesempatan. Falsafah syukur dan sabar dijadikan sebagai instrumen dalam menghadapi segala macam persoalan. Manfaatkan seluruh sumber daya, potensi dan kesempatan (syukur).

Ubah potensi jadi kekuatan, dengan kekuatan itulah digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah. Tidak ada jaminan semua masalah langsung bisa diselesaikan. Ada kemungkinan berhasil dan ada kemungkinan gagal. Di antara dua ekstremitas (berhasil dan gagal) itulah wilayah ikhtiar kita, termasuk di dalamnya memohon pertolongan Allah dalam penyelesaian masalah tersebut. Tidakkah melalui persoalan yang kita hadapi hakikatnya Allah menguji, apakah kita sudah bersungguh-sungguh dalam berikhtiar dan tetap berada dalam dimensi kesabaran? Memang, dari sisi epistemologi, kata “problem” (masalah) berasal dari bahasa Yunani, proballein, mengandung makna yang sangat positif. Pro berarti forward atau maju.

Ballein berarti to drive atau to throw. Problem berarti bergerak maju, kesempatan untuk maju dan berkembang. Karena itu, problem dan kemajuan ibarat dua sisi mata uang. Kemajuan akan diperoleh setelah melalui serangkaian penyelesaian masalah. Kemajuan tidak akan diperoleh tanpa menghadapi dan menyelesaikan masalah— persoalan. Masalahnya, bagaimana kita bisa menghadapi berbagai masalah tersebut secara cerdas, dengan efisien dan cost effectiveness yang rendah baik secara sosial, politik, maupun ekonomi.