Sabtu, 15 April 2017

Agar Anak-anak Kita Tidak Menjadi Rasis

Agar Anak-anak Kita Tidak Menjadi Rasis
Iqbal Aji Daryono  ;   Praktisi Media Sosial; Penulis Buku "Out of The Truck Box"; Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                     DETIKNEWS, 04 April 2017
  

                                                                                                                                                           

Araluen Botanic Park, 35 kilometer tenggara Perth, musim semi 2016. Bebunga tulip warna-warni di ladang-ladang rimbun itu seketika lenyap cantiknya. Hayun, anak saya, menjerit tiba-tiba, melolong histeris kesakitan. Gara-garanya, seorang lelaki tinggi tegap berumur 50-an memotong antrian, menabrak Hayun dengan keras, hingga badan mungil anak saya itu membentur tepi kereta mini yang akan dia naiki.

Sontak saya berteriak membentak si lelaki tua itu, sampai-sampai empat atau lima anggota keluarganya berdatangan membelanya. Puluhan kepala pun menoleh ke arah kami. Keributan kecil memalukan itu baru berhasil diredam setelah operator kereta mini turun dan menengahi, lalu Hayun digendong ibunya pindah ke gerbong lain.

Sembari masih sesenggukan, Hayun pun akhirnya diam dari tangisnya. Namun malang, ternyata masih ada sisa luka di hatinya.

Lelaki yang menyerobot antrian dengan brutal itu berasal dari Negeri Anu. Kami tentu hafal ciri fisik dan warna kulitnya. Waktu ribut-ribut terjadi, kami kelepasan pula menyebut mereka sebagai "orang-orang dari Negeri Anu".

Identifikasi seperti itu ternyata menjadi dosa besar kami kepada Hayun. Dengan rasa sakit di badannya, juga rasa takut setengah mati di dalam dadanya, Hayun menyimpan semacam dendam kepada orang-orang dari Negeri Anu. Sejak hari itu sampai beberapa bulan setelahnya, tiap kali kami mengunjungi tempat-tempat ramai, kepala Hayun selalu tingak-tinguk cemas, sambil mulutnya bertanya dengan nada ngeri, "Pak, ada orang-orang Anu apa enggak?"

Sedih sekali saya melihatnya. Satu-dua kali saya coba memahamkan kepadanya, bahwa tidak semua orang dari Negeri Anu adalah manusia kasar penyerobot antrian. "Banyak yang baik, Nduk. Bahkan teman-teman Bapak di gudang juga banyak yang dari Negeri Anu. Mereka juga baik kok sama Bapak."

Tapi, anak-anak tetaplah anak-anak. Teori-teori normatif tidak cukup mempan untuk meruntuhkan imajinasi mereka. Hayun masih saja merekam di kepalanya sebuah citra tak terlawan, bahwa orang-orang Anu itu sungguh berangasan.

Untunglah, Tuhan menolong saya. Tampaknya Dia mengutus seorang anak sebaya Hayun ke sebuah taman bermain, beberapa bulan selepas Tragedi Kereta Mini.

Kali ini TKP-nya di taman bermain Kwinana Adventure Park, sekitar 20 km dari rumah kami. Kami datang sekeluarga saja, sehingga Hayun sendirian yang berlarian, berlompatan, dan bergelantungan di aneka alat permainan. Saat ia kesepian main sendirian itu, ia bertemu dengan beberapa anak lain, bermain bersama, meski cuma 5-10 menit lalu berpisah lagi.

Hingga kemudian saya melihat Hayun bermain dengan seorang gadis kecil. Mereka bermain lumayan lama, tampak begitu menyenangkan, sampai-sampai keasyikan mereka harus saya potong karena waktu magrib segera datang. Dan waktu saya mendekat, hei, ternyata dia anak dari Negeri Anu!

Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Sembari saya gandeng menuju mobil, Hayun saya ajak berbincang kecil. Saya pastikan dulu dia bisa mengira-ngira teman barunya tadi dari negara mana. Ternyata memang dari Negeri Anu, dan Hayun menyadari itu. Lalu saya tanyakan apakah anaknya baik dan ramah ataukah tidak. Hayun menjawab iya. Maka gong pamungkas pun saya berikan:

"Tuh kan, sekarang kamu tahu. Tidak semua orang dari Negeri Anu itu jelek dan suka nabrak-nabrak kayak yang di Araluen waktu itu, kan? Jadi jangan terus takut sama semua orang Anu."

Entahlah, apakah anak saya serta-merta menetralkan ingatan buruknya atas peristiwa kereta mini, sembari menghapus label "Negeri Anu" yang melekat pada lelaki tua yang menabraknya waktu itu. Yang jelas, sejak peristiwa bermain bersama di Kwinana, dia tak pernah lagi tingak-tinguk sambil mencemaskan kehadiran orang-orang Anu.

Barangkali Hayun berubah memang karena pengalaman bagusnya menghapus pengalaman buruk sebelumnya. Namun mungkin pula itu terjadi karena fondasi yang memadai, yang telah ia dapatkan dari sekolahnya.

Australia memang secara serius menekankan kesadaran akan multikulturalisme. Sebagai negeri yang sangat majemuk, dengan gelombang imigran yang datang dari segala penjuru bumi, kesadaran atas keberagaman ini menjadi satu kebutuhan mendasar bagi harmoni sosial masyarakat negeri ini. Setiap saat di sini terjadi interaksi antara orang-orang dengan ciri fisik yang berbeda, dengan kebudayaan yang berbeda, dengan kebiasaan dan tata cara hidup yang juga berbeda.

Karena itulah, sekolah-sekolah pun mengondisikan agar anak-anak terbiasa dengan perbedaan itu. Saya sendiri masih berusaha mencari tahu, bagaimana secara praktis guru-gurunya mengajarkan tentang kemajemukan ini dalam pelajaran sekolah. Maklum, Hayun baru saja naik kelas dua, dan saya cuma bisa mengakses referensi dari bundel catatan anak saya itu di tahun pertamanya. Namun, beberapa cuilan informasi yang saya dapatkan memunculkan sedikit gambaran.

Pernah, misalnya, Hayun diminta membawa makanan khas dari Indonesia ke sekolah, untuk sebuah acara bersama. Teman-temannya, yang juga anak-anak imigran non-Australia, pun membawa makanan mereka masing-masing.

Di lain waktu, sepulang sekolah Hayun memamerkan kemampuan barunya dalam berhitung dari 1 sampai 10 dalam bahasa Vietnam. Ternyata siang harinya, anak-anak dari negara non-Australia diminta oleh Bu Guru untuk tampil mengajarkan hitungan dalam bahasa masing-masing kepada teman-teman sekelas mereka. Ajaran dari Anh, temannya yang anak Vietnam itu, agaknya yang paling membekas di ingatan Hayun.

Pernah pula Hayun diminta membawa tiga lembar foto dirinya dari tiga usia yang berbeda. Saya agak kaget melihat ia ngotot memilih salah satu foto dengan latar pemandangan persawahan di Bantul, kampung kami. "Kan biar kelihatan kalau aku anak Indonesia," kata Hayun.

Masih ada beberapa ilustrasi lain, sebenarnya. Misalnya tentang acara Harmony Day setiap tanggal 21 Maret, ketika anak-anak diminta memakai kostum berwarna jingga, warna yang disepakati sebagai ekspresi penghormatan atas keanekaragaman budaya di Australia. Atau, bagaimana gurunya tak lelah-lelahnya mengingatkan di acara makan bersama, agar Hayun dan Maryam yang muslim tidak ikut makan sosis babi, dan agar Jiyan yang beragama Sikh tidak makan daging apa pun. Tak ketinggalan, bagaimana buku-buku bacaan yang dijadikan PR membaca buat anak-anak sejak kelas satu kerap menghadirkan tokoh-tokoh cerita dari beragam warna kulit dan latar belakang negara.

Apa pun itu, saya melihat ada satu spirit yang ditekankan kepada anak-anak, yaitu agar mereka saling mengenal. Itu.

Saya percaya, segala bentuk gejala xenophobia, stereotip, prasangka-prasangka akibat perbedaan budaya, dan segala sikap yang dekat-dekat dengan rasisme, berawal dari situasi tidak mengenal. Iya Anda benar, tak kenal maka tak sayang. Tapi, saya tidak sedang ngomong soal sayang-sayangan. Maksud saya, tak kenal dalam konteks ini memunculkan kondisi minimnya informasi, minimnya referensi, dan dari segala keterbatasan itulah muncul tumpukan imajinasi yang seringkali terlalu bersifat khayali.

Apa yang terjadi pada Hayun di taman bermain pada cerita di awal tadi adalah bentuk paling gamblang dari aktivitas mengenal. Pada mulanya ia hanya mengenal sepotong saja informasi tentang orang-orang dari Negeri Anu. Ketika potongan yang satunya belum ia dapatkan, Hayun cenderung bermain-main dengan kesan pertama yang ia tangkap.

Beda halnya ketika puzzle dalam otaknya sudah lebih utuh, akhirnya ia mampu membentuk lukisan yang lebih komplet, dan memahami orang-orang Anu sebagaimana orang-orang dari negeri lainnya: ada yang baik, ada yang buruk. Ada yang kasar, ada yang lembut.

Saya paham, tidak semua orang punya peluang yang sama untuk "mengenal". Bahkan sebenarnya perjumpaan Hayun dengan anak Negeri Anu di taman bermain itu pun tak bisa lepas dari perkara takdir hehehe. Ada sisi kesempatan, ada sisi keberuntungan, yang tak semua anak bisa mendapatkan. Maka, di situlah pengajaran yang bersifat normatif masih selalu menemukan relevansinya. Ia selalu bisa kita tempatkan sebagai landasan paling pokok, sebelum anak-anak kita menjumpai realitas kehidupan yang lebih luas.

Jangan khawatir, agama sangat bisa kita jadikan pijakan awal. Saya sendiri sebagai muslim sudah tentu akan mengacu pada Alquran yang menyatakan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Alquran juga tegas menjamin bahwa manusia tidak menanggung dosa dari apa-apa yang tidak dilakukannya.

Dari situ kita bisa menariknya ke satu prinsip, bahwa manusia tidak layak dihukum karena warna kulitnya, karena kebangsaannya, karena etnisnya, atau karena latar budayanya. Manusia diberi apresiasi dan sanksi semata berdasar perbuatan-perbuatan yang dilakukannya. (Dalam hal ini kita sering lupa, bahwa labeling dan prasangka pun sudah merupakan hukuman itu sendiri.)

Kalau bosan dengan hal-hal yang normatif, kita pun bisa mengajarkan kepada anak-anak bahwa sikap-sikap yang cenderung rasis bukan cuma melawan kebenaran moral, melainkan juga bertentangan dengan kebenaran sains. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa semua manusia setara dalam segenap potensi dalam dirinya. Kecuali kita mau melompat balik ke masa ratusan tahun silam, sangat tidak masuk akal bila kita merendahkan dan membangun prasangka berdasarkan ciri-ciri fisik semata.

Dengan fondasi kesadaran demikian, ditambah dengan upaya-upaya untuk saling mengenal, anak-anak akan tumbuh jadi pribadi-pribadi yang tidak merasa menempati dunia ini seorang diri.

Kelak, mereka bakal turut membangun indahnya harmoni. Menjadi manusia-manusia beradab, bermartabat, berpengetahuan, sehingga tidak gampang dimanfaatkan oleh para elite yang memainkan agenda-agenda instan.