Jumat, 21 April 2017

Arah Pemulihan Ekonomi

Arah Pemulihan Ekonomi
Tri Winarno  ;   Peneliti Senior Bank Indonesia
                                                        KOMPAS, 20 April 2017


                                                                                                                                                           

Setelah referendum di Inggris yang memutuskan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) dan dilantiknya Donald Trump sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat (Usxit), perekonomian global menghadapi tantangan yang sangat signifikan. Berbagai pemangku kepentingan, seperti pelaku pasar , merasa sangat cemas terhadap prospek perekonomian global  ke depan, yang imbasnya dipastikan menjalar ke kinerja perekonomian nasional.

Akan tetapi, setelah melewati triwulan I-2017, siklus ekonomi mengindikasikan arah pemulihan ekonomi global terlihat kian nyata dan membangkitkan optimisme yang membuncah, terutama bagi perumus dan pembuat kebijakan publik.

Indikator utama

Setidaknya terdapat beberapa indikator utama yang mendukung optimisme perkembangan perekonomian global ke depan. Indikator pertama adalah pemulihan kinerja perekonomian AS. Setelah pemulihan yang lama dan lambat akibat resesi yang berawal pada 2008, ekonomi AS mengalami masa booming. Pasar tenaga kerja berada pada batas pemakaian tenaga kerja penuh (full employment), laju inflasi mulai meningkat, dan optimisme rumah tangga kian menggeliat.

Tingkat pengangguran total menyentuh batas terendah, yaitu 4,7 persen, dan tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi hanya 2,4 persen. Rata-rata pendapatan pekerja per jam lebih tinggi 2,8 persen dibandingkan dengan pendapatan tahun lalu. Pasar tenaga kerja yang ketat dan peningkatan upah mendorong tenaga kerja yang telah berhenti mencari kerja masuk pasar tenaga kerja lagi sehingga terjadi kenaikan tingkat partisipasi pekerja.

Sebagai indikasi nyata bahwa perekonomian AS berada pada batas pemakaian tenaga kerja penuh adalah adanya peningkatan laju inflasi yang signifikan. Inflasi inti telah mencapai 2,2 persen, secara substansial lebih tinggi dari rata-rata inflasi tiga tahun sebelumnya yang berada pada 1,8 persen. Selama tiga bulan terkini bahkan inflasi inti meningkat 2,8 persen per tahun, jauh melebihi target inflasi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang hanya 2 persen.

Kekayaan rumah tangga masyarakat juga sedang mengalami peningkatan. Harga rumah sebagai aset penting warga AS meningkat 5 persen selama 12 bulan terakhir.  Peningkatan harga saham bahkan telah kian memperkuat dan memperbesar peningkatan kekayaan warga AS.

Survei kepercayaan konsumen AS pada kondisi perekonomiannya sangat positif. The University of Michigan Consumer Sentiment Index  baru-baru ini mencapai angka tertinggi sejak 17 tahun terakhir. Begitu pula pada Februari 2017, the Conference Board Consumer Confidence Index menyentuh angka tertinggi 15 tahun terakhir.

Industri pengolahan telah meningkatkan produksinya setiap bulan selama enam bulan terakhir. Produksi perumahan berpacu dengan naiknya permintaan, yang terefleksikan oleh peningkatan sebesar 6 persen pembuatan rumah baru untuk tipe keluarga tunggal sejak 12 bulan terakhir.

Ini semua menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada 2017 dipastikan akan meningkat lebih cepat dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya. Tatkala data perdagangan dan angka inventori berubah-ubah sehingga tidak bisa digunakan sebagai indikator awal kinerja PDB, maka data  penjualan akhir pada swasta yang secara riil meningkat 2,5 persen per tahun  dapat dijadikan penanda awal kekuatan pertumbuhan ekonomi AS. Dengan demikian, dapat diperkirakan, secara keseluruhan PDB AS pada 2017 akan tumbuh sekitar 2,5 persen.

Indikator kedua adalah perkembangan perekonomian China. Di antaranya ditunjukkan oleh rasio belanja eceren terhadap produksi industri di China. Angka ini dapat digunakan sebagai penanda siklus kecenderungan perekonomian dan indikator perubahan struktural perekonomian China dari ekspor ke konsumsi domestik, dari outward looking ke inward looking economy. Ini salah satu indikator penting bagi perekonomian China maupun bagi perekonomian global ke depan. Walaupun data rasio belanja eceran terhadap produksi industri terlihat naik turun, kecenderungannya semakin meningkat  sejak krisis keuangan global tahun 2008. Ini menunjukkan bahwa belanja konsumsi masyarakat China semakin menguat.

Fakta itu menunjukkan struktur perekonomian China sedang mengalami transformasi struktural yang dramatis. Di antaranya diperkuat oleh data pangsa sektor sekunder (pengolahan dan konstruksi) terhadap total PDB yang anjlok dari  47 persen  pada 2007 menjadi 40 persen pada 2016. Padahal, sektor tersier (jasa) mengalami peningkatan yang signifikan dari 43 persen  menjadi hampir 52 persen. Pergeseran struktural sebesar itu adalah suatu tanda keseriusan Pemerintah China dalam melakukan reformasi ekonomi menuju proses rebalancing yang memadai.

Selain itu, dari data resmi yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional China, pada dua bulan pertama tahun 2017 terjadi peningkatan yang meyakinkan terhadap penjualan eceran, output industri, konsumsi listrik, produksi besi baja, investasi fisik, dan aktivitas sektor jasa.

Sementara cadangan devisa China mengalami pemulihan (rebounded) pada Februari 2017 untuk pertama kalinya sejak delapan bulan berturut-turut, yang berarti tekanan aliran modal asing keluar dari China telah mereda. Dan, pada saat yang sama, untuk meminimalkan dampak kenaikan tingkat suku bunga Fed Fund Rate AS  terhadap arus dana asing, maka Bank Sentral China (People's Bank of China/PBOC) menaikkan tingkat suku bunga kebijakan sebesar 10 basis poin.

Di samping itu, ketahanan perekonomian China diperlihatkan oleh data perdagangan internasionalnya. Pada Januari dan Februari 2017, ekspor mengalami pertumbuhan 4 persen secara tahunan. Padahal, pada kuartal IV-2016 ekspor mengalami kontraksi sebesar 5,2 persen.

Indikator ketiga adalah tanda-tanda kuat pemulihan ekonomi di UE. Sejak musim panas 2016, sebagian besar anggota UE telah menikmati pemulihan ekonomi yang meyakinkan di tengah-tengah kekhawatiran bayang-bayang disintegrasi UE yang dipicu oleh Brexit dan Usxit. Padahal, Brexit dan Trump telah menciptakan ekspektasi bahwa bubarnya UE hanya masalah waktu, yaitu menunggu kemenangan kelompok populis pada pemilu di Belanda, Perancis, Jerman, dan Italia.

Penanda kuat pemulihan ekonomi UE di antaranya diperlihatkan oleh indikator Ifo Business Climate Index bulanan untuk perekonomian Jerman. Data ini dapat digunakan sebagai penanda siklus perekonomian Eropa secara keseluruhan, mengingat Jerman adalah pusat dari perekonomian Eropa. Kalau indeks ini meningkat, maka dapat dimaknai perekonomian Eropa  secara keseluruhan menunjukkan perbaikan. Survei Ifo mencatat, sejak semester II-2016,  angka ini telah menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, bahkan pada Februari 2017 menyentuh angka tertinggi setelah bangkit dari krisis sejak 2008.

Sebenarnya UE telah mengalami resesi ekonomi yang panjang dan mengkhawatirkan sejak krisis keuangan global 2008, terutama karena sikap Jerman yang menentang stimulus fiskal dan moneter untuk UE dalam upaya membantu AS keluar dari resesi 2010. Veto Jerman terhadap ekspansi kebijakan moneter UE dengan menggunakan instrumen semacam quantitative easing juga menjadi penyebab utama hampir bubarnya UE pada 2012.

Namun, perubahan dramatis terhadap kebijakan UE dan kondisi ekonominya terjadi pada Maret 2015 ketika Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) meluncurkan program pembelian obligasi seperti yang dilakukan AS dengan skala yang jauh lebih masif. Sejak saat itu ECB melakukan kebijakan moneter yang ultra-longgar dengan membeli surat berharga di pasar keuangan Eropa sekitar ?2,3 triliun euro.

Dengan pembelian hampir tiga kali dari total  obligasi yang diterbitkan UE, ECB secara efektif mematahkan aturan UE dan menyediakan pembiayaan untuk menutup defisit fiskal negara-negara anggota. Dengan demikian, terbangun kembali sistem yang saling memperkuat pemulihan ekonomi antara negara kuat seperti Jerman dan negara lemah seperti Italia dan Spanyol. Langkah ECB ini secara cepat mampu membalikkan fragmentasi sistem perbankan Eropa dan mengeliminasi bubarnya UE sehingga terjadi peningkatan signifikan kepercayaan dan optimisme investor, pelaku bisnis, dan konsumen di belahan Eropa.

Beberapa risiko

Mencermati indikator-indikator di atas, secara keseluruhan sebenarnya perekonomian global telah mengarah pada fase pemulihan walaupun di tengah-tengah proses tersebut dibayang-bayangi oleh menguatnya politik populis di belahan Eropa dan AS.  Berdasarkan pengalaman masa lampau, ketiga indikator tersebut telah mengirim sinyal bahwa perekonomian global ke depan akan mengalami peningkatan kinerja yang signifikan.

Arah pemulihan ekonomi global tersebut semakin menguat jika dalam pertemuan pemimpin G-7 yang akan diselenggarakan di Sisilia, Italia, pada Mei 2017 dan pertemuan pemimpin G-20 di Hamburg, Jerman, pada Juli 2017, berhasil merumuskan kesepakatan bersama untuk memacu pertumbuhan ekonomi global keluar dari stagnasi. Meski demikian, optimisme tersebut masih menghadapi beberapa risiko yang membahayakan. Risiko tersebut bisa menjadi batu sandungan laju ekonomi global yang sudah menguat. Risiko tersebut di antaranya adalah kondisi perbankan di Eropa yang masih lemah, over-leveraged pemerintah lokal di China dan  regulasi keuangan yang ruwet dan kompleks di AS.

Selain itu, agenda penting yang mengkhawatirkan adalah pemilihan presiden Perancis pada 7 Mei 2017. Kalau Marine Le Pen yang menang, maka arah pemulihan ekonomi akan terasa semakin berat. Namun, apabila yang menang Emmanuel Macron, yang merupakan kelompok garis tengah, dapat dipastikan perekonomian global akan semakin menguat menuju ke arah pemulihan.

Semoga arah pemulihan ekonomi global semakin pasti sehingga optimisme akan dunia yang semakin sejahtera dapat terwujud.