Kamis, 20 April 2017

Saatnya Akal Sehat Memilih

Saatnya Akal Sehat Memilih
Radhar Panca Dahana;  Budayawan
                                              MEDIA INDONESIA, 19 April 2017


                                                                                                                                                           

PADA akhirnya kita selaiknya mafhum, demokrasi adalah salah satu produk kebudayaan yang kita manusia menciptakannya. Kebetulan saja, produk yang satu ini memang mengundang kegaduhan, memancing emosi dengan cara luar biasa, membutuhkan ongkos yang sangat-sangat besar, dan pada akhirnya juga merangsang manusia bukan hanya mengerahkan kemampuan terbaiknya, melainkan juga mengerahkan nafsu buruk hingga syahwat terkotornya. Hasilnya? Banyak pihak sangat optimistis akan kebaikan-kebaikan yang didapat darinya. Tapi sejarah juga membuktikan, bagaimana kedegilan dan kebusukan juga merajalela di dalamnya, termasuk pemimpin yang dilahirkannya, mulai Adolf Hitler di masa lalu Jerman, hingga Donald Trump di negeri yang konon terbesar dalam praktik demokrasinya, Amerika Serikat.

Apakah demokrasi yang sudah--telanjur--kita sepakati penerapannya itu memberi dampak penuh kebaikan di negeri ini? Atau boleh jadi justru implikasi negatif-destruktif bukan hanya di tingkat suprastruktur, melainkan juga hingga relasi sosial dan kualitas kultural yang terjadi? Biarlah sejarah atau setidaknya Anda masing-masing menilainya. Apa yang jelas harus kita pahami, pilkada, sebagai praksis demokrasi, sebagaimana produk kebudayaan lainnya adalah hasil kerja terintegrasi antara tiga dimensi ilahiah manusia: akal, jiwa (mental), dan badan (jasmani). Jika tiga dimensi itu dapat bekerja (sama) dengan sehat dan teringtegrasi, produk (kebudayaan)-nya pun akan baik dan luhur. Sebaliknya, jika salah satu saja dari tiga dimensi ilahiah itu tidak sehat operasionalnya sehingga menciptakan ketidakseimbangan dalam kerja samanya dengan dimensi-dimensi yang lain, dapat dipastikan produknya pun akan menyimpang, negatif, bahkan destruktif.

Karena itu, kini kita bisa melihat, merasakan, dan menilai sendiri. Apakah proses yang berlangsung atau terjadi selama ini khususnya dalam masa pra- dan pascakampanye, di pilkada DKI khususnya, produk kebudayaan bernama demokrasi itu sudah menciptakan keluhuran (budi manusia) sebagaimana tujuannya? Atau justru ia menjadi sarana yang terlegitimasi (oleh negara) dan dibiayai juga oleh rakyat banyak, untuk kita mengeksploitasi mental atau jiwa yang teruk, penuh iri, dengki, fitnah, dan khianat demi memuaskan libido kekuasaan atau kemenangan sepihak (bukan bangsa/warga) kita seluruhnya?

Bila konstatasi terakhir yang justru Anda rasakan, sebagaimana banyak pihak mengutarakan, bahkan hingga kalangan penguasa tak kuasa menahan rasa khawatir dan cemasnya, tentu ada yang salah dalam proses itu. Dalam cara berpikir kebudayaan kita di atas, mestinya ada salah satu dimensi kemanusiaan kita (yang ilahiah) itu yang tidak bekerja dengan baik atau sehat. Barangkali ia alpa, tergelapkan, atau sakit alias tidak sehat, sehingga mengakibatkan kerja dimensi lainnya terganggu, juga kesehatannya. Bisa Anda bayangkan, bila akal misalnya, yang kita gunakan saat ini dalam turut campur di keriuhan pilkada tidak sehat, tidak peduli dengan logika kebenaran atau mempersetankan nalar yang menjunjung kemuliaan bersama, tidakkah jiwa atau mentalitas kita pun terpengaruh, menjadi sakit? Bukankah tubuh kita lalu merespons dengan sikap dan tindakan yang--katakanlah--negatif, provokatif, alias penginnya berantem aja?

Atau dalam kasus lain, ketika (sebagian dari) kita misal saja, memiliki mental atau emosi yang kacau, tergelapkan, termanipulasi, atau terinduksi oleh paham-paham yang sempit (seperti menganggap hanya diri dan kelompoknya yang memegang kebenaran) lalu menciptakan keyakinan yang buta. Apakah tidak akal kita pun tersesatkan dengan memproduksi argumen-argumen yang seolah canggih? Tapi sesungguhnya hanya apologetik, retorik, atau silat lidah belaka hanya untuk membenarkan diri sendiri? Apa kemudian produk kebudayaan, demokrasi dalam hal ini, yang kita hasilkan?

Saya tahu, Anda juga tahu apa jawabannya. Mengapa seyakin itu? Karena, berbasis latar pendidikan atau pengalaman apa pun, kontinental maupun bahari, sesungguhnya kita menyimpan 'akal sehat' itu; akal yang memang ditujukan untuk meluhurkan kebudayaan, memuliakan manusia. Katakanlah itu semacam common sense. Dengan senjata sederhana dan umum ini, common sense, kita mafhum apa sesungguhnya kebaikan dan kebenaran bagi sesama... sekali lagi, bagi bersama (seluruh warga/bangsa) itu. Karena itu, di hari istimewa ini, khususnya bagi warga Jakarta juga rakyat Indonesia keseluruhannya yang terimbas oleh ingar-bingarnya, di saat kita harus (dipaksa undang-undang) melaksanakan hajat memilih pemimpin Ibu Kota, yakinkanlah diri kita sendiri bahwa hajat tersebut mesti dilandasi kesehatan paripurna dari jiwa, badan, dan akal kita. Hanya dengan cara itu, keluhuran dan kemuliaan akan kita hasilkan. Bukan saja pemimpin yang akhirnya kita menangkan, melainkan juga kepentingan warga, bangsa, hingga anak cucu kita di masa depan.

Periksalah dengan baik, jiwa dan akal kita dengan khusyuk, penuh ikhlas, apakah sudah baik dan benarkah cara berpikir serta keyakinan hati kita melulu untuk menciptakan kemaslahatan bersama, bukan kepentingan sempit diri atau golongan sendiri. Karena itu, tegaklah tubuhmu, yang diluruskan oleh akal sehat dan jiwa bersihmu menuju tempat pemungutan suara maka semua akan berlangsung baik, penuh rasa persaudaraan, padat dengan kebaikan dan tujuan mulia. Sementara itu, keangkaraan, kecurigaan, fitnah keji, dan prasangka negatif--yang mungkin selama ini sempat menghuni dimensi kemanusiaan kita--akan jauh tersingkir, bahkan binasa. Lalu kita pun tahu, bukan hanya anak cucu menunggu dengan senyum bahagia serta bahagia, melainkan juga Dia yang di atas akan, insya Allah, memberi rida dan berkah-Nya.