Sabtu, 15 April 2017

Malaikat dan Iblis dalam Mimpi

Malaikat dan Iblis dalam Mimpi
AS Laksana  ;   Cerpenis dan Esais kelahiran Semarang, tinggal di Jakarta
                                                       JAWA POS, 12 April 2017



                                                                                                                                                           

SATU kebiasaan berharga yang sudah bertahun-tahun saya tinggalkan adalah meminta tolong kepada malaikat penjaga menjelang tidur. Itu kebiasaan yang saya kerjakan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Guru agama yang memberi tahu.

Saya duduk di kelas IV waktu itu. Pada suatu hari, guru agama menanyakan kepada kami, murid-muridnya, siapa yang tidak mengerjakan salat sama sekali. Tidak ada yang mengacungkan jari telunjuk. Selanjutnya, dia menanyakan siapa yang mengerjakan salat lima waktu. Beberapa anak mengacungkan jari, tidak banyak. Lalu empat, tiga, dua, satu.

Saya hanya bisa empat kali sehari, tanpa salat Subuh, karena selalu bangun kesiangan, mandi tergesa-gesa, dan langsung lari ke sekolah. ”Tapi, ingin mengerjakan salat Subuh atau tidak?” tanya guru. Saya jawab ingin.

”Kalau begitu, minta tolong kepada malaikat agar dibangunkan lebih pagi,” katanya. Dia memberitahukan bahwa setiap orang memiliki malaikat penolong yang dengan senang hati akan membantu jika diminta.

”Jadi, mulai nanti malam, sebelum tidur sampaikan permintaanmu kepada malaikat penolong itu,” kata guru. ”Misalnya, kau ingin bangun setengah lima. Katakan saja, ’Malaikat yang baik, tolong bangunkan saya setengah lima agar saya bisa salat Subuh.’ Ia pasti membangunkanmu. Tetapi, kau mungkin belum paham cara ia membangunkanmu dan belum kenal bahasanya. Minta lagi besoknya. Pokoknya, setiap malam menjelang tidur mintalah kepada malaikat penjaga agar membangunkanmu pukul setengah lima.”

Saran itu saya ikuti. Seperti yang dikatakan guru, malaikat penjaga benar-benar suka membantu. Tidak sampai seminggu sejak mulai menyampaikan permintaan tolong, saya bisa bangun pagi. Spontan, saya melihat jam dinding: pukul setengah lima.

Selama berbulan-bulan saya melakukan kebiasaan seperti itu menjelang tidur dan baru berhenti meminta tolong setelah saya yakin sudah bisa bangun pagi tanpa perlu dibantu lagi. Dan saya melupakannya.

Urusan minta tolong menjelang tidur itu baru muncul lagi bertahun-tahun kemudian, ketika saya membaca buku panduan menulis cerita pendek yang disusun Mohammad Diponegoro, berjudul Yuk, Nulis Cerpen yuk. Saya membacanya ketika SMA dan membeli tiga eksemplar lagi untuk saya bagikan kepada teman-teman. Saya menyukai buku itu dan saya pikir mereka juga perlu membacanya.

Di sana, Mohammad Diponegoro memperkenalkan metode kreativitas dengan memberdayakan bawah sadar. Dia menyebutnya ”Jin Ifrit di dalam kepala” karena bawah sadar memiliki kemampuan untuk mengerjakan hal-hal yang luar biasa.

Saya mengikuti secara harfiah apa yang dia sarankan untuk menulis cerita pendek dengan bantuan mimpi. Setiap hari saya memikirkan dua atau tiga karakter, memikirkan kesulitan yang mereka hadapi, latar belakang mereka, tempat kejadian, dan beberapa detail lagi tentang mereka.

Tiap malam menjelang tidur, saya membaca catatan yang sudah saya siapkan pada siang hari dan meminta bawah sadar memunculkan cerita dalam mimpi. Beberapa lembar kertas dan sebatang pensil saya sediakan di samping tempat tidur. Mohammad Diponegoro menyampaikan bahwa biasanya kita terbangun pada ujung mimpi; pada saat itu kita harus segera mencatatnya. Jika kita tidur lagi setelah terbangun, pada saat nanti terbangun lagi, kita cenderung lupa apa mimpi kita semalam.

Cerpen-cerpen awal saya lahir sangat mudah dengan cara itu. Tetapi, kemudian muncul pikiran yang tidak-tidak: jika terus-menerus berbuat begini, saya niscaya kehilangan mimpi alami. Saya tidak mungkin bisa memimpikan tujuh lembu gemuk ditelan tujuh lembu kurus. Para pecandu judi buntut tidak bisa menafsirkan mimpi saya menjadi deretan angka-angka. Saya juga akan kehilangan pesan gaib yang mungkin disampaikan melalui mimpi. Pendeknya, mimpi saya tidak lagi menyimpan rahasia. Kerisauan itu membuat saya meninggalkan ”Jin Ifrit di dalam kepala” dan melupakannya.

Cerita fantastis berikutnya mengenai mimpi yang saya jumpai dalam riwayat Giuseppe Tartini (1692–1770). Komposer kelahiran Venesia, Italia, itu mengakui bahwa komposisinya, Devil's Trill Sonata, lahir dari mimpi. Suatu malam dia bermimpi membuat perjanjian dengan iblis yang bersedia memenuhi apa pun keinginannya. Sebelum menyepakati perjanjian, Tartini ingin menguji kecakapan si iblis. Dia serahkan violin miliknya dan minta iblis itu memainkannya.

”Saya seperti berhenti bernapas ketika melihatnya memainkan sebuah komposisi,” katanya.

Saat bangun tidur, dia memainkan lagi komposisi tersebut, mencatat notasinya, dan memberinya judul Devil's Trill Sonata. Anda bisa menikmatinya di YouTube jika tertarik pada komposisi terbaik Tartini itu.

Sekarang, ketika mengingat lagi semuanya, saya menyesal kenapa tidak melanjutkan kebiasaan meminta tolong kepada malaikat. Ia membantu saya bangun pagi; ia tentu bisa membantu saya untuk urusan lain. Saya juga menyesal melupakan kehebatan ”Jin Ifrit di dalam kepala”.

Tetapi, memang inilah salah satu yang paling misterius di dalam perilaku manusia. Ketika kesulitan, orang mengeluh. Ketika jalannya terlalu mudah, orang tidak percaya bahwa di dalam hidup ini ada jalan mudah. Kalaupun percaya, mereka tidak punya ketekunan melakukannya. Padahal, yang diperlukan cuma meminta tolong menjelang tidur.