Sabtu, 22 April 2017

Menang dan Bahagia dalam Media

Menang dan Bahagia dalam Media
Ashadi Siregar  ;   Peneliti Media dan Pengajar Jurnalisme
                                                        KOMPAS, 21 April 2017


                                                                                                                                                           

Tercatat 147 pahlawan nasional yang terdiri dari 135 laki-laki dan 12 perempuan (www.kemsos.go.id). Dari sana, hanya seorang pahlawan yang kelahirannya dijadikan hari nasional, yaitu RA Kartini (21 April 1879-17 September 1904).

Pada hari itu, perempuan dewasa dan anak-anak mengenakan pakaian tradisional, kaum bapak lomba bikin nasi goreng. Mengisi 21 April dengan sukacita boleh jadi malah melupakan sosok Kartini. Ia hanya menjadi ikon yang kehilangan makna. Padahal, sosok Kartini sempurna dijadikan prototipe dua dunia: realitas empiris dan media, yang ironis ketika dijajarkan.

Manusia nilai

Dalam realitas empiris yang keras (hard reality), manusia harus bertarung dengan hasil yang diharapkan berujung pada menang atau kalah. Dalam realitas media yang lunak (soft reality) manusia muncul dengan informasi yang diproses oleh alam pikiran. Kedirian manusia dapat dilihat dalam kehadirannya di kedua dunia. Apa yang dilakukan dalam realitas empiris dan apa yang dipikirkan dalam realitas media menjadi alur yang direkam dalam kehidupan.

Secara populer disebut rekam jejak (track record), akan menandai seseorang sebagai manusia berbuat (person of action) atau manusia nilai (person of value). Dalam realitas empiris manusia selalu ingin mencapai keberhasilan walaupun mungkin akan berbuat dengan menghalalkan segala cara. Namun, sebagai manusia nilai, bukan keberhasilan yang jadi parameter, melainkan kedirian yang menjadi sumber rujukan kebaikan (virtue) dari totalitas kediriannya.

Kartini berbeda dengan pahlawan nasional lain yang rekam jejaknya tercatat dari realitas empiris. Dengan rekam jejak ini, manakala berkuasa atau didukung kekuasaan narasi sejarah besar yang dimunculkan. Ada kala menyisakan sejarah kecil hitam tersembunyi. Figur besar berkuasa semacam Bung Karno dan Pak Harto akan dinarasikan melalui sejarah besarnya, sementara noktah sejarah kecilnya akan diungkit setelah tak berkuasa sehingga kontroversial sebagai rujukan nilai. Bung Karno adalah pahlawan proklamator bersama Bung Hatta. Realitas empiris yang bersifat einmalig bagi NKRI, tak akan ada yang memperdebatkan. Sementara Pak Harto perlu sepenuhnya diterima sebagai manusia nilai bagi bangsa Indonesia kini dan kelak.

Kartini sepenuhnya manusia nilai. Hidupnya singkat, tak pernah di tampuk kekuasaan, tak ada sejarah kecil hitam dari realitas empirisnya. Dia dibesarkan dalam keluarga ningrat, tetapi lahir dari garwo selir, bukan garwo padmi (istri utama). Ibu kandungnya sebenarnya istri pertama, putri guru agama Islam dari kalangan biasa. Ayahnya, Sosroningrat, seorang patih yang diangkat sebagai bupati. Namun, konvensi yang dijalankan gubernemen Hindia Belanda, bupati harus beristrikan kalangan ningrat. Maka, Sosroningrat menikahi RA Woerjan (Moerjam). Dengan pernikahan itu, ayah Kartini diangkat menggantikan kedudukan ayah RA Woerjan, RAA Tjitrowikromo sebagai bupati Jepara.

Ini bukan sekadar poligami. Dalam realitas empiris yang paling dini, Kartini pada dasarnya telah bersentuhan dengan pemerintahan Hindia Belanda. Ibu kandungnya adalah figur yang terinjak feodalisme, yang menyatu dengan kekuasaan kolonial. Sampai usia 12 tahun, Kartini bersekolah di Europese Lagere School, sekolah dasar berbahasa Belanda. Kemudian dia juga harus menjalani kehidupan pingitan, kultur yang menempatkan perempuan dalam posisi kalah.

Namun, Kartini tak kalah. Dalam pingitan dia mengembara secara intelektual. Koresponden- sinya dengan pasangan suami-istri intelektual Belanda, Abendanon, menjadi exercise konseptual sehingga proses intelektualnya berkembang tanpa harus bersekolah formal yang tinggi. Tulisan otentik Kartini mencerminkan intelektualitas yang tinggi.

Kekalahan Kartini

Dalam realitas media, melalui surat-suratnya (saat belum ada surel, medsos, dan semacamnya), dia bagaikan heroine yang mengembara di padang frontier. Akan tetapi, karena ia bukan jurnalis, surat-suratnya pada dasarnya bersifat fiksional, hasil pengembaraan dari buku-buku dan majalah terbitan Belanda atau bersifat faksional manakala direfleksikannya dari  sintesis dengan dunia empiris yang melingkupinya. Dunia empiris ini sebatas kehidupan rakyat kecil, sedangkan kondisi yang berasal dari kultur feodal yang berjumbuh dengan kolonial merupakan realitas yang tak disentuhnya secara intelektual.

Kartini bukan Multatuli (Eduard Douwes Dekker) yang merekam perilaku bupati Lebak yang memeras rakyat sampai ke tahap merampas kerbau petani (lihat: Max Havelaar). Bagaimana kehidupan bupati (regent) pada masa kolonial Belanda? Seorang bupati menerima gaji bulanan dari gubernemen Hindia Belanda. Sementara pengeluarannya besar: menjamu tamu bangsa Belanda dan menyangga ekonomi keluarga besar dengan sanak keluarga yang ngenger sebenarnya tak dapat tercukupi semata-mata dari gaji.

Karena itu, setiap bupati harus punya sumber-sumber tambahan. Bupati yang tak memeras rakyat akan tertolong dengan kultur poligami. Di sini berperan keandalan garwo-garwo selir yang biasanya dari kalangan rakyat bawah. Pada dasarnya ekonomi birokrat feodal dalam struktur pemerintahan kolonial mengalami proses pemiskinan. Akan tetapi, tak mungkin mengubah gaya hidup yang telanjur ekstravaganza. Hanya kewirausahaan yang dapat menyelamatkan hidup para bupati. Namun, siapa yang akan melakukan jika tangan ningrat tidak boleh dicemari oleh perniagaan?

Perbuatan berniaga menurunkan derajat seorang ningrat. Maka, mengelola buruh pembatik, pengukir kayu, atau perajin lainnya (tergantung yang tersedia di lingkungan setempat), sampai memasarkan dapat dijalankan garwo selir. Sementara garwo padmi tidak perlu "kotor" tangannya sembari tetap menikmati kehormatan atas keningratannya.

Apa yang diperoleh garwo selir yang umumnya berasal dari desa? Mungkin terangkat citra sosial sanak keluarganya di desa (lihat: Pramudya Ananta Toer, Gadis Pantai, 2003) atau pengabdian pada keluarga ningrat sudah dianggap anugerah. Bagaimanakah Kartini melihat persoalan ini? Boleh jadi dia dekat dengan ibu kandungnya, tetapi sebutan "ibu" dalam surat-suratnya dimaksudkan untuk garwo padmi.

Maka, yang perlu dihayati adalah kekalahan RA Kartini dan ibu kandungnya dalam realitas empiris, yaitu tentang kehidupan perempuan desa yang dijadikan batu umpak bagi kehormatan ekstravaganza keluarga ningrat. 

Kekalahan Kartini dalam realitas empiris disempurnakan dengan kematiannya. Dia meninggal pada usia 25 tahun, empat hari setelah melahirkan. Namun, Kartini meraih kemenangan dalam realitas media sekaligus bahagia di dalamnya. Intelektualitasnya terekam dan abadi untuk menjadi sumber nilai bagi generasi demi generasi.

Mengenang Kartini seorang cendekia dalam media dapatkah kita bandingkan dengan hirukpikuk orang  bermedia kini? Dia, yang menulis dengan pena, berpikir sejuk, dengan pengembaraan dalam perspektif intelektualitas membahas masalah bangsanya. Ia bermedia tak dipicu impuls kemarahan dan kebencian. Bandingkan dengan orang    bermedsos daring kini yang mencerminkan kemerosotan intelektualitas dan membuncahnya psikopatologis di kalangan orang berpendidikan tinggi.