Rabu, 19 April 2017

The Power of Things Happen

The Power of Things Happen
Iqbal Aji Daryono  ;   Praktisi Media Sosial; Penulis buku "Out of The Truck Box"; Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                     DETIKNEWS, 18 April 2017


                                                                                                                                                           

Pagi ini badan saya lelah sekali. Empat hari terakhir saya habiskan bersama keluarga untuk menjejalahi pelosok tenggara Australia Barat yang fakir sinyal. Selama itu pula saya nyaris tidak membuka Facebook, WhatsApp, ataupun membaca berita dari media-media online.

Begitu tiba di rumah Senin menjelang tengah malam, saya iseng sebentar membuka HP, dan mendapati dunia sudah sangat berubah. Panas sekali. Ya, apa lagi kalau bukan karena Pilkada DKI? Hahaha.

Dalam beberapa hal, kadang saya sendiri turut meramaikan obrolan tentang Pilkada terheboh sepanjang sejarah umat manusia itu. Namun di hari H-1 coblosan, rasanya tak sopan kalau latah ikut memanaskan apa-apa yang sudah terlalu kepanasan. Akan lebih menyenangkan jika saya membagi satu cerita enteng-entengan.

Begini ceritanya. Ada beberapa hal yang tidak terlalu saya sukai dari Australia dan orang-orangnya. Teman-teman yang sudah membaca buku saya pasti paham tentang itu. Yang belum membaca tidak saya minta beli, tenang saja. Namun selain sisi-sisi yang tak terlalu menyenangkan dari masyarakat Australia, ada banyak hal yang baik dan lucu, dan bisa Anda baca di sini tanpa harus membeli buku.

Salah satunya adalah tentang "Things Happen Philosophy". Itu sebutan dari saya sendiri.

Di bulan kedua setelah saya mendarat di Perth, saya langsung menjumpai fenomena itu. Saat itu saya masih menjalani hari-hari pertama sebagai tukang bebersih di sebuah gedung milik sebuah perusahaan perikanan.

Ceritanya, suatu malam saya datang untuk berdinas di gedung itu. Sebuah gedung yang besar, gelap, dan menyeramkan. Posisinya yang menempel di pelabuhan membuatnya tampil sempurna dalam kesunyiannya. Cuma orang sinting atau maling yang mau repot-repot kelayapan ke sekitar tempat itu selepas malam datang.

Setiap kali saya masuk pintu, selalu saya iringi langkah kaki dengan deretan doa pengusir genderuwo dan teman-temannya. Juga malam itu. Saya masuk, pura-pura tenang memainkan vacuum cleaner, mengepel lantai, membuangi kantong-kantong plastik berisi sampah bau, lalu menyikati toilet yang level kotornya nyaris menyamai dunia politik Indonesia.

Saya tidak suka tempat itu, sehingga merasa harus lekas-lekas menuntaskan tugas dan capcus pulang. Maka, begitu bercak terakhir di toilet saya bersihkan, langsung saya keluar dengan buru-buru. Brak! Pintu berkunci otomatis itu saya tutup dengan lega.

Sayang, kelegaan saya cuma berlangsung setengah detik. Kunci saya tertinggal di dalam! Ya Tuhan, padahal begitu pintu ditutup, ia tidak bisa dibuka lagi dari luar. Belum lagi di kunci itu ada remote pembuka gerbang, sementara gerbang juga terkunci dan mobil saya ada di dalam.

Sebenarnya masalah akan selesai kalau saya anggota X-Men dan bisa memindah mobil menembus gerbang. Namun karena saya bukan X-Men, lagipula membicarakan tokoh komik Marvel di hari-hari ini bisa membawa konsekuensi sosial tertentu, maka saya mengurungkan niat untuk menembus gerbang.

Saya tak punya pilihan selain mengangkat HP, menelepon bos agen jasa kebersihan tempat saya bekerja, lalu pasrah menceritakan semuanya. Bukan cuma malu setengah mati yang saya rasakan. Namun juga sungkan dan takut.

Jelas takut, karena sebelumnya nyaris dua bulan saya stres menganggur, di tengah cekikan ongkos kebutuhan hidup di tanah asing ini. Membikin sebuah masalah konyol di saat baru bekerja beberapa hari tentu saja bukan awalan yang baik untuk karier saya sebagai tukang ngelap WC.

Soal sungkan, itu terkait waktu. Orang Australia rata-rata tidur sore. Jam tujuh atau delapan lampu-lampu rumah sudah padam. Mereka berkumpul bersama keluarga, atau ngorok di balik selimutnya. Nah, bayangkan, di tengah suasana syahdu begitu, ada telepon dari karyawan baru, yang meratap karena sebuah kecerobohan memalukan yang nggak mutu!

Saya menceritakan kesialan saya sambil dengan gencar menyelipkan bejibun ucapan maaf, tak kalah gencar dengan para anggota timses yang menyelipkan amplop serangan fajar. Tapi apa jawab bos saya?

"Don't worry, things happen." Ia mengucapkan itu di telepon dengan tenang, kemudian segera berfokus untuk mencari jalan keluar. Tak terdengar omelan marah secuil pun. Padahal pasti bakalan lebih 'normal' kalau ia bilang dulu, "Lha kok bisa?? Gimana sih?? Ati-ati dong! Ini jam berapa ini, kamu jangan bikin kacau gini...!" Namun omelan wajar seperti itu tidak ada sama sekali.

Things happen. Saya tidak tahu padanannya yang pas dalam bahasa Indonesia untuk kalimat itu. Sudah pasti bukan terjemahan mentah semacam "Hal-hal terjadi." Itu bukan ekspresi berbahasa kita. Barangkali lebih setara dengan "Yang sudah ya sudah." Itu pun tidak sepenuhnya sepadan.

Dalam kebiasaan kita saat menghadapi persoalan, kalimat "Yang sudah ya sudah" memang kadang muncul. Tapi itu diucapkan setelah sebelumnya kita ribut dulu, untuk kemudian ada yang mendinginkan suasana dengan "Sudah, sudah. Yang sudah ya sudah."

Nah, orang Australia rasanya tidak mempraktikkannya dengan gaya yang sama dengan kita. Sebab tidak ada keributan sama sekali sebelum muncul "Things happen". Kalaulah mereka ribut, itu akan dilakukan pada fase pencegahan, alias sebelum suatu peristiwa buruk terjadi.

Selain kasus kunci ketinggalan, beberapa kali saya berjumpa dengan "Things happen" lainnya. Misalnya saat sudah berganti pekerjaan menjadi kurir dan saya keliru alamat waktu mengirim barang, juga saat saya terlambat tiba di tempat kerja. Namun yang paling mewakili semuanya dalam manifestasi yang sempurna adalah kejadian-kejadian di jalan raya.

Orang Australia sangat memuja ketertiban dan keselamatan. Ketika peraturan dilanggar, mereka murka dengan gaya yang seringkali terlalu lebay untuk ukuran masyarakat Indonesia. Yang paling sering saya jumpai (dan kebanyakan saya sendiri pelakunya), adalah ketika peraturan lalu-lintas dilanggar. Misalnya saat kita berjalan terlalu pelan di lajur kanan, padahal lajur tersebut semestinya digunakan untuk menyalip.

Kadang tak cukup mereka mengingatkan dengan berkata, "Mas, pindah kiri, Mas...." atau semacamnya. Sangat sering mereka menoleh dengan pasang tampang penuh amarah, bahkan bukan sekali-dua kali saya dikirimi salam jari tengah cuma agar saya geser pindah ke kiri.

Itu baru tentang berjalan terlalu pelan di jalur cepat. Yang lebih parah lagi adalah ketika kita memotong jalan agak mepet ke kendaraan di belakang. Saya tahu cara begitu memang membuat kendaraan di belakang kita jadi terpaksa mengerem. Namun meski mengeremnya tidak harus mendadak pun, mereka akan menyalip, mengirim jari tengah, sambil kadang berteriak "Stupid driver!" Tak jarang, dibonusi pula dengan "F**k you!"

Hahaha. Lebay kan?

Hebatnya, sikap berlebihan semacam itu justru sangat jarang terlihat manakala kecelakaan sudah terjadi. Jika potensi kecelakaan dimunculkan, yaitu dengan pelanggaran-pelanggaran peraturan, mereka memang akan sangat marah. Namun begitu kecelakaan terjadi, mereka akan berhenti, saling memastikan bahwa semua selamat, tapi tak ada suara mencak-mencak. Segala urusan mereka serahkan ke pihak asuransi, untuk membereskan perbaikan kendaraan.

Bahkan setahu saya polisi pun tidak ikut-ikutan, jika tak ada korban jiwa maupun korban luka. Selama bisa diselesaikan sendiri, tak akan ada sanksi dijatuhkan. Ini mirip yang terjadi ketika mobil saya ditabrak seorang mahasiswa bernama Eric. Dia jelas melanggar lampu merah, lalu menabrak saya. Ketika saya membuat laporan ke kantor polisi (sebagai syarat asuransi) termasuk melaporkan pelanggaran lampu merah oleh Eric, polisi tidak mengambil tindakan apa-apa atas kesalahannya.

Padahal, andai ada polisi melihat orang melanggar lampu merah (yang tidak mengakibatkan kecelakaan apa pun), sudah pasti dia akan dicokok dan ditimpuki dengan denda ratusan dolar.

Apa yang bisa kita lihat dari sini? Benar sekali: things happen. Sebelum kejadian, orang Australia akan ribut seribut-ributnya. Namun begitu peristiwa buruk terpaksa terjadi, yang disajikan adalah "Yang sudah ya sudah. Mari kita berfokus pada apa yang mesti kita tempuh selanjutnya."

Pernah suatu kali saya coba mempraktikkan ajian Things Happen itu. Suatu siang, saat masih jadi sopir truk dua tahun lalu, seorang anak muda ceroboh memotong jalan saya, dan menghantam moncong truk saya dengan mobil 4WD-nya. Bruakkk! Remuklah wajah ganteng truk saya.

Untunglah saya sendiri selamat, dan kami semua turun untuk memastikan semua orang selamat. Si ABG yang menabrak saya mendekat meminta maaf. Segera, dengan wajah bijak penuh keteduhan saya pun menjawabnya, "That's allright. Things happen...."

Saya tahu, juragan saya akan segera pusing melihat truknya yang penyok. Namun ketika saya bisa mengucapkan "Things happen" dengan sepenuh penghayatan, saya merasa... ehem, bahagia. Hidup tiba-tiba terasa enak, tenang, dan bumi yang kadang-kadang datar ini pun jadi terasa sangat lapang.

Begitulah. Mungkin cerita ini tidak ada penting-pentingnya buat Anda. Tapi cobalah besok sore dipraktikkan bersama-sama.

Buat Anda yang jagoannya kalah di Pilkada DKI, yang kemarin ricuh habis-habisan selama berbulan-bulan, jurus Things Happen ini layak diterapkan. Kemarin-kemarin berantemnya sudah begitu mengerikan, bukan? Jauh lebih dahsyat dibanding Pilpres 2014. Nah, rasanya itu cukup. Setelah nanti keluar siapa pemenang Pilkada-nya, percayalah, tak ada gunanya jika keributan terus menerus dilestarikan.

Untuk itu, mari bersama saya melatih mantera ini. Barangkali dengan begini, kita bisa meniru bagaimana masyarakat Australia menjaga kohesi sosialnya. Sekarang ucapkan 70 kali, agar besok kita bisa lebih kuat menata hati: "Things happen. Things happen. Things happen. Things happen...."