Kamis, 27 April 2017

Guru dan Kemampuan Persuasif-Inspiratif

Guru dan Kemampuan Persuasif-Inspiratif
Ahmad Baedowi  ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                              MEDIA INDONESIA, 25 April 2017


                                                                                                                                                           

ADA statement menarik dari Deborah Tannen dalam The Power of Talk: Who Gets Heard and Why (Harvard Business School: 2013), bahwa kemampuan persuasif seseorang termasuk guru ialah dari bagaimana dia memiliki kemampuan berbicara. Guru laki-laki cenderung melakukan komunikasi verbal tegas dan gamang, sesekali dipenuhi keraguan. Akan tetapi, rata-rata guru perempuan selalu menjaga perasaan lawan bicaranya dan bahkan terkesan menutupi kebenaran. Di atas semuanya, jika proses psikologis komunikasi semacam ini terus dipertahankan, para siswa akan merespons negatif dan cenderung melemahkan proses belajar-mengajar. Melihat bagaimana para guru berinteraksi dalam keseharian para murid, secara linguistik kecenderungan guru lelaki dan perempuan memang berbeda. Guru laki-laki lebih sering mengedapankan kata ‘Saya’ sebagai titik persuasif ke siswa, sedangkan guru perempuan lebih banyak menggunakan kata ‘Kita’ sebagai bentuk perlindungan psikologis demi menjaga lawan bicara, termasuk para siswanya. Penelitian yang dilakukan Deborah Tannen tersebut menyiratkan pentingnya penggunaan kata secara proporsional jika bangunan komunikasi siswa dan guru di ruang belajar akan berlangsung menyenangkan. Memahami konteks psikologis anak, termasuk lingkungan suasana belajar-mengajar menjadi penting memilih kata yang ingin digunakan.

Menjadi inspiratif

Dengan melihat kemampuan persuasif guru melalui komunikasi juga dapat menarik jika kita mengingat dan bertanya, lebih banyak guru jenis mana ketika kita bersekolah dulu. Guru berjenis myopic yang berorientasi text-book dan kurikulum, atau guru yang memiliki kemampuan membagi inspirasi? Jawabannya saya yakin lebih dari 90% guru kita berjenis myopic, yakni mereka hanya mampu melihat hal-hal yang bersifat kekinian, tetapi tak memiliki kemampuan melihat jauh ke depan. Seperti politisi, guru kita kebanyakan kurang memiliki inisiatif yang inspiratif. Namun, tidak demikian dengan Pak Sarmili, guru olahraga saya ketika SD dulu. Perawakannya yang tinggi besar, berbadan tegap, dan sorot mata yang lembut merupakan ciri khasnya. Saya merindukan banyak sekali guru seperti Pak Sarmili yang sangat inspiratif dalam mengajar. Salah satu peristiwa yang hingga saat ini tetap menginspirasi saya ialah melihat secara benar bakat dan juga kelemahan siswa. Pada 1970-an, jauh sebelum Howard Gardner memperkenalkan teori multitalenta anak, Pak Sarmili telah mendahuluinya. Meski mengajar olahraga, tak serta-merta memaknai olahraga hanya sebagai berlari mengelilingi lapangan, bermain bola, dan bermain kasti.

Beberapa anak yang kurang berbakat dalam berolahraga, baik karena masalah kesehatan maupun minat, selalu diperlakukan dan dinilai sama. Saya misalnya, karena seringnya sakit, dibebaskan dari tugas mengikuti senam, berlari mengelilingi lapangan, atau bermain bola. Namun, di luar jam mengajar, Pak Sarmili sering menyuruh saya menyiram bunga matahari di halaman sekolah dengan teko. Siswa lain yang kurang berminat dengan olahraga, tetap diberi perhatian sama karena Pak Sarmili selalu memberi tugas khusus kepada para siswanya dengan prinsip yang penting si anak bergerak secara fisik. Apakah itu bermain kelereng atau layang-layang, semuanya punya nilai olahraga. Kebaikan hati dan murah senyumnya membuat Pak Sarmili dirindukan dan dicintai setiap siswanya, selain memang tak pernah marah. Bagi Pak Sarmili, kurikulum tak harus kaku dimaknai, tetapi bagaimana bisa memberi manfaat bagi masa depan anak-didiknya kelak.

Kebanyakan guru saat ini mewakili tipologi guru kurikulum, tetapi kurang memberi inspirasi karena tak memiliki keberanian mengajak anak-didiknya berpikir kreatif serta melihat sesuatu dari luar, mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama. Guru-guru kita saat ini terperangkap dengan kompetensi semu dan senangnya membangun batas-batas kekuasaan teritorial antara dirinya dengan anak-didik. Perilaku internal jenis ini ialah belenggu yang disebut sebagai destructive habits. Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar hal-hal kecil yang tidak dimiliki. Namun, tak bisa melihat jauh ke depan tentang harapan anak-didik mereka secara manusiawi. Dalam dunia yang sangat hedonis dan serbakebendaan ini, faktor keikhlasan terasa tak bermakna dan benar-benar kehilangan makna. Hampir lebih dari dua dasawarsa ini para guru di Indonesia terlihat seperti tak menjumpai kata ‘ikhlas’ dalam kamus hatinya. Siapa mengajar siapa dan siapa belajar dari siapa menjadi tak jelas karena guru mengajar untuk bekerja dan pemenuhan kurikulum, bukan untuk masa depan anak-anak. Karena itu, sudah saatnya para guru memiliki kepekaan yang kuat dan memberi penekanan yang terus-menerus terhadap proses pembalajaran yang sangat kontekstual.

Teori pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik bila yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Guru yang inspiratif jelas harus memiliki akar dan pemahaman hebat tentang gambaran proses belajar-mengajar secara autentik, berbasis inkuiri, menyelisik suatu masalah dengan mencoba memberi solusi, mengajarkan fungsi-fungsi pelayanan dalam masyarakat, serta memperkenalkan siswa dengan strategi pembelajaran berbasis usaha/kerja keras. Dalam teori belajar berbasis pendekatan keragaman kecerdasan, proses pendidikan yang benar harus mampu melihat bakat dan kecerdasan siswa dari aspek yang tidak tunggal, serta menimbang kombinasi antara proses penilaian (assessing process) dan proses pembelajaran (learning process). Dengan kombinasi antara proses assessment dan pembelajaran yang benar, sesungguhnya sekolah dan para guru sedang mencoba untuk tidak memisahkan apa yang sebenarnya terjadi pada diri siswa di luar ruang kelas. Ujian atau tes juga tidak bisa dipisahkan dari jam belajar yang secara keseluruhan sangat tersedia di luar sekolah. Artinya, untuk melihat apakah seorang anak berbakat dan cerdas, kemampuan pedagogis guru dan budaya sekolah yang menghargai keragaman sangat dibutuhkan seorang anak untuk berkembang.

Profesor Antonio Damasio (2006) menyebutkan, hari ini sistem pendidikan hampir di seluruh belahan dunia tumbuh pembedaan sangat signifikan antara proses pembelajaran berorientasi kognitif dan emosional. Menyelami empati dan rasa tak memperoleh porsi jelas dalam struktur kurikulum sehingga anak-anak cenderung dididik menjadi semacam robot yang minim rasa. Dalam pandangan Damasio, seharusnya pendidikan seni budaya dan humaniora diseimbangkan jumlah durasi dan substansinya untuk dan dalam rangka menumbuhkan elan vital kemanusiaan manusia, yaitu emosi dan spiritualitas yang menyatu dalam pikir dan perilaku. Selain itu, jarangnya guru inspiratif menurut Linda Darling-Hammond dalam Powerful Learning: What We Know about Teaching for Understanding (2008) dengan jelas menggambarkan bahwa sekolah masih berorientasi pada hasil tes/ujian. Proses belajar semacam ini tentu saja akan menjadikan anak didik cenderung menjadi objek belajar yang pasif dan belajar secara tidak mendalam sehingga bakat dan kecerdasan anak tidak tergali secara baik. Pendekatan ini juga cenderung menjadikan siswa sebagai alat penghafal rumus dan teori serta mengesampingkan proses atau latihan analisis dan penalaran yang lebih alamiah serta bersandar pada kebutuhan seorang anak. ●