Jumat, 28 April 2017

Horor Baru sesudah Pilkada Jakarta

Horor Baru sesudah Pilkada Jakarta
AS Laksana  ;  Cerpenis dan Esais, tinggal di Jakarta
                                                       JAWA POS, 24 April 2017



                                                           
Pada Rabu malam, sesudah pencoblosan dalam Pilkada DKI Jakarta, beberapa teman mengirimkan pesan, sebagian sebagai kelakar, yang menyatakan perasaan lega. Salah satu bunyi pesan itu: ’’Syukur alhamdulillah! Ternyata pilkada bisa rampung juga. Saya kira akan ada terus sampai kiamat.’’

Pilkada DKI memang terasa seperti cerita horor yang dimainkan oleh hampir semua orang. Tepatnya, ia seperti film horor lawas yang penyelesaiannya selalu melibatkan simbol-simbol agama. Saya hanya tahan menontonnya setengah babak dan memutuskan keluar dari arena pertunjukan –keluar dari keruwetan di media sosial– dan sengaja tidak ingin mendengar apa-apa tentang itu.

Besoknya beberapa teman mengirimkan potongan gambar koran Utusan, Malaysia, yang menulis berita dengan judul besar: Ahok Tewas di Tangan Anies. Saya menanggapinya, ’’Mari kita lapor ke polsek terdekat.’’ Media itu menyebutkan bahwa pilihan raya gabernor Jakarta ini disifatkan lancar, tapi ’’paling kotor’’. Itu berarti sebuah kelancaran yang tidak berguna.

Rencananya, pengumuman resmi KPU disampaikan Mei nanti. Tetapi, hitung cepat oleh berbagai lembaga memperlihatkan kekalahan pasangan petahana Ahok-Djarot. Dan, Anies Baswedan juga sudah menyampaikan pidato normatif bahwa ini adalah kemenangan untuk semua warga Jakarta, mari bersatu kembali, mewujudkan Jakarta yang baik untuk semua. Saya ingat Donald Trump, setelah kampanyenya yang brutal dan memecah belah, juga menyampaikan pidato serupa: saatnya bersatu kembali.

Dalam bayangan saya, tidak akan ada lagi sebutan munafik bagi orang-orang Islam yang telanjur memilih mendukung kandidat nonmuslim. Tetapi, saya tidak bisa membayangkan apakah jenazah orang Islam pendukung Ahok akan disalati di musala atau tidak. Dalam masa kampanye, pernah ada ancaman melalui ceramah dan bentangan spanduk bahwa orang Islam yang mendukung Ahok tidak akan disalati di musala saat dia kelak meninggal.

Ada masalah serius berkaitan dengan hal itu. Jika ancaman tidak dijalankan, itu berarti agama hanya dijadikan alat gertak sambal, hanya alat untuk melakukan intimidasi. Setelah tujuan tercapai, agama disimpan lagi di gudang dan baru akan digunakan lagi nanti ketika politik membutuhkan orasi-orasi dan pengerahan massa atas nama agama.

Saya pikir, memperlakukan agama sebagai perkakas politik bukanlah contoh terpuji. Tetapi, begitulah, para politikus adalah spesies yang sanggup memperalat apa saja demi memburu sesuatu yang mereka maui, ialah kekuasaan.

Sebaliknya, jika ancaman dijalankan –karena kita dididik untuk meyakini bahwa harga diri setiap orang terletak pada mulut yang bisa dipercaya–, itu akan membuat masyarakat tetap terkoyak. Tetapi, saya ingin menyampaikan kepada yang sudah meninggal bahwa disalati di musala atau tidak, itu bukan urusan mereka. Menyalati jenazah adalah urusan orang-orang yang masih hidup. Jenazah tidak berurusan dengan itu.

Sekarang, apakah kepala benar-benar bisa tenteram setelah pilkada? Tidak. Kita memasuki cerita berikutnya, yaitu kisah spionase tentang rencana makar terhadap pemerintahan Jokowi. Allan Nairn, wartawan investigasi Amerika Serikat, menulis bahwa Ahok hanyalah sasaran antara dan sekarang sasaran antara itu sudah ’’tewas di tangan Anies’’. Sasaran utamanya adalah Jokowi.

Cerita tersebut, diakui oleh Allan, disusun selama setahun dengan mewawancarai ’’puluhan’’ narasumber. Di antaranya, Kivlan Zen, Usamah Hisyam (penulis biografi SBY Sang Demokrat), dan mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) Soleman B. Ponto. Dia juga melengkapi data dengan dokumen-dokumen dari internal tentara, kepolisian, intelijen, dan arsip Badan Keamanan Nasional AS yang dibocorkan Edward Snowden.

Kivlan Zen, salah seorang narasumber utama, mengembangkan cerita tentang kemungkinan terjadinya ’’peristiwa 1965’’ jilid kedua. Jika Jokowi meminta maaf kepada PKI, katanya, peristiwa 1965 akan terjadi lagi. Jika tidak meminta maaf, pemerintahannya mungkin selamat, tetapi bisa juga jatuh.

Itu imajinasi yang sangat buruk yang berasal dari ketidaksanggupan pemerintah negara ini membereskan masalah-masalah pada masa lalu. Peristiwa 1965 tetap menjadi trauma yang tidak pernah ada penyelesaiannya hingga sekarang, menjadi penyakit yang tak tersembuhkan, dan PKI tetap dijadikan memedi sawah untuk menakuti burung-burung.

Kivlan, yang menjelang pemilihan presiden 2009 pernah mengubah namanya menjadi Sutiyogo demi menepatkan diri dengan notonagoro dalam ramalan Jayabaya, adalah orang yang senang mengembangkan khayalan tentang memedi sawah itu. Dalam sebuah acara di Solo, 2016, dia menyampaikan, ’’Tahun 2017 mereka akan memproklamirkan Republik Cina-Indonesia, saya punya intelijen di sana.’’

Markas Besar TNI telah membuat sangkalan terhadap laporan Allan Nairn yang diterbitkan di situs The Intercept dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atas izin Allan oleh media online Tirto.id, dan menyatakan itu sebagai hoax. Itu reaksi yang mudah ditebak. Namun, di luar urusan benar atau tidak, saya sudah menjadi agak kebal menghadapi cerita-cerita seperti itu.

Dari dulu kita tidak pernah kekurangan cerita horor. Yang kita sangat kekurangan adalah pikiran-pikiran besar yang bisa membawa negara dan bangsa ini terbang setinggi yang sanggup dijangkau oleh imajinasi yang baik.