Jumat, 21 April 2017

Akhirnya Pesta Usai

Akhirnya Pesta Usai
M Subhan SD  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                        KOMPAS, 20 April 2017


                                                                                                                                                           

Saat pencoblosan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, Rabu (19/4) kemarin, tiba-tiba teringat potongan pepatah Jawa yang sering dilontarkan Presiden Soeharto: ngelurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Kira-kira artinya "menyerbu tanpa bala tentara, menang tanpa merasa ada yang dikalahkan". Pepatah ini terasa relevan saat Pilkada DKI Jakarta berlangsung begitu sengit, sampai mendidihkan suhu politik berbulan-bulan.

Meskipun tahun 2017 ini pilkada serentak digelar di 101 daerah pada Februari lalu, nyatanya cuma pesta demokrasi lokal ibu kota negara ini yang semirip pesta demokrasi tingkat nasional. Kegaduhannya makin bertambah panjang setelah dalam putaran pertama tak ada pasangan calon yang meraih 50 persen plus 1 suara. Pasangan Agus Harimurti-Sylviana Murni terhenti di putaran pertama. Lalu, pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno lanjut bertarung di putaran kedua.

Dengan demikian, suhu panas politik makin lama. Apalagi Pilkada DKI Jakarta benar-benar jadi magnet. Tidak hanya milik orang Jakarta, warga seantero negeri pun ikut latah mengurusi. Kemarin sampai ada guyonan bikin ngakak yang beredar di grup Whatsapp (WA): "Pilkada DKI pilkada paling menjengkelkan, hebohnya sampai seluruh Indonesia, ehhh giliran libur cuma DKI doang... Terlalu!" diikuti emoticon "menangis".

Pilkada DKI Jakarta memang serasa pemilihan presiden (pilpres). Pertarungan sangat sengit, terutama semenjak kasus dugaan penodaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada September 2016. Rivalitas dua kubu pun mengerahkan segala kekuatan, mirip taktik total football tim sepak bola Belanda di zaman pelatih Rinus Michels saat Piala Dunia 1974 di Jerman.

Kalau ditilik dari sisi kegairahan berpolitik, Pilkada DKI Jakarta ini mampu membangkitkan "partisipasi" masyarakat. Bukan cuma gawean para politikus atau kelompok elite di tingkat suprastruktur. Bahkan menjadi gerakan massa luar biasa, yang menuntut penuntasan kasus Basuki. Namun, partisipasi itu lebih didominasi sentimen primordial.

Memang, sejak era otonomi daerah, sentimen primordial subur pada setiap pilkada. Rata-rata berteriak "putra daerah". Di beberapa daerah pasca konflik hampir selalu ada kombinasi agama atau etnik di setiap pasangan calon. Namun, tidak sesengit rivalitas di Jakarta.

Seperti pesta, pertarungan pilkada juga ada akhirnya. Kemarin tenda telah dibongkar. Tiada lagi kemeriahan, apalagi kegaduhan. Tiada lagi provokasi atau agitasi, apalagi intimidasi. Dan, semoga tidak menjadi try out untuk Pilpres 2019, atau mengulangi Pilpres 2014.

Harus dicamkan pekerjaan pemimpin baru mengurus Jakarta sudah di depan mata, termasuk merangkai kembali kohesi sosial dan merawat tenunan kebangsaan yang beragam.

Dan, dalam setiap pertarungan, menang-kalah adalah hal lumrah walaupun terkadang meninggalkan luka. Meskipun masih menunggu hasil final dari KPU DKI Jakarta, hasil hitung cepat oleh sejumlah lembaga survei menunjukkan perolehan suara Anies-Sandiaga unggul cukup tinggi ketimbang pasangan Basuki-Djarot. Dua pasangan itu memperlihatkan jiwa besar dalam berdemokrasi. Basuki-Djarot terlihat legawa. Anies-Sandiaga juga tidak jemawa.

Kemarin, pesta telah usai. Saatnya membangun Jakarta, menyatukan kembali warganya.