Minggu, 10 Februari 2013

Imlek 2564, Persaudaraan dan Kepedulian


Imlek 2564, Persaudaraan dan Kepedulian
Tom Saptaatmaja ;   Alumnus Seminari St Vincent de Paul dan Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang (1992, Aktif di berbagai forum Tionghoa
SINAR HARAPAN, 09 Februari 2013


Imlek kembali tiba. Tahunnya menunjukkan angka 2564, yang dihitung sejak kelahiran Confusius pada 551 Sebelum Masehi. Dengan demikian, angka 2564 merupakan penjumlahan angka 551 dan 2013. Mulai Minggu (10/2), kalander China memasuki Tahun Ular Air  yang punya pesan utama agar kita cerdik dan senantiasa waspada dalam menyikapai setiap keadaan, sekaligus tetap peduli pada  apa yang ada di sekitar kita.

Seperti diketahui, perhitungan penanggalan Imlek semula didasarkan atas peredaran bulan mengelilingi bumi (lunar calendar), dan telah dikenal sejak ribuan tahun sebelum Masehi. 

Perayaan satu ini tidak lagi memopoli masyarakat di negeri China saja. Tapi perayaan ini sudah menjadi fenomena global, karena juga dirayakan oleh masayarakat China di berbagai kawasan dan negeri berbeda, seperti Hong Kong, Korea, Malaysia, Mongolia, Singapura, Taiwan, Thailand, Vietnam, Australia, dan Indonesia.

Hari Persaudaraan
Biasanya kalau kita cermati, aktivitas yang menonjol selama Imlek adalah atraksi barongsai, tarian naga, dan makanan kue keranjang. Namun, kalau kita mau mencermatinya lebih dalam, sebenarnya perayaan Imlek juga sarat dengan aspek religius dan sosial. Ini bisa kita lihat dalam berbagai kegiatan yang berlangsung selama 21 hari yang berlangsung sebelum, selama, dan sesudah Imlek. Tidak hanya terbatas pada acara suka ria dan pesta, melainkan juga diperkaya dengan aneka kegiatan sosial. 

Seminggu sebelum awal Tahun Baru Imlek, misalnya setiap orang yang mendapatkan rezeki berlimpah dari Sang Khalik wajib mengulurkan tangan, membantu sesamanya yang membutuhkan. Bagi masyarakat China atau Tionghoa, seminggu sebelum Imlek secara tradisional juga diperingati sebagai “Hari Persaudaraan”. Momen inilah yang rasanya perlu mendapat perhatian dalam perayaan Imlek kali ini, khususnya dalam konteks negeri kita hari-hari ini.

Kalau kita tilik sejarah, sudah sejak lama warga keturunan berada di negeri ini. Data sejarah menunjukkan, migrasi besar-besaran orang China ke negeri ini konon sudah mulai sejak abad 13 sampai 20. Runtuhnya Dinasti Song ke tangan penguasa Mongol pada abad 13 Masehi bersamaan dengan pelayaran sekitar 10.000 utusan resmi Dinasti Song ke Nusantara (tepatnya Jawa). Namun mendengar Dinasti Song jatuh, para utusan itu pun menetap di Jawa. Sejarah kemudian memang bisa mencatat dengan tinta emas tentang sumbangan dan peranan masyarakat Tionghoa, khususnya dalam bidang pertanian, kuliner, dan gaya hidup. 

Tetapi sejarah juga bisa menyaksikan kekejaman dan kepahitan yang dialami warga keturunan, seperti dalam Tragedi Mei 1998 yang sampai saat ini masih belum diketahui siapa pelakunya, sementara para korban masih mengingat kejadian itu dengan perasaan traumatis. Perasaan seperti ini jika dituruti rasanya memang bisa menjadi kendala untuk membangun persaudaraan yang jujur di antara sesama warga bangsa yang beragam etnis. Tragedi Mei semoga tidak akan terulang. Tragedi itu memang menjadi penutup bagi berakhirnya rezim otoriter, yang pernah memasung kehidupan sosial polititk etnis Tionghoa lewat beragam aturan, seperti regulasi soal pergantian  nama (1961), ditutupnya sekolah-sekolah berbahasa pengantar Mandarin (1966), kehidupan masyarakat Tionghoa juga diawasi dengan keluarnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang larangan agama, kepercayaan dan adat istiadat, termasuk larangan Imlek.

Kini etnis Tionghoa di Tanah Air kian menyatu dengan mainstream dan banyak terlibat dalam kehidupan, termasuk politik. Ada yang jadi menteri, kepala daerah, anggota DPR/DPRD, dan sebagainya. Padahal dunia politik ini, semula amat dijauhi, apalagi selama Orba, kita sudah membaca di atas ada begitu banyak aturan yang memasung etnis Tionghoa.

Kepedulian Setiap Hari
Dalam konteks Indonesia terkini, pesan persaudaraan Imlek itu menemukan relevansinya ketika masih ditemukan fakta bahwa masih ada sekitar 110 juta warga negeri ini hidup dalam kemiskinan (menurut versi Bank Dunia, miskin berarti hidup kurang dari US$ 2 atau Rp 19.00 per hari).

Segenap etnis Tionghoa yang kebetulan dianugerahi kekayaan materi tentu tidak boleh membutakan nurani melihat fakta mengenaskan ini. Kita jangan lagi berpolemik soal kemiskinan dari menara gading atau malah mereduksi orang-orang miskin di dalam angka, sementara setiap hari orang-orang miskin butuh makanan cukup di tengah kian melambungnya harga kebutuhan pokok yang kian mencekik.

Fakta masih adanya orang miskin tentu bukan kesalahan orang kaya, tetapi lebih karena ketidakbecusan pemerintah. Namun mari kita segenap etnis Tionghoa yang kaya tidak hanya “nyinyir” lantang mengkritik pemerintah yang para elitenya sibuk memperkaya diri. Namun mari dengan langkah nyata, kita ikut terjun dalam pengentasan kemiskinan, entah lewat pembukaan lapangan kerja, pemberian upah yang layak bagi mereka yang bekerja di perusahaan kita, atau menyekolahkan anak-anak orang miskin dengan menyediakan beasiswa atau langsung mendidik mereka seperti dilakukan Profesor Yohanes Surya yang mendidik anak-anak miskin Papua. Langkah nyata seperti itu jelas bentuk kepedulian yang lebih bermakna daripada berpolemik tentang isu politik tertentu.

Namun seiring Imlek, tidak berarti kepedulian atau tindakan saling membantu ini hanya berlangsung selama satu hari saja. Singkatnya, hanya memberi angpau “recehan” seolah sudah cukup. Kata-kata Confucius di awal tulisan ini kiranya bisa menjadi daya dorong agar kita tidak lelah untuk terus peduli pada yang lemah. Diingatkan pula oleh Confucius bahwa di dalam upaya untuk saling tolong-menolong itu, seyogianya kita tidak melihatnya secara tersekat-sekat, terkotak-kotak, karena pada hakikatnya menurut tokoh yang juga disebut dengan Kong Hu Cu itu, di empat penjuru samudera, semua manusia sesungguhnya bersaudara. Gong Xi Fa Cai 2564. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar