Jumat, 09 Juni 2017

Puasa, Kebhinekaan, dan Janji Persatuan

Puasa, Kebhinekaan, dan Janji Persatuan
Al-Mahfud ;  Penulis; Bergiat di Paradigma Institute (Parist) Kudus
                                                     DETIKNEWS, 08 Juni 2017



                                                           
Ramadan menjadi momentum untuk melakukan refleksi dan evaluasi. Ramadan tak sekadar tentang rutinitas menahan lapar dan dahaga sepanjang hari selama sebulan penuh. Sebab, sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, puasa semacam itu masih sekadar level awam.

Untuk bisa melangkah ke level selanjutnya, yakni puasa khusus atau bahkan puasa yang istimewa, kita juga harus mampu menahan pendengaran, lisan, penglihatan, dan pelbagai indera dari segala dosa, bahkan sampai menjaga hati dan pikiran dari segala sesuatu selain Allah.

Jika kita meresapi level puasa khusus tersebut, maka bulan Ramadan mestinya bisa kita jadikan sebagai momentum memperbaiki diri dari segala kesalahan yang sudah kita lakukan. Kesalahan-kesalahan seperti menggunakan lisan untuk menghujat orang lain yang berbeda pandangan, tangan atau jari yang selama ini sering kita gunakan untuk menyebarkan kabar-kabar palsu (hoax) di media sosial, serta segala bentuk kebencian terhadap suatu kelompok yang sebenarnya saudara sebangsa kita sendiri.

Segala hal negatif yang belakangan memantik pertikaian sudah semestinya diakhiri. Artinya, dalam konteks kehidupan berbangsa, Ramadan harus bisa memperkuat kembali semangat persatuan bangsa.

Seperti kita saksikan, belakangan masyarakat dilanda perselisihan akibat perbedaan yang terus diruncingkan. Kita melihat betapa mudahnya orang saling hujat dan saling menyerang saudaranya sendiri akibat perbedaan pandangan. Terlebih, ditambah maraknya hoax yang ditebarkan pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Berita hoax ibarat minyak yang terus diguyurkan dan mengobarkan amarah dan benci di tengah masyarakat yang sedang berselisih, sehingga menciptakan pertikaian, terutama di ruang maya.

Setelah beberapa bulan belakangan kita hanyut dalam kemelut pertikaian tersebut, kini di bulan suci Ramadan mestinya bisa kita jadikan sebagai ajang untuk evaluasi diri. Kita mesti belajar menahan nafsu dan keinginan menyerang orang atau kelompok yang berbeda dengan kita.

Kita mesti belajar menghindari pertikaian yang sama sekali tidak produktif, yang hanya menimbulkan suasana sosial yang tak harmonis, bahkan memicu perpecahan bangsa. Pendeknya, kita mesti kembali belajar tentang nilai-nilai persatuan bangsa.

Kebhinekaan

Untuk mendalami nilai-nilai persatuan, penting untuk kembali meresapi kebhinnekaan yang sudah menjadi karakter bangsa. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, ras, etnis, maupun agama yang berbeda-beda. Bahkan dalam sejarahnya, sebelum bangsa ini berdiri, atau di masa kerajaan, masyarakat yang mendiami wilayah Nusantara sudah terdiri dari beragam suku, ras, agama, dan budaya yang beragam.

Ketika negara Indonesia berdiri, keragaman tersebut kemudian menjadi keunikan tersendiri yang lain dari bangsa lainnya. Menariknya, masyarakat yang majemuk tersebut hidup rukun, saling menghormati dan menghargai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Keharmonisan tersebut tercipta berkat adanya toleransi yang kuat dalam masyarakat. Kita mampu berdiri kuat sebagai sebuah bangsa ketika kita bisa bersatu dalam ikatan kebangsaan. Oleh karena itu, kecintaan pada Tanah Air, kesetiaan pada dasar negara Pancasila, keteguhan pada bentuk NKRI merupakan nilai-nilai kebangsaan yang harus selalu ditumbuhkan dalam diri setiap warga negara, sebab itu merupakan faktor yang mengikat keragaman bangsa.

Jika kita kembali memahami makna dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika, kita akan menyadari bahwa semboyan tersebut tak semata bermuatan semangat menjaga kebhinnekaan, namun juga harus menggalang persatuan. Bhinneka Tunggal Ika merupakan kutipan bahasa Sansekerta yang berasal dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Jika diterjemahkan per patah kata, bhinneka berarti "beraneka ragam" atau berbeda-beda. Kemudian kata tunggal berarti "satu", dan ika berarti "itu".

Jadi secara harfiah, Bhinneka Tunggal Ika berarti "Beraneka Satu Itu", atau jika dijabarkan berarti meskipun berbeda-beda, tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan .

Kembali lagi, pemaknaan tersebut pada akhirnya menyadarkan kita bahwa di samping menjaga kebhinekaan, di saat yang sama kita memiliki tugas mengupayakan, menanamkan, dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab sudah jauh-jauh hari bangsa ini telah dicita-citakan para pendiri bangsa agar mampu hidup berdampingan dalam perbedaan, namun memiliki rasa kebangsaan yang sama, yang satu, yakni Indonesia.

Untuk mewujudkannya, para pendiri bangsa telah mewariskan landasan negara yang begitu sakral, yang bisa merangkul dan mengakomodasi kepentingan semua elemen bangsa, yakni dasar negara Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut.

Janji

Oleh karena itu, momen bulan Ramadan sudah semestinya menjadi pengingat bagi kita untuk menjaga amanah dari pendiri bangsa tersebut. Umat Islam di Indonesia harus merawat dasar negara Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai warisan yang harus kita jaga bersama.

Seperti dijelaskan Din Syamsudin (2015) dalam tulisannya yang berjudul NKRI: Negara Perjanjian dan Kesaksian, bahwa bagi umat Islam, komitmen terhadap negara Pancasila dapat dijadikan sebagai sikap keagamaan, yakni sikap menepati janji dan amanat dari para pendiri bangsa. Kita tahu, dalam Islam, menepati janji merupakan suatu keharusan. Bahkan, dalam salah satu hadits disebutkan bahwa ketika seseorang berjanji dan tidak menepatinya (ingkar), itu termasuk tanda orang munafik.

Komitmen menepati janji untuk bersatu dalam bingkai Negara Pancasila tersebut kemudian dapat diejawantahkan lewat sikap-sikap yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Sikap yang dilandasi semangat saling menghormati dan menghargai saudara sebangsa. Sampai di sini, kita semakin tersadar bahwa segala bentuk sikap intoleran dan pelbagai sikap yang memantik perpecahan bangsa yang terjadi belakangan ini sudah saatnya untuk segera diakhiri.

Bulan Ramadan harus menjadi penerang bagi kehidupan berbangsa kita yang sebelumya berkemelut dalam kegelapan karena pertikaian. Bulan Ramadan harus kita jadikan momentum untuk mengingat kembali janji kita pada Negara Pancasila.

Ingat pesan Bung Hatta tepat 40 tahun lalu saat Pidato Peringatan Lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1977 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta, "Dan camkanlah pula, bahwa Pancasila ini adalah kontrak rakyat Indonesia seluruhnya untuk menjaga persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa. Angkatan muda sekarang tidak boleh melupakan ini dan mengabaikannya!"

Akhirnya, bulan Ramadan harus menjadi saat bagi kita, terutama umat Muslim untuk berkontemplasi, merenungkan sejarah berdirinya bangsa yang tak lepas dari konteks kemajemukannya, agar kita dapat mengesampingkan segala bentuk nafsu dan sikap yang menggambarkan egoisme dan eksklusivisme yang bisa merusak hubungan harmonis dengan saudara kita yang lain.