Jumat, 09 Juni 2017

Belajar Toleransi dari Rumah Sakit

Belajar Toleransi dari Rumah Sakit
Sidik Nugroho ;  Penulis Lepas dan Penikmat Film
                                                     DETIKNEWS, 08 Juni 2017



                                                           
April dan Mei lalu adalah bulan yang tak terlupakan. Pada bulan April, selama delapan hari saya berada di rumah sakit, menginap tiap malam, menjaga adik yang mengalami sakit gangguan pencernaan. Pada bulan Mei, selama lima hari saya kembali ke rumah sakit yang sama, bertugas malam menjaga bapak yang mengalami sakit komplikasi.

Pada dua kesempatan itu kebetulan saya menjaga adik dan bapak saya di kelas yang sama, yaitu kelas dua yang satu kamarnya bisa diisi dua orang. Pada saat adik saya dirawat, ada pasien lain yang dirawat juga di kamar yang sama sejak beberapa hari sebelumnya. Pasien itu berasal dari Pengkang, sekitar dua puluh kilometer dari Pontianak. Bicaranya pelan, suka tersenyum.

Pada saat bapak saya dirawat, ada dua pasien lain yang sekamar. Dua-duanya berasal dari Pontianak. Pasien pertama hanya sehari, pasien kedua masuk pada hari ketiga ayah saya dirawat dan masih dirawat setelah bapak saya pulang dari sana.

Pada waktu-waktu itu—bahkan sampai sekarang—media sosial cukup 'ramai'. Aksi demonstrasi menyalakan lilin, membela ulama, sebutan 'kafir' dan 'pribumi', sering kali muncul di kronologi media sosial. Ketika menyimak berbagai kiriman teman dari ponsel, di kamar rumah sakit, tak jarang saya merasa hidup di dua dunia yang berbeda.

Yang tak terlupakan adalah percakapan saya dengan pasien-pasien itu—juga keluarga mereka—tentang kenyamanan tidur dan beristirahat: lampu utama kami sepakati untuk dimatikan ketika tidur, hanya lampu dekat tempat mencuci tangan yang menyala; pintu kamar mandi dan pintu kamar akan selalu ditutup. Tak jarang, kami berbicara berbisik-bisik. Tujuannya jelas, agar pasien lain di kamar yang sama tidak terganggu.

Para pasien dan keluarganya yang tidak saling kenal sebelumnya, kemudian berkenalan di rumah sakit, didorong oleh niat yang sama mendapatkan kesembuhan, secara otomatis mengembangkan toleransi. Apakah manusia memang lebih mudah bersikap toleran ketika tak berdaya, atau—kalau melihat dari perspektif keluarga pasien—dihadapkan pada ketidakberdayaan? Mungkin begitu.

Alih-alih bersikap toleran, saya membayangkan, dua orang yang mungkin tidak saling kenal, sedang tidak sakit, dan berbeda haluan dalam berpolitik, lalu 'bertemu' di media sosial, mungkin akan 'bertengkar'. Saat sehat, tampaknya manusia memang lebih suka memaksakan kehendak, pikiran, atau gagasannya. Lalu lupa, bahwa dengan kesehatan tubuhnya, energi dan waktunya dihabiskan untuk—salah satunya—bertengkar habis-habisan di media sosial.

Ya, saat kita sehat, seberapa sering kita mensyukuri kesehatan itu? Dalam sebuah film yang diangkat dari kisah nyata pernah dikisahkan orang-orang yang sulit sehat seperti sediakala, bahkan bisa dikatakan nyaris 'mati', dan suatu ketika, karena keajaiban, mereka sehat!

Film Awakenings (sutradara Penny Marshall) mengisahkan perjuangan seorang dokter bernama Malcolm Sayer (Robin Williams) dalam menangani pasien gangguan syaraf akut (post-encephalitic). Dalam pekerjaannya dr. Sayer dibantu asisten bernama Eleanor Costello (Julia Kavner) yang setia, bekerja di Chronic Hospital di Bronx.

Penyakit itu membuat orang yang mengalaminya sulit menggerakkan anggota tubuh dan perlu dibantu orang lain bila melakukan berbagai aktivitas. Kebanyakan, mereka yang menderitanya hanya bisa duduk diam di kursi roda. Gejalanya penyakit itu seperti parkinson, namun lebih parah.

Suatu hari di musim panas pada 1969, kejaiban terjadi. Seorang kimiawan datang ke Chronic Hospital, dan di hadapan para dokter di sana ia mempresentasikan tentang kemungkinan kesembuhan penyakit itu dengan pemberian ramuan kimia bernama L-Dopa. Ramuan itu pun dicobakan pada Leonard Lowe (Robert De Niro). Keesokan harinya, setelah L-Dopa diberikan, Leonard sembuh. Ia melakukan apa yang paling suka dilakukannya sejak kecil: menulis namanya, Leonard.

Obat pun diberikan kepada lima belas pasien lainnya, dan keajaiban terjadi: semuanya sembuh. Mereka menumpang bus, berjalan-jalan ke pantai, berdisko dan bernyanyi di sebuah tempat hiburan dengan riang. Itulah ekspresi daya hidup orang-orang yang sebelumnya 'mati' karena sakit yang mereka derita.

Sayangnya, pengaruh L-Dopa hanya berlangsung selama musim panas 1969. Setelah itu mereka semua kembali seperti semula: hanya diam, duduk di atas kursi roda, menatap kosong. Sebelum film berakhir, dr. Sayer menyampaikan pidatonya, berkata, "Jiwa manusia lebih kuat daripada obat mana pun dan itulah yang perlu untuk terus dipelihara."

Saat film berakhir, saya menyadari bahwa orang-orang 'mati' yang 'hidup' kembali itu memilih melakukan apa yang bagi mereka paling asyik, paling menggembirakan, dan paling mereka sukai. Itulah yang diabaikan orang-orang yang hidup sehat, yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk hal-hal yang tak signifikan menunjang kehidupan atau lebih membuat berbahagia. Termasuk saya.

Sampai-sampai, saya pun belajar lagi tentang toleransi di rumah sakit, lalu belajar (lagi) mengutamakan hal-hal yang lebih perlu, mendesak, dan penting. Bahkan toleransi itu sendiri, dari sebuah buku diktat PPKn untuk SMA yang pernah saya gunakan untuk mengajar, artinya kurang lebih "kesediaan untuk membiarkan hal-hal yang berbeda dengan pendapat atau prinsip seseorang dalam masyarakat".

Banyak peristiwa di negeri ini yang sedang dan akan terjadi yang memantik rasa penasaran kita, menggoda kita untuk ikut berpolemik dan berdebat, juga mengajak kita membuktikan mana yang benar dan salah. Kita seakan-akan ditantang untuk turut menjadi pakar dalam berbagai persoalan sosial, tapi mengabaikan yang lebih utama dan penting bagi kehidupan sendiri.

Saat itulah kita perlu memilah dan memilih, mana yang perlu kita tanggapi atau abaikan. Mengutip kata-kata dr. Sayer, kita perlu memelihara jiwa kita dengan bersikap selektif dalam menanggapi berbagai isu dan kabar yang beredar.

Toh kita sebenarnya menyadari, tak jarang kita hanya punya 'suara kecil' untuk membuat perubahan dalam hal-hal yang kita amati dan perhatikan. Toleransi, dengan demikian, menolong kita untuk membiarkannya, dan terus melanjutkan perjalanan kehidupan kita.