Sabtu, 24 Juni 2017

Puasa Bicara untuk Kebangsaan Kita

Puasa Bicara untuk Kebangsaan Kita
A Halim Iskandar  ;   Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur
                                                   KORAN SINDO, 19 Juni 2017




                                                           
Akhir-akhir ini begitu banyak statemen negatif, ujaran kebencian mengalir di negeri ini dan begitu masif nilai-nilai kesantunan diabaikan. Padahal bangsa ini membutuhkan opini konstruktif, bukan opini konfrontatif. Ramadan mengajarkan nilai positif. Tidak sekadar nilai menahan lapar, tetapi juga menahan ego, perkataan provokatif, dan nihilisme ibadah. Alquran memberikan pelajaran menarik bagaimana upaya menahan ego dalam situasi seseorang sebenarnya bisa berekspresi. Dalam hal pengendalian diri, ajaran Islam banyak menyejarahkan dalam praktik ritual keseharian.

Lihatlah bagaimana fikih Syafiiah melarang orang berkomentar ketika khotbah Jumat berlangsung, bahkan ketika khatib menyampaikan hal-hal yang tidak disukai; fikih aswaja membatalkan salat seseorang yang berbicara dalam salatnya; serta fikih adab yang mengajarkan larangan berbicara ketika wudu. Quran menggambarkan bagaimana Maryam yang Zahid pun masih perlu dan diperintah Allah melakukan puasa bicara, jenis puasa yang semakin jarang dipraktikkan di negeri ini atas dalih kebebasan berpendapat. Komentar tak cerdas sekalipun begitu mudah terucap, jadi viral di media-media sosial, kemudian memperburuk prasangka sesama.

Inninadhartulirrahmanishaum anfalanukallimalyauminsiyya, sesungguhnya aku telah bernazar puasa bicara untuk Tuhan Yang Maha Pemurah (Maryam: 26).” Ayat tersebut mengaitkan puasa dengan kerahmanan Allah. Artinya ketika kita mengenal makrifat rahman Allah sudah pasti takkan sembarangan berkomentar tanpa melihat efek negatifnya terlebih dulu.

Imam Ghazali sebagaimana dikutip Quraish Shihab (2001) menegaskan bahwa aplikasi sifat rahman Allah bagi seorang muslim akan menumbuhkan nasihat yang lemah lembut, memandang orang bersalah dengan kasih sayang. Nah, puasa kita seharusnya berorien-tasi pada hal ini, orientasi rahman-rahim Allah. Puasa bicara pada dasarnya berada dalam konteks rahmatrahmaniah. Dengan menjaga lidah untuk tidak berkomentar negatif, pada dasarnya seseorang menjaga agar rahmatrahmaniah itu tetap mengalir kepada semua makhluk Allah.

Puasa bicara mencipta kekondusifan, menjamin rahmatan lil alamin tetap terjaga. Singkatnya puasa dalam konteks rahmat-rahmaniah inilah fondasi kebangsaan kita sehingga kebersamaan dalam keragaman terpelihara. Mungkin sebuah ujaran pada mulanya tidaklah kontroversial, tetapi persebarannya di media sosial akan menjadikannya sesuatu yang tidak dimengerti masyarakat umum. Tak ada yang salah pada kuliah doktor tasawuf yang membahas tasawuf falsafi di kelas pascasarjana, tetapi akan menjadi kehebohan manakala terunggah di media sosial dan menjadi bahan penghangat fitnah.

Hal itu terjadi baik karena adanya perbedaan pemahaman antarpembaca/penerima ujaran ataupun disebabkan oleh penyajian ujaran yang dilakukan pihak tertentu dengan maksud tertentu pula. Di sinilah diperlukan kedewasaan banyak pihak dalam memilih dan memilah informasi yang beredar cepat di media, belajar memahami bukan belajar menghakimi. Mari kita jadikan momentum Ramadan ini sebagai momentum puasa bicara nasional atas perkara-perkara tiada guna demi terciptanya kondisi konstruktif, dan keutuhan NKRI.